Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
26. PTWY 26 # Bram Meninggal?



"Raiqa, aku juga belum tahu kemana dia sekarang. Tetapi, menurut Bik Ida, Keyra berada di rumah temannya." Aidan menutup bukunya dan menatap ke luar jendela.


"Sekarang, aku cemas dan khawatir padanya." Di tengah suasana hatinya yang kecewa, Aidan tetap mencemaskan Keyra. Berharap saudaranya itu tidak berada di tangan Evan.


"Aidan, saat ini, langkah apa yang akan kamu ambil? Apakah kamu akan mengatakan ini pada ayah mu? Kita tahu sendiri, ayah mu sudah tidak menginginkan Evan dan aku rasa, jika ayah mu tahu ini, aku tidak yakin anak itu diterima oleh ayah mu," ucap Raiqa.


"Ya, aku juga merasa begitu. Tapi harus bagaimana lagi, anak di dalam perutnya itu tidak bersalah. Aku akan mencoba jelaskan ini pada ayah ku dan kuharap ini bisa diterima olehnya," kata Aidan, mau marah, tapi sekarang cuman bisa pasrah. Ia pun melihat Raiqa, kemudian berdiri.


"Raiqa, meskipun Keyra mengandung anak Evan, tetapi kuharap kamu mau—" ucap Aidan ingin Raiqa tetap berada di sisi Keyra.


"Ya, kamu tidak perlu cemas. Tanpa kamu suruh, aku akan selalu berusaha mendapatkan perhatiannya," kata Raiqa paham yang diinginkan Aidan, yaitu, menggantikan posisi Evan. Aidan tersenyum lega, melihat tekad Raiqa.


"Oh ya, apa yang kamu baca itu barusan?" tanya Raiqa menunjuk buku Bram. Aidan pun menjelaskan sesuatu pada Raiqa dan menceritakan tentang Bram yang tidak diketahui olehnya.


"What's? Jadi, dia hilang dalam ledakan itu?"


"Ya, Rai. Dalam penyelidikan ayahku, dia dinyatakan sudah meninggal dan orang itu juga yang memberikan buku ini pada ku. Entah apa tujuannya, tetapi aku merasa dia seperti ingin aku mempelajarinya," ucap Aidan membuka kembali buku itu dan memperlihatkan kepada Raiqa.


'Buset, isinya terlalu rumit untuk dicerna,' batin Raiqa yang memang tidak begitu paham soal ini.


"Kalau begitu, apa Qila sudah tahu ini?" tanya Raiqa juga tahu Qila pernah dekat dengan Bram, apalagi pria itu dengan suka rela menjaga dan mengurus adiknya saat hamil di luar negeri sendirian.


"Tidak, aku masih merahasiakan ini." Aidan menggelengkan kepala dan tidak sadar ada seseorang yang tidak sengaja menguping di dekat pintu. Perasaan Qila cukup terguncang hebat setelah mendengar ucapan Aidan itu. Ia merasakan dunia seakan berhenti sejenak. Hati kecilnya terasa berat dan sedih mendengar kabar tentang Bram yang sekarang sudah meninggal. 'Om Bra—Bram, sungguh sudah meninggal?' Qila pergi dan diam-diam menangis, karena baginya,, Bram adalah sosok ayah angkat yang dengan baik hati memperhatikan kehamilan pertamanya dulu. Mungkin di mata orang lain, Bram adalah pria biasa, tetapi tidak di mata Qila yang cukup menyayangi orang itu.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan dengan buku itu?" tanya Raiqa, kemudian mendengar jawaban Aidan yang meminta Raiqa membantunya menciptakan mesin waktu sesuai buku itu dan hanya sekedar membuktikan isi buku itu.


"Raiqa, jika memang buku ini terbukti benar bisa merancang mesin itu, aku mengakui kemungkinan Bram adalah—"


"Orang dari masa depan?" tebak Raiqa tepat.


"Yang menyelamatkan Qila dari ancaman Black, 'kan?" tambahnya membuat Aidan sedikit terkejut.


