Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
45. PTWY 45 # Semakin Dibenci Oleh Hana



Pada hari ini, Qila mengundang keluarga dan teman-temannya untuk berkumpul dan merayakan acara syukuran bersama. Ia menyajikan hidangan lezat dan membagikan kenang-kenangan kecil kepada para tamu sebagai tanda terima kasih atas kehadiran mereka.


Ketika momen syukuran tiba, Qila dan Aidan dengan penuh rasa syukur memanjatkan doa bersama keluarga dan teman-temannya untuk memohon keselamatan dan kesehatan bagi janin yang ada di dalam kandungan Qila.


Semua tamu merasa bahagia dan tersentuh oleh momen syukuran ini, apalagi melihat tingkah menggemaskan Aila dan Aiko yang merengek pada kedua Nenek dan Kakeknya. Mereka merasa senang dapat turut merayakan kebahagiaan Qila dan Aidan, serta berdoa untuk kelancaran dan keselamatan kelahiran bayi mereka.


Dengan rasa bahagia dan syukur yang mendalam, Qila dan Aidan berharap bahwa kelahiran bayi mereka nanti akan membawa kebahagiaan yang tak terhingga bagi mereka dan keluarga besar mereka.


Kini, para tamu satu demi satu berpamitan sore ini. Terlihat Qila, tampak wanita cantik itu sedang mencari keberadaan seseorang, sambil berdiri di dekat Aidan dan Rayden yang juga sedang sibuk bicara pada tamu rekan bisnis mereka.


Karena Aidan yang fokus mengobrol dengan para tamu, Qila berjalan ke arah Raiqa yang sedang menyantap hidangan di sebelah Keyra yang tengah menyuapi si kembar.


"Kak, maaf kalau menganggu,"


"Hm, kenapa, Qila?" tanya Raiqa setelah minum air putih.


"Em itu, dari tadi kok tidak ada Pak Brian? Apakah Pak Brian tak bisa hadir?" tanya Qila penasaran.


"Hm, untuk apa kau mencari dia, Qila?" Keyra menoleh dan bertanya.


"Soal itu, aku cuma ingin berterima kasih, saat masa pelajaran dia, aku banyak belajar sesuatu darinya,"


"Oh, memang sih, yang aku dengar dari yang lain, Pak Brian cukup disegani di kampus, tapi sangat disayangkan dia malah pensiun," kata Keyra pernah sekali masuk ke kelas pelajaran Bram dan rasanya cukup menyenangkan. Hanya saja, Keyra tak terlalu mempedulikan wajah Bram, apalagi Bram sendiri tampak tak begitu mudah diajak berbicara, kecuali pada Qila.


"Sudahlah, tak usah ditunggu, mungkin lagi macet di jalan. Sekarang kau duduk di sini, dan ikut makan bersama kami." Raiqa memberi piring, tetapi Qila menolak.


"Maaf, Kak, aku masih kenyang. Aku ke atas dulu ya. Kalau waktunya sesi foto, Kak Raiqa suruh Aidan panggil aku di kamar," pamit Qila, meninggalkan Keyra dan Raiqa di sana. Sementara Aiko dan Aila saling bertatapan, mereka ingin menyusul Ibunya, tapi perut mereka masih lapar. Terpaksa mereka dengan manja meminta Keyra untuk menyuapinya lagi.


Qila yang berjalan sendirian, ia pun berhenti sejenak saat mendengar Wira di dalam ruangan sedang memarahi Hana.


"Apa yang kau pikirkan, Hana? Kau memulai karir sebagai model tanpa memberitahu ayahmu? Tanpa persetujuanku?" bentak Wira dengan suara keras.


Hana menunduk, terlihat sedih dan terpojok. "Maafkan aku, Papa. Aku takut memberitahumu karena aku khawatir kau tak setuju."


"Tentu saja aku tak setuju! Apa kau tidak tahu betapa berbahayanya industri itu? Kau bisa terjerumus ke dalam pergaulan bebas, menjadi korban narkoba, atau bahkan menjadi buruan para pria cabul!" Wira semakin meradang.


