
...Update: 03.00...
...💗Happy Reading💗...
“Aidan, jangan! Biarkan saja dia pergi.” Qila menahan lengan Aidan yang mau mengejar Bram karena pria itu malah pergi daripada menjawab rentetan pertanyaannya.
“Jangan halangi aku, Qi. Orang seperti itu harus dipastikan dulu. Tatapannya tadi kepada mu, sangat aneh dan mencurigakan,” ucap Aidan.
“Kalau dilarang, sebaiknya nurut. Aku tidak mau kau membuat keributan pagi-pagi di sini, Aidan.” Tetap menyuruhnya untuk mengabaikan Bram. Karena diperingati istrinya, Aidan pun terpaksa melepaskan Bram.
“Ya sudah, karena kau larang, aku mau pergi dulu, kau masuklah ke kelas dan kalau ada orang aneh, laporkan kepada ku cepat, paham?” Aidan memang suami yang baik. Orang baru seperti Bram, sudah masuk ke dalam daftar nama yang perlu diselidiki.
“Hm, iya, tapi kau mau ke mana?” tanya Qila.
“Mau lihat mobil yang aku pakai kemarin. Sekarang aku pergi dulu, kalau ada apa-apa, jangan lupa telepon aku.” Selepas menjawab, Aidan pergi. Tujuannya mau menyuruh orang untuk menyelidiki siapa Bram dan juga menyuruh anak buah Rayden memperbaiki kembali ban mobil itu.
Qila pun masuk ke dalam kelas, lalu duduk. Detik kemudian, Hana tiba di depan kelas. Seperti biasa, saudara kembar cantik itu selalu menjadi pusat perhatian mahasiswa lainnya. Tetapi yang lebih menonjol diantara Hana dan Qila, adalah istri Aidan, karena Hana kalah di bentuk tubuh. Body Qila lebih menggoda daripada saudaranya yang triplek.
“Ck, menjijikan.” Hana mendecak lidah di sebelah Qila. Sudah beberapa tahun berlalu, Hana masih enggan menatap saudara kembarnya itu. “Aku akui kau memang lebih populer sekarang daripada aku, tapi populer mu ini bisa hilang kapan saja jika aku mau. Dengan membongkar aib mu, sudah dapat menghancurkan semua. Jadi, kalau disanjung sedikit, tidak usah berlagak sombong.” Cibir Hana dengan mulut pedasnya. Padahal Qila cuma diam, tapi selalu diancam. Mau di rumah, atau kampus, ada saja orang yang mencelanya, itupun dari keluarganya sendiri.
Sedangkan kini, Aidan yang berjalan sendiri untuk mencari kembali sosok Bram, tiba-tiba dihampiri oleh Raiqa.
“Aidan! Woy, AIDAN!”
“Hm, kenapa? Ada masalah?” tanya Aidan.
“Tidak ada masalah, cuman aku penasaran saja kenapa Keyra tadi nangis?” Bertanya langsung ke intinya.
“Ha? Nangis?” ulang Aidan sedikit kaget.
“Yah, nangis, dia diam-diam nangis di kantin, aku minta kepadanya untuk ceritakan apa yang terjadi, tapi dia malah pergi. Kau tahu ngga kenapa dia nangis?” tanya Raiqa lagi.
“Hmm, tidak biasanya loh dia nangis, Rai. Ini dia jarang banget nunjukin dirinya nangis, itupun terkahir kali aku menangkapnya nangis waktu di SD. Jangan-jangan alasan dia nangis adalah kau lagi?” Tunjuk Aidan baru kali ini mendengar Keyra menangis di kampus.
“Diih, kalau aku bertanya, berarti aku bukan orangnya.” Timpal Raiqa.
“Hmm, terus siapa?” tanya Aidan.
“Yaelah, malah ditanya balik.” Raiqa mendesis, tambah kesal.
“Coba deh, kau tanyakan dulu ke Evan, siapa tahu dialah yang sebenarnya sudah membuat Keyra menangis.” Raiqa memohon karena tidak tega melihat wanita yang suka cek-cok itu tiba-tiba bersedih.
Baru juga mau menelpon Evan, jari Aidan menunjuk ke satu arah. “Loh, itu mereka.” Raiqa pun mengikuti arah yang ditunjuk Aidan dan benar saja di kejauhan sana ada Evan sedang bersama Keyra. Dua pria tampan itupun diam-diam mendekat dan ingin tahu apa yang dilakukan Evan dan Keyra. Dan ternyata ...
“Hmm, jadi ... kau pagi-pagi berangkat duluan karena cuman mau membeli ini khusus untuk aku, Van?” Tunjuk Keyra pada dirinya sendiri dan tersenyum lebar mendapat kejutan manis berupa sebuket bunga mawar putih.
