
Tiba di depan rumah, Bik Ida membukakan pintu dan menyambut mereka dengan hangat. Arum kemudian membawa cucunya dan barang belanjaan mereka ke lantai atas, diikuti oleh Aidan dan Qila di belakang.
Karena Rayden tidak melihat Keyra, dia memanggil Bik Ida. "Bik!"
"Ya, Tuan, apa yang bisa saya bantu?" tanya Bik Ida sedikit gugup.
"Di mana Keyra? Kenapa dia tidak ada di kamarnya?" tanya Rayden. Bik Ida tampak ragu untuk menjawab, tetapi atas permintaan Keyra, asisten itu berkata, "Nona Keyra, dia sedang keluar, Tuan."
"Ke mana dia pergi?"
"Dia - katanya mau ke rumah temannya, Tuan," jawab Bik Ida dengan suara bergetar, rupanya menyembunyikan sesuatu.
"Dan dia bilang dia akan tinggal di sana selama beberapa hari."
Mendengar itu, Rayden menelepon seseorang untuk menyelidiki rumah teman mana yang didatangi Keyra.
“Tuan,” kata Bik Ida hendak mengatakan sesuatu.
"Hm, apa lagi yang ingin kau katakan?" tanya Rayden, mengakhiri teleponnya.
"Itu, tidak bisakah Tuan memberi kesempatan pada Tuan Evan lagi?" Bik Ida tiba-tiba mengungkit Evan.
"Kenapa kau menanyakan itu?" Rayden bertanya dengan tatapan tajam dan tegas.
“Saya kasihan pada Nona Keyra, sejak Tuan Evan tidak kembali ke sini, Nona Keyra sering murung,” kata Bik Ida. Ia sudah mengetahui kehamilan Keyra, karena Keyra sendiri yang memberitahunya saat membuka pintu kamarnya tadi. Bik Ida tentu saja kaget melihat Keyra memapah Evan. Karena itu, ia bertanya mengapa Evan bisa bersamanya. Keyra pun menjawab kalau Evan masuk ke dalam rumah secara diam-diam. Setelah itu, Keyra pun memohon kepada Bik Ida untuk merahasiakan Evan (Black) dan kehamilannya.
Rayden menarik napas panjang lalu berkata, "Bik, jangan dipikirkan, aku tahu apa yang terbaik untuk putriku." Lalu pria berkuasa itu meninggalkan Bik Ida yang sedang menunduk di sana.
"Ya ampun, melihat wajah seram Tuan Rayden, sepertinya mustahil Nona Keyra kembali bersama Tuan Evan." Bik Ida menghela nafas berat dan kembali bekerja.
Di kamar Aidan, ia terlihat berdiri dan menatap buku di tangannya. Pikirannya telah dialihkan oleh buku itu.
"Aidan, buku apa yang sedang kau baca?" Qila menghampiri suaminya setelah keluar dari kamar mandi dan selesai menggosok gigi.
"Oh, yang ini," Aidan menunjukkan sampul bukunya.
"Ehh, The Secret of the Time Machine? Dari mana kau mendapatkan buku ini?" tanya Qila sedikit terkejut membaca judul buku itu.
"Oh, ini buku pemberian seseorang dari tiga tahun yang lalu," jawab Aidan. Ia tidak bisa jujur tentang siapa pemilik buku itu karena Qila pasti akan bertanya kemana pemilik buku itu sekarang.
"Terus, mengapa kau membaca itu? Apa kau tertarik mempelajari isinya atau ingin menciptakan mesin waktu?" tanya Qila tiba-tiba.
"Benar, aku mulai tertarik dan ingin mempelajarinya,"
"Kenapa? Apa alasan kau tertarik, Aidan?" tanya Qila lagi.
"Apa jangan-jangan kau berniat untuk pergi ke masa lalu dan mengubah sesuatu?" tebak Qila sambil menatap dengan sedih dan kecewa.
Aidan tersentak kaget. "Eh, bukan itu. Aku tertarik karena ingin tahu, bukan karena ada niat lain,"
"Lagipula, sekarang aku sudah bahagia bersama mu dan tidak ada yang perlu diubah," jelas Aidan sambil membelai kepala Qila dan tersenyum indah. Qila maju dan memeluk Aidan. Dia mencoba menahan perasaannya yang campur aduk, namun tetap saja Qila menangis. Dia sangat senang mendengar kalimat Aidan itu, apalagi di kehamilan keduanya. Kali ini, Qila merasa dihargai oleh Aidan, tidak seperti di kehamilan pertamanya, di mana dia harus berjuang sendirian.
"Aidan, terima kasih." Qila semakin erat memeluknya. Aidan membalas pelukan istrinya itu dengan lembut dan hangat. Namun tiba-tiba, keduanya kaget saat mendengar suara Aila di sebelah mereka.
"Ahhh, Dadi, na buwat apa sama Momi? Kenapa Momi na nangis?" tanya Aila sambil berkacak pinggang di samping Aiko.