"Ah, kau pikir itu cukup?" Wira merem4s tangan Hana dengan kasar. "Aku tak mau anakku terjebak dalam kehidupan yang penuh risiko dan tidak pasti seperti itu. Jangan harap aku akan memberikan restuku untuk karirmu sebagai model!"


Hana terlihat semakin terpuruk. Ia tahu bahwa ayahnya selalu memperhatikan kebaikan dan keselamatannya, namun ia juga tak ingin melepaskan impian dan ambisinya sebagai seorang model.


"Maafkan aku, Pa. Aku tahu kau hanya ingin melindungiku, tapi aku juga memiliki impian dan cita-cita. Aku harap kau bisa memahami itu," ucap Hana dengan suara lirih.


"Tidak, Hana! Kau tak cocok berada di industri seperti ini dan yang terbaik untuk mu hanya mengikuti jejak Papa. Kau adalah satu-satunya yang bisa menjalankan bisnis Papa," kata Wira.


"Tapi, kan, Bang Raiqa juga bisa mengatur bisnis, Papa. Dan lagi, kalau Papa melarangku masuk di industri itu, harusnya Papa juga mengecam keinginan Qila! Sekarang dia hamil dan sudah punya dua anak, posisinya sudah tidak layak menjadi model. Qila lebih pantas menjadi IRT di rumah," tutur Hana kembali memperlihatkan kecemburuannya.


"Hana! Papa tak mempermasalahkan Qila, karena ada Aidan yang bisa Papa harapkan menjaga adikmu itu. Sedangkan kau, Papa tak bisa 24 jam memperhatikan mu." Wira tetap menolak keinginan Hana.


"Arghh! Papa tak adil!" geram Hana marah-marah dan dalam hati semakin muak dengan Qila.


Qila pun menunduk sedih dan merem4s-rem4s jemarinya. Ia dengan hati yang bergemuruh, segera pergi ke kamarnya sebelum Hana keluar. Qila merasa gundah dan gelisah mendengar Hana yang begitu benci atas keberhasilannya. "Padahal, aku selalu menunggu ucapan selamat darimu. Tapi rupa-rupanya, hanya kebencian yang kau perlihatkan di antara kita. Apa kita benar-benar harus seperti ini terus, Hana?" Qila menjatuhkan dirinya di tepi ranjang. Duduk dan menutup wajahnya. Diam-diam menangis sendirian.


Sontak, Qila mengusap cepat air matanya sampai kering, sebelum Aidan yang masuk ke dalam kamar, melihatnya yang menangis. Namun, matanya yang sembab dan merah itu, tentu Aidan bisa melihatnya dengan jelas.


"Loh, Qila? Kau kenapa, sayang? Siapa yang membuatmu menangis? Apa itu, Raiqa? Atau ada orang lain?" Aidan menyapu dengan lembut sisa embun di pipi istrinya. 'Apa jangan-jangan karena dia tak melihat Pak Brian?' batin Aidan sedikit merasa bersalah.


Qila menggelengkan kepala, kemudian memeluk Aidan. Menyandarkan kepalanya ke dada Aidan dan menatap cincin pernikahannya yang mereka pakai. Qila menggenggam tangan Aidan yang hangat kemudian, "Aku—"


"Aku kenapa, sayang?" tanya Aidan menyikap rambut Qila ke belakang dan memandang wajah manis, cantik istrinya.


"Aku harap, kita tetap bersama."


Aidan tersenyum, kemudian mengecup sudut bibir Qila. "Tentu saja, kita akan selalu bersama, hidup semati, sayang. Tak ada yang perlu kau takutkan di dunia ini, selagi aku masih ada di sisimu." Kata Aidan yang merasakan Qila sedang dilema dan ketakutan. Ia pikir, Qila seperti itu karena memikirkan masa persalinannya yang sudah dekat. Tapi, yang dikhawatirkan Qila, adalah Hana itu sendiri.


.


🥺Yah Bram/Aidan selamatkan istrimu sebisa mungkin ....


Jangan lupa like❤️terima kasih😇 dan maaf kalau banyak kata yang salah hehe...