"Wow, bagaimana kamu bisa tahu itu?" tanya Aidan belum memberitahu hal itu tapi Raiqa sudah menjawab inti dari tujuan Bram.


"Aidan, sumpah, aku sudah lama ingin cerita ini pada mu, tapi aku ragu karena kamu mungkin tidak akan percaya dan menganggap ini tidak masuk akal," ucap Raiqa, sedangkan Qila sudah tidak ada di luar, sebab ia telah kembali ke kamar untuk menenangkan dirinya.


"Cerita apa?" tanya Aidan penasaran. Raiqa pun membisikkan bahwa, saat dia dikeroyok oleh gangster Alpha tiga tahun lalu, Bram datang menyelamatkannya, tetapi seingat Raiqa, wajah orang yang menolongnya bukanlah seperti Bram, tetapi wajahnya mirip dengan Aidan.


"What's, aku?" Tunjuk Aidan pada dirinya sendiri.


"Ya, Ai, aku yakin wajah dan matanya biru seperti mu,"


"Aku mengira itu awalnya adalah Om Rayden, tetapi ketika aku perhatikan lebih dekat lagi, mata dan wajah lebih dominan dengan kamu. Tetapi Om Rayden mengatakan orang itu adalah Bram, karena waktu menyelidiki, dia melihat Bram membawaku masuk ke rumah sakit. Meskipun aku sudah dengar cerita dari Om Rayden, tetap saja perasaan ku ini menolak dan lebih percaya apa yang aku lihat dari mataku langsung," jelas Raiqa seyakin-yakinnya.


"Hmm, apakah jangan-jangan selama ini dia memakai topeng kulit dan menyamar sebagai aku?" gumam Aidan.


"Tidak deh, Ai. Yang aku lihat wajahnya asli, bukan wajah palsu. Kulitnya pun asli daging." Raiqa membantah karena saat dirinya dipapah oleh Bram, Raiqa sempat merasakan kulit pipih Bram asli daging, bukan kulit buatan.


"Aku rasa, wajah palsu yang dipakai Bram adalah sebenarnya wajah yang dulu kita lihat," ucap Raiqa.


"Maksudnya, dibalik wajahnya itu adalah aku? Begitu?" tanya Aidan menunjuk dirinya sendiri. Raiqa diam sejenak kemudian mengambil buku itu.


"Aidan, mungkin ini opini yang liar, tetapi aku merasa Bram memang kamu dari masa depan, atau jika bukan kamu, berarti itu adalah Aiko yang ingin menyelamatkan Qila dari ancaman Black." Raiqa menjelaskan dan sedikit benar.


"Oke, kalau memang ini adalah Aiko, lalu siapa itu Black? Dan apa motifnya dia mengincar Qila?" tanya Aidan.


"Aku belum tahu apa, tapi aku rasa Black adalah orang dari masa depan juga yang datang waktu itu untuk membunuh Qila. Tapi kalau dipikir-pikir, Black dan Bram telah mati, maka ancaman itu sudah hilang dan kamu sekarang telah bahagia dengan Qila, terutama kalian akan memiliki anak baru lagi. Kalau dipikir semuanya lagi, artinya kemungkinan Black mengincar Qila karena anak ketiga kamu itu tidak seharusnya lahir."


Aidan mendecak kemudian mengambil buku di tangan Raiqa, sedikit kesal mendengar asumsi Raiqa. Apalagi suara Raiqa seakan-akan ingin membuatnya ketakutan.


"Sudahlah, kita tidak usah memikirkan dua orang itu lagi. Sekarang aku mau kamu membantu ku membuktikan isi buku ini," ucap Aidan menyimpannya di dalam laci.


"Aku sih mau-mau saja membantu, tapi seperti kita perlu bantuan orang lain juga yang mampu memahami objek data dalam buku ini," kata Raiqa membuat Aidan pun memikirkan Dosennya. Ia pun mengambil kartu yang diambil dari Qila tadi dan menatapnya sejenak. Merasakan sesuatu di lubuk hatinya.