"Eh eh, kalian jangan salah paham dulu. Momi kalian menangis itu karena bahagia, bukan karena Dadi jahat," ucap Aidan sambil mundur karena dia tahu kalau Aila marah, bisa seperti Rayden yang akan memberinya hukuman.
"Akhhh, Dadi, ntuh na cuma alasan aja, sini Ayila kasih na paham!"
"Ahhhhh, ampun, Dadi serius tidak membuat Momi kalian menangis!" kata Aidan sambil naik ke atas ranjang ketika Aila mengambil kemoceng di atas meja dan mengejarnya.
"Hmm, ada apa, Aiko?" tanya Qila sambil jongkok di depannya.
"Momi, Ayiko na mawu adik pelempuwan (Aiko, mau adik perempuan)," ucap Aiko.
"Hm, ada apa dengan itu?" tanya Qila.
"Ayila na seling tendang bantal Ayiko, jadi Ayiko na mawu adik pelempuwan balu, bial na bisa peluk kalau na mawu tidul."
Qila pun diam sejenak. "Hm, apakah aku bisa melahirkan anak perempuan lagi?" pikir Qila. "Tapi dari tanda-tanda ngidamku, sepertinya anak ini berjenis kelamin laki-laki," tambah Qila merasa yakin janin di dalam perutnya adalah laki-laki.
"Momi, jawab, Ayiko!" rengek Aiko.
"Hm, sebenarnya Momi belum bisa memastikan apakah adik Aiko perempuan atau bukan. Tetapi jika Aiko rajin berdoa sebelum tidur, mudah-mudahan doa Aiko terkabul oleh Tuhan," ucap Qila menghibur. Aiko pun mengangguk paham. Dia tidak membenci Aila, hanya saja kadang-kadang merasa kesal pada adiknya yang suka nakal itu kalau sedang belajar bersama neneknya.
"Kalau adik balu na pelempuwan, kasih nama Lania ya, Momi,"
"Lania?"
"Bukan itu, tapi na L-a-n-i-aa!" ucap Aiko menggelengkan kepala.
"Ohhh, Rania?" tebak Qila.
"Hm, iya na ntuh," jawab Aiko senang.
"Haha, baiklah." Tawa Qila kemudian menerima pelukan dari putra kecilnya itu.
Kini setelah menidurkan dua anak mereka, Qila mendekati Aidan yang sedang menyelimuti Aiko.
"Aidan,"
"Hm, ada apa?" tanya Aidan.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu saja, apa itu?"
"Ini tentang keinginanmu, mengapa kau tidak mau menjadi penerus Rayzard?" tanya Qila, yang mengetahui dari Arum bahwa Aidan menolak menjadi ketua Mafia Rayzard selanjutnya.
"Hm, sebenarnya aku tertarik, tapi dulu aku pikir yang lebih cocok adalah Keyra, dan waktu itu aku juga memiliki organisasi sendiri, tapi sekarang organisasi ku sudah bubar semua."
"Jadi, apakah sekarang kau akan menjadi ketua Rayzard?" tanya Qila lagi. Dalam hatinya tidak mau Aidan menjadi penerus karena itu pilihan yang berat.
"Hm, tidak, untuk saat ini, aku mau fokus pada perusahaan Papa dan mengembangkan teknologi canggih terbaru," kata Aidan sambil melihat buku di tangannya lagi. Ia tampak lebih memilih menjadi CEO selanjutnya atau Ilmuwan teknologi dalam membantu kemajuan perusahaan keluarga.
“Kalau saja, aku bisa mempraktekkan isi buku ini, mungkin aku bisa membuat mesin waktu yang jauh lebih baik dari punya Papa. Tapi sepertinya aku tidak bisa sendirian,” lanjut Aidan mengeluh. 'Kalau saja Evan bisa diharapkan, mungkin aku bisa membuktikan isi buku ini. Tapi sayangnya, Evan terlalu berbhaya dan sulit dipercayai.' Batin Aidan.
"Mengapa kau tidak melakukannya saja di tempat Papa?" Qila bertanya lagi.
"Qila, aku tidak bisa melakukan itu di sana. Papa melarang ku membuat mesin seperti ini," jawab Aidan.
“Kalau begitu, aku tahu seseorang yang bisa membantumu,” kata Qila, mengingat dosennya di kampus.
"Hmm, siapa?" Aidan bertanya dengan rasa ingin tahu.
"Itu Pak Brian, dia tahu banyak tentang konsep ini," kata Qila membuat senyum Aidan menghilang. Tentu saja, dia tidak ingin dosen itu membantunya.
"Sudahlah, jangan menyebut nama orang itu di depanku lagi. Sekarang, ayo kita tidur," Aidan menarik Qila keluar dari kamar si kembar. Qila yang berjalan di sampingnya tertawa dalam hati melihat kecemburuan Aidan setiap mendengar nama dosen itu.