Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
52. PTWY 52 # Lebih Panjang 2 Cm



Esok paginya.


"Aidan, sudah pagi, ayo bangun, anak-anak hari ini mau sekolah. Kamu harus cepat pergi mandi dan setelah itu mengantar mereka ke sekolah." Qila yang terbangun lebih awal, menggoyangkan selimut yang menutupi seluruh tubuh Bram.


"Ma-maaf, Qila, aku hari ini sangat capek, suruh saja Keyra atau Papa yang antar mereka dulu," tolak Bram. Tak mau berhadapan dengan Aila, Rayden atau Keyra yang bisa mengenali dirinya.


"Hm, ya udah, aku turun duluan, kamu lanjut tidur saja di sini." Qila beranjak dari tempat tidur, kemudian pergi mencuci muka.


Bram membuka sedikit selimut dan mengintip. Melihat jam sudah pukul 07.00 pagi. Waktunya Rayden ke kantor dan Keyra ke kampus. Setelah rumah sepi, itulah saatnya Bram keluar dari rumah itu. Sontak, Bram masuk ke dalam selimut lagi ketika Qila keluar dan mendekatinya. Ia berdiri di dekatnya kemudian membelai rambut suaminya.


"Nanti, kalau aku turun ke bawah, aku akan suruh Bik Ida bawakan sarapan untuk mu," kata Qila kemudian mengecup kepala Bram, membuat pria itu cuma bisa mengangguk dan tersipu di dalam selimut.


"Terima kasih," lirih Bram kemudian tak bergerak, alias pura-pura tidur.


Setelah Qila menutup pintu dan pergi, Bram keluar dari selimut dan menarik nafas dengan lega. Ia mencari hapenya yang disembunyikan di bawah kasur. Bram membuka kotak masuk, dan membaca pesan dari manager Wira.


"Hei, Pak! Baca baik-baik, menantu atasan ku ini sekarang masih belum sadarkan diri. Aku ingin membawanya ke rumah sakit, tapi aku juga takut akan diketahui oleh atasan ku, kalau  sampai ada yang tahu aku menyandra Tuan muda Aidan di sini, nyawa ku bisa melayang di tangan Tuan Rayden! Kau harus cepat ke sini. Aku sudah tak peduli lagi pada mesin waktu itu! Aku masih ingin hidup!"


Wanita itu mengirim pesan begitu panjang. Bram pun membalasnya dengan santai. "Hei, tak usah khawatir. Di masa depan, kau masih tetap hidup, bahkan kau akan menikah dengan pria yang kau sukai sekarang ini. Jadi, berhenti mengeluh dan jaga saja baik-baik dia sampai aku datang ke tempat kalian!" kata Bram.


"Dasar pembohong! Sekarang ini aku belum menyukai seseorang! Tak usah jadi cenayang, deh!" balas wanita itu cepat.


"Ah sial, cerewet juga kau ini! Diamlah! Dan turuti saja perintah ku jika kau masih ingin hidup!" kata Bram kemudian mematikan kontaknya. Membuat wanita itu kesal. Gara-gara Aidan ada di rumahnya, wanita itu tak bisa pergi bekerja.


"Memang saat ini kau masih single, tapi lihat sendiri nanti, kau akan menikah dengan sekretaris Papa ku di masa depan," celetuk Bram kemudian tidur kembali setelah menyembunyikan hapenya.


"Momi! Good molning!" sapa si kembar di sebelah Keyra yang sudah siap berangkat sekolah.


"Good morning, sayang." Balas Qila tersenyum.


"Oh ya, Qi. Aidan mana? Hari ini giliran dia yang mengantar anak-anaknya," ucap Keyra.


"Em, itu, Aidan hari ini sangat lelah, dia menyuruhku untuk mengatakan kalau anak-anak diantar dulu oleh Papa," kata Qila.


"Ya udah, kita pergi sarapan duluan." Keyra mengajak Qila dan dua bocah mungil Aidan. Setelah mereka sarapan, Rayden yang mengantar si kembar dan juga Keyra.


"Ma, Qila ke atas dulu kasih sarapan ke Aidan," ucap Qila mengambil sepiring nasi goreng telah dia buat sendiri. Arum yang sedang membantu Bik Ida di dapur, mengangguk dan tersenyum. "Bik, tolong antar Qila ke atas."


"Baik, Nyonya. Mari Nona, saya antar." Bik Ida membantu dan menjaga Qila agar tidak terjatuh saat menaiki anak tangga. "Terima kasih, Bik."


Kini Qila telah sampai di kamarnya, sedangkan Bik Ida kembali ke dapur. Sepiring nasi goreng suaminya, Qila letakkan di atas meja.


"Hm, kemana, Aidan?" gumam Qila tak melihat suaminya di tempat tidur. Qila pun berjalan ke kamar mandi dan membuka perlahan pintu.


"Aidan," panggil Qila lirih. Bram yang sedang menyikat giginya buru-buru berhenti dan berkumur-kumur secepatnya