“Hm, maaf ya soal tadi pagi sudah membuat mu marah. Aku sangat merasa bersalah, harusnya tadi mikir baik-baik dulu, maafkan aku ya,” ucap Evan meraih salah satu tangan istrinya. Menggenggamnya dengan lembut dan pura-pura tersenyum. Keyra menunduk tersipu dan langsung memeluk Evan. “Hm, aku maafkan, tapi lain kali cobalah mengerti keinginan ku, bisa 'kan?” Mendongak dan menatap dalam-dalam mata suaminya.
“Ish, jadi nyesel sudah mengkhawatirkannya.” Desis Raiqa berbalik badan mau pergi ke kelas daripada terbakar api cemburu. “Eh, tunggu, Rai!” Aidan menangkap cepat bahu iparnya itu.
“Hm, apa?” tanya Raiqa ketus.
“Aku mau minta bantuan,”
“Bantuan apa?” Bertanya lagi sambil melirik diam-diam Evan yang masih ada di sana menghibur Keyra. Melihat pasutri itu, bikin mata dan hati Raiqa sakit.
“Begini, tadi aku lihat ada laki-laki asing di kampus kita, kira-kira kau pernah ketemu dia pagi ini, nggak?”
Raiqa menyentuh dagu, mengingat semua apa saja yang dilihat sejak tadi pagi. “Ohhhh, iya, hampir lupa! Ada satu Dosen baru yang datang hari ini. Aku dapat info di forum depan sana. Katanya agak tua, tapi orangnya baik sih,” ucap Raiqa kemudian menunjukkan foto yang diambil dari forum itu. “Nah, ini orangnya.” Sebuah foto seorang pria sekitar berumur 28 tahun, lumayan tampan dengan pupil mata berwarna coklat dan ta—hi lalat di bawah mata. Samaran yang berhasil mengelabui mereka.
“Katanya tua, ini mah pria yang aku lihat di depan kelas Qila! Orangnya lumayan sih, tapi mukanya kayak orang ca—bul.”
Raiqa sempat ingin tertawa mendengarnya, tapi karena Keyra dan Evan tampak mau mendekati mereka, akhirnya Raiqa pergi. “Ya udah deh, aku duluan ke kelas, bay!” Membuat Evan dan Keyra penasaran apa yang dibicarakan mereka. “Aidan, kalian lagi bahas siapa? Terus, itu foto siapa?” tanya Keyra. Aidan pun menjelaskan itu Dosen baru yang masuk hari ini dan lumayan mencurigakan.
“Mencurigakan? Kenapa kau merasa seperti itu?” tanya Evan tertarik ingin tahu.
“Karena tadi orang itu memperhatikan Qila. Sebagai suami, tentu aku tidak suka ada orang lain menatap seperti itu pada istriku. Apalagi tatapannya itu, bikin darah tinggi. Kalau saja dia bukan Dosen di sini, dia pasti sudah ku buat babak belur.” Jelas Aidan menatap Evan dan mengepal tangan, kemudian pergi menyusul Raiqa.
‘Hm, orang ini suka memperhatikan Qila? Siapa dia?' pikir Evan mengamati foto Bram di tangannya.
“Van, yuk kita ke kelas. Jadwal kelas hari ini lebih awal mulainya.” Keyra menarik Evan sambil memeluk buket bunga di dadanya.
“Hmm, baiklah.” Evan mengangguk dan tersenyum paksa. Pergi ke kelas mereka. Sedangkan di kelas Qila, semua mahasiswa terkejut melihat ada orang asing masuk ke dalam kelas mereka. Semua heboh karena Dosen yang mengajar ternyata Dosen baru yang lumayan tampan. Para mahasiswi sudah pasti ada yang tertarik, begitupun Hana tertegun karena perawakan Bram sangat dewasa sekali. Apalagi kalau senyum, aura karismatik Bram terpancar keluar.
“Kyaa, dia lebih tampan daripada di foto.” Gemas mereka. Kecuali Qila yang duduk dan membuang nafas. Ingin menutup telinga, tapi Qila sontak tercengang mendengar suara Bram.
“Selamat siang, maaf apabila kedatangan saya sedikit terlambat,” ucap Bram tersenyum lalu, “Perkenalkan, saya adalah Dosen baru yang akan mengajar untuk kalian hari ini.” Menatap mereka yang tambah histeris karena wibawa Bram yang kuat, seperti ada aura-aura Mafianya, tegas dan gagah. Bisa menjadi idola baru di kampus selain trio Tuan muda.
Sedangkan mahasiswa laki-laki cuma berseru jengkel kepada mahasiswi yang terlihat norak. Sementara Hana yang tersipu, ia sedikit heran melihat Qila terdiam di sebelahnya. Ekspresi kagetnya yang aneh.
‘Su—suaranya mirip banget sama Om Bram.’ Jantung Qila berdegup-degup, merasa familiar dengan suara Dosen barunya. Sementara Bram merasa senang, dapat menatap lama istrinya lagi yang masih hidup itu.
...—...
Ciee, suami istri beda timeline saling tatap-tatapan🙈
^^^Like, komen, share♥️^^^
^^^Biar Author semangat nulisnya!^^^
^^^Next to Chapter!^^^
^^^Thank's you😍^^^