
"Kami hanya ingin melihatnya dan sekarang kami harus kembali, permisi." Keyra dengan sopan menjawab Ibu mertuanya. Setelah itu membawa Vincent kembali ke ruangannya.
"Ma, udah. Kita biarkan anak itu bersamanya." Ayah Evan menahan istrinya yang mau mengejar Keyra.
"Pa, anak itu cucu laki-laki kita! Kita juga punya hak—" ucap Ibunya Evan berhenti ketika melihat wajah putrinya yang cemberut di dekat Evan.
"Mama ini aneh banget, kalau soal cucu langsung ke sini. Sedangkan Evan yang belum sadar sampai sekarang, justru Mama tidak peduli. Sunggug, aku itu malu banget punya Mama gak ada syukur-syukurnya. Pikirkan juga dong perasaan Evan dulu, lihat dia juga dong, Ma!" kata wanita muda di sebelah Evan. Ia merasa kecewa pada sifat Ibunya.
Ibu kandung Evan berjalan mendekati Evan dan memandangi wajahnya, namun percuma, wanita itu memalingkan pandangannya dan terlihat sulit mengatakan apapun kepada Evan. Setiap melihatnya, bayangan ayah biologis Evan menghantuinya. Ia tak bisa nyaman dan tenang.
"Sudahlah, terserah kalian saja!" Wanita itu keluar dengan kesal dan segera disusul oleh suaminya. Sedangkan wanita muda di sebelah Evan hanya menunduk murung dan sedih. "Evan, aku tau kau hanya ingin diperhatikan oleh mereka, tapi maafkan kakak, sungguh kakak sudah berusaha. Sekarang yang kakak harapkan, kau cepatlah sadar." Isaknya sambil membelai kepala Evan.
Dua Minggu kemudian, kondisi Keyra telah stabil sepenuhnya dan meski dia sudah keluar dari rumah sakit, ia masih sempat-sempatnya datang melihat Evan bersama Vincent, namun pria itu masih terbaring lemah di dalam ruangannya dan belum sadar selama ini.
"Mami, kapan Papi bangun?" tanya Vincent di sebelahnya dan melihat Keyra bersiap pulang. Sampai saat ini, statusnya belum jelas apakah hubungannya dengan Evan sudah berakhir atau tidak. Tapi orang-orang tau, kalau hubungan mereka sedang berantakan.
"Mami juga tidak tau, sayang. Tapi besok mungkin Papi kamu sudah bangun. Sekarang, ayo kita pulang," ajak Keyra menggendongnya.
"Tapi Mami, ini sudah dua puluh kali kita ke sini, Vincent mau dengar suara Papi lagi."
"Iya, kalau ayah mu sudah bangun, Vincent boleh puas dengar suaranya. Sekarang, kita pulang sebelum Kakek mu datang kemari." Keyra membujuk Vincent dan setelah anak itu menurut. Mereka berdua meninggalkan ruangan itu dan pergi menemui Aidan yang datang bersama Qila untuk memeriksa tulang kaki iparnya itu yang sedikit demi sedikit sudah bisa berjalan walau agak pincang.
Melihat Aidan yang sangat perhatian kepada Qila di sana, Keyra merasa lega dan sedih. Ingin rasanya menyesal tapi sekarang Keyra lebih banyak bersyukur karena hubungannya dengan Evan, memberikannya bocah tampan dan imut seperti Vincent. "Mami, ayo pulang." Vincent menepuk tangan Ibunya. "Ah, baik sayang." Keyra menghampiri Aidan dan Qila yang sudah menunggu mereka.
....
Tiga hari berlalu, Keyra masih menolak untuk masuk bekerja, padahal ia adalah Presdir di perusahaan Rayden. Bahkan Aidan pun juga tak mau mengurus kantor ayahnya karena sedang fokus memulihkan kondisi Qila.
"Huff, kalau mereka masih seperti ini, mungkin aku lagi yang akan mengatasinya," keluh Rayden tak punya pilihan harus menggantikan posisi Keyra sampai putrinya itu mau masuk lagi.
