Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
14. PTWY 14 # Mesum Seperti Kemarin




...Update : 03.00...


...💗 Happy Reading 💗...


“Momi,” panggil Aila dengan nada lirih. Mendekati Ibunya yang sedang duduk di sebelah Aiko dan tampak sibuk mengajarinya menghitung angka di ruang keluarga.


“Hm, kenapa, cantik?” tanya Qila, membantunya naik ke sofa. Aila duduk di pangkuan Ibunya dan tiba-tiba bulir-bulir air matanya berlinang. Qila dan Aiko pun terkejut heran.


“Ehh, kau kenapa nangis, sayang?”


“Dadi jahilin Ayila?”


“Ndak, bukan Dadi, tapi na Ayyila ndak mawu pindah lumah, ndak mawu jawuh dalih Omah na Atok, hik,”


“Hm, siapa yang bilang begitu ke Ayila?” tanya Qila, sedangkan Aiko berhenti belajar dan memiringkan sedikit kepalanya karena kurang paham.


“Hik, Dadi tadi sebeylum mandi bilang ama Ayyila mawu na kasih tawu kalau Momi mawu na pindah lumah,”


“Ayyila ndak mawu, Momi. Ndak mawuuuu!” Gadis mungil itu meronta di pangkuan Qila dan menarik baju Ibunya.


“Suyuh na saja Ancel Epang na Unti Keyla yang pelgih.” Lanjut memohon sambil terisak-isak.


Melihat adiknya begitu, raut wajah Aiko mulai berubah. “Huwaaa...” Ikut menangis di sebelah Qila yang langsung panik melihat tangis dua twinsnya pecah. Di tengah kesulitannya menenangkan mereka, Aidan akhirnya datang. Terlihat baru selesai mandi dan memakai pakaian baru.


“Apa yang terjadi pada mereka?” Aidan mengambil


Aila di pangkuan istrinya.


Qila pun memandangnya dengan kesal, membuat Aidan mengernyitkan dahi. “Hmm, kenapa? Kenapa kau melotot begitu pada ku?” Qila berdiri, mengangkat lalu menggendong Aiko.


“Aidan, kau harusnya jangan dulu kasih tahu niat aku yang mau pindah rumah ke mereka. Nih, gara-gara kau tidak bisa tutup mulut, mereka jadi protes,” jawab Qila cemberut.


“Oh itu, hehe, sorry, habisnya tadi Ayila maksa-maksa aku nemenin dia main, tapi aku 'kan mau mandi dulu, jadi aku bocorkan itu supaya dia pergi ke sini,” nyengir Aidan ternyata sengaja.


"Ihhh, kau ini!" Qila mencubit lengan suaminya. Kalau saja tidak ada anak mereka, Qila sudah memberi jurus-jurus pamungkas cakar macan. Keduanya pun bersama-sama menenangkan anak mereka. Seperti biasa kalau menangis seperti ini, dua anak kembar polos mereka mulai mengantuk.


"Cup—cup, sini Aila tidur dulu bareng Dadi." Aidan rebahan di sofa dan menyandarkan kepala gadis mungilnya di atas dada bidangnya. Sedangkan Aiko sesenggukan di dada empuk Ibunya. Perlahan-lahan, Aila tertidur. Aidan pun dengan hati-hati berdiri untuk membawanya ke kamar. Namun sontak berhenti saat melihat Qila menyusui Aiko sambil rebahan di atas sofa.


"Qila, Ayiko itu sudah besar, kenapa masih menyusuinya?" tanya Aidan, tidak lupa berpaling muka. Masih salah tingkah kalau Qila menunjukkan dadanya secara langsung di depan matanya. Padahal kemarin, Aidan sangat menikmati setiap detik mulutnya bermain di bagian itu.


"Ya, mau gimana lagi, cara mendiamkan Aiko cuma dengan ini. Meskipun sudah tidak ada isinya lagi, tapi Aiko masih tidak mau berhenti susu pada ku," jelas Qila.


"Kau ngomong apa sih," celetuk Aidan membelakangi Qila.


"Hm, kenapa? Kau tidak ingin mencobanya lagi seperti kemarin?" tanya Qila dengan wajah polosnya.


"Ishh, berhenti! Jangan memancing ku sekarang. Aku baru saja keramas." Aidan cepat-cepat keluar dari ruangan sebelum master Lion tegak di sana dan menerkam istrinya di ruang keluarga.


"Puft, muka Aidan lucu sekali kalau sedang malu-malu." Qila berdiri dan menyusul Aidan karena Aiko yang sudah terlelap. Melihat mereka bahagia, membuat Keyra yang berdiri dekat tembok tadi, tampak merasa iri dan sedih. Sedih akibat Evan belum pulang dan iri karena ingin seperti Aidan. Punya anak yang bisa diajak main atau bercanda.


"Oh ya, Qila, apakah kau serius ingin pindah rumah?" tanya Aidan kepada Qila yang sedang menyelimuti Aiko dan Aila.


"Hm, iya,"


"Kalau begitu, kita turun ke bawah dan kumpul dengan Mama dan Papa. Sekalian aku hubungi Evan untuk pulang, biar kita dapat membicarakan ini bersama." Aidan berjalan ke pintu kamar, namun tiba-tiba berhenti tatkala tangan kanannya diraih Qila.


"Kenapa?" tanya Aidan deg-degan merasakan tangannya yang hangat.


"A—aku cuma mau genggam saja." Qila menunduk ke bawah. Perasaannya juga berdebar-debar, tapi ini karena gelisah. Aidan mengeratkan tangannya kemudian menggandengnya menuju ke lantai bawah dengan hati berbunga-bunga.


Tiba di ruang tamu, Aidan menuturkan keinginan istrinya duluan. Arum, Rayden, dan Keyra yang duduk berjejeran di sofa, mereka sangat terkejut. Karena ini sangat mendadak.


"Loh, kenapa cepat sekali mau pisah rumah?" tanya Keyra.


"Kau sudah memikirkan ini matang-matang, Aidan?" tanya Rayden. Sebagai kakek, jujur saja Rayden tidak setuju karena dua cucu kecilnya itu masih butuh perlindungan.


"Aidan, Mama bukannya tidak setuju, tapi tunggu Aiko dan Aila besar dulu."


"Mama 'kan juga masih mau tinggal bersama mereka dan menikmati masa-masa kecil mereka." Arum sama saja tidak mengizinkannya.


Qila menunduk dan sedih menerima penolakan mertuanya.


"Ma, tidak usah tahan kami, kita nanti sering-sering kok datang ke sini bawa Aiko dan Aila. Jadi, biarkan kami hidup mandiri di luar sana, aku pasti bisa melindungi anak dan istriku," ucap Aidan sekali lagi memohon. Itung-itung Aidan bisa berduaan sama Qila tanpa harus memperlihatkan kepada orang tuanya itu. Tapi sebenarnya, ini juga bahaya bagi Qila. Sebab, Aidan yang kadang pulang terlambat, bisa memberi kesempatan pada Evan untuk melakukan sesuatu yang lebih liar.


"Kalau begitu, biarkan saja kami yang pisah rumah," sahut Evan sudah pulang. Keyra berdiri dan mendekati Evan yang tampak sudah tidak ketakutan. Seluruh tubuh Qila pun sontak berkeringat hebat saat Evan lewat di sebelahnya dan duduk di dekat Keyra.


"Hei, kau kenapa?" Bisik Aidan, karena tangan istrinya bergetar. Tentu Qila takut dekat-dekat sama Evan dan sekarang pria itu diam-diam meliriknya dengan tatapan mesum seperti kemarin.


.


Ayo Qila🥺katakan semuanya, kalau dipendam saja, hanya membuat mu dan anak-anak tidak tenang🤗jangan takut, author dan reader bersamamu🥰