"Hm, kau yang sabar, sayang." Hibur Arum duduk di sampingnya dan menahan tawa melihat Rayden cemberut.
"Oh ya, bagaimana soal Raiqa? Aku dengar, anak sulung Kinan itu mau menikah?" tanya Arum.
"Hm, iya, kata Aidan semalam, Raiqa sudah dijodohkan." Angguk Rayden dan menyeduh teh manis buatan istrinya.
"Berarti, udah gak ada peluang lagi dong Raiqa deketin Keyra?" tanya Arum.
"Mau bagaimana lagi, Keyra tidak mau menikah dengan siapa pun, apalagi Vincent juga tak mau Raiqa jadi ayahnya. Kalau sampai aku nikahkan Raiqa dan Keyra, anak itu tidak mau tinggal bersama kita. Dan lagi, daripada Raiqa dilema terus, Wira terpaksa mencarikannya istri," jelas Rayden.
"Kalau begitu, bagaimana keputusan untuk hubungan Keyra dan Evan?" tanya Arum sedikit cemas.
"Aku juga tak tahu sayang, sekarang Keyra sudah tak mau dengar penjelasan ku dan tampaknya aku serahkan keputusan ini pada dirinya sendiri. Jika dia mau cerai dengan Evan, aku bersedia akan mengurusnya kembali, tapi—"
"Tapi, bagaimana kalau Keyra masih ingin bertahan? Apa kau setuju?" tanya Arum tambah cemas.
Rayden sedikit menunduk dan melihat cangkir teh kosong di tangannya. "Jika memang itu yang diinginkan Keyra, kita hanya bisa mendukungnya dan menghargai keputusannya." Senyum Rayden sedikit dipaksakan.
"Tapi, Ray, bagaimana kalau Evan melakukan hal jahat itu lagi pada Keyra?" Arum bertanya lagi.
"Jika dia lakukan itu, aku akan langsung menghabisinya." Rayden mengepal tangan dan sungguh-sungguh memegang ucapannya. Arum bersandar di bahu Rayden dan menggenggam tangan suaminya. Ia berharap kehidupan anak kembarnya mendapatkan kebahagiaan mereka.
"Momi... Dadi!!" panggil Aila, Aiko dan Rafka datang. Tiga bocah itu barusaja pulang dari sekolah setelah dijemput oleh Keyra bersama Vincent.
"Hm, ada apa kalian teriak-teriak, sayang?" tanya Qila dibantu berdiri oleh Aidan.
"Kalian lari-larian begini habis liat apa di luar?" tanya Aidan.
"Om! Om Evan katanya sudah bangun, Dadi!"
"Kau mau ikut, sayang?" tanya Aidan kepada Qila.
"Tidak, kaki ku agak sakit, aku di sini saja," ucap Qila menolak karena lelah latihan barusan.
"Kalau begitu, Rafka mau ikut Dadi?" tanya Aidan kepada bocah ciliknya itu.
"Ndak mau, Lafka mau na sini saja sama Momi," tolak Rafka pindah berdiri di samping Qila. "Ya sudah, Rafka di sini jaga Momi. Dadi dan dua kakak mu pergi antar Aunty Keyra dan Vincent ke rumah sakit. Jangan lupa, nanti kasih tau ke Kakek kalau kita ada di rumah sakit ya,"
"Siap, Dadi!" hormat Rafka.
"Hati-hati, sayang."
"Siap, yang mulia ratu." Balas Aidan hormat kepada Qila.
"Puff." Aila dan Aiko tertawa kecil kemudian menyusul Aidan dari belakang. Sebenarnya Qila tidaklah capek, hanya saja semenjak ingatannya mulai pulih, ia takut menemui Evan. Di dalam ingatannya, Evan itu licik dan berbahaya.
Sesampainya Keyra dan Aidan di rumah sakit, tepatnya di ruang rawat Evan. Mereka terkejut di dalam sana kosong.
"Mami, Papi dimana?" tanya Vincent kepada Keyra. Tiba-tiba seseorang berbicara dari belakang dan itu adalah Dokter yang menangani Evan.
"Dokter, dimana pasien yang ada di sini?" tanya Aidan dan Keyra. "Mohon maaf, Tuan Evan sudah dipindahkan oleh keluarganya tadi pagi."
"Dipindahkan? Kemana, Dokter?" tanya Aila dan Aiko.
"Mami, apa itu maksudnya?" tanya Vincent lagi kepada Keyra dengan raut wajah cemas dan sedih. Dokter pun menjelaskan bahwa pihak keluarga Evan membawanya kembali ke California dan Evan akan dirawat disana. Dokter pun juga memberikan sepucuk surat untuk Keyra yang berisi permintaan maaf dari pihak keluarga dan tentunya dari Evan juga yang telah memutuskan untuk berpisah dari Keyra. Serta hak asuh tetap ada di tangan keluarga Rayden dan Evan tak akan kembali menganggunya, terutama Aidan dan Qila.
Mata Keyra mulai berkaca-kaca dan kedua tangannya terkepal kuat-kuat setelah membaca isi surat Evan yang cukup menyakitkan.
[Surat Evan]
Keyra,
Aku menulis surat ini dengan hati yang berat dan penuh penyesalan. Setelah mempertimbangkan segala hal dengan cermat, aku telah memutuskan untuk kembali ke California dan merawat diriku di sana. Aku tahu bahwa keputusan ini mungkin sulit untuk kamu terima, tetapi aku merasa ini adalah langkah yang terbaik bagi kita berdua.
Aku ingin meminta maaf karena keputusan ini tiba-tiba dan mungkin mengecewakanmu. Namun, aku berharap kamu bisa mengerti bahwa kesehatan dan pemulihan adalah prioritas utamaku saat ini. Aku membutuhkan perawatan yang intensif dan dukungan keluarga di sekitarku.
Aku juga ingin mengungkapkan permintaan maaf yang mendalam atas semua penderitaan dan ketidaknyamanan yang kamu alami selama ini. Kamu tidak pantas mengalami semua ini, dan aku menyadari bahwa perpisahan ini akan mempengaruhi hidupmu secara signifikan. Aku berharap kamu dapat menemukan kebahagiaan dan kesembuhan di masa depanmu.
Terakhir, aku harus menyampaikan bahwa hak asuh Vincent akan tetap berada di tangan keluarga Rayden. Aku percaya mereka akan memberikan kasih sayang dan perhatian yang Vincent butuhkan selama proses ini.
Aku berharap kamu dapat memaafkanku suatu hari nanti. Aku akan selalu mengingat dan menghargai masa-masa indah yang sempat kita lewati bersama. Kamu adalah sosok yang luar biasa dan aku berharap kamu akan menemukan kebahagiaan yang kamu cari dalam hidupmu.
Terima kasih atas pengertianmu dan dukunganmu selama ini. Semoga kamu mendapatkan kekuatan dan kebahagiaan di masa depanmu.
Dengan penuh penyesalan,
Evan
...
"Mami, kapan Papi pulang lihat Vincent? Apakah Papi tidak sayang sama kita?" tanya Vincent kepada Keyra yang kini sudah masuk bekerja di perusahaan Rayden sebagai CEO. Sementara Qila, telah kembali ke karirnya sebagai Model dan Aidan sudah tidak membuat mesin waktu karena sekarang ia fokus menjalankan bisnisnya dan menjaga Qila serta ketiga anaknya. Akhirnya Rayden bisa menikmati masa tuanya dengan Arum tanpa masalah lagi. Kecuali Vincent, selama tiga bulan ini semenjak Evan pindah ke California, bocah itu terus menunggu kabar dari sang ayah, tetapi tak ada kabar bahkan surat darinya sampai sekarang.
"Bukan Vincent, ayah mu sayang kok sama Vincent," ucap Keyra sambil menyetir mobilnya setelah menjemput sendiri putranya dari sekolah.
"Kalau sayang Vincent, terus kenapa Papi tidak pernah telepon?" tanya Vincent menunduk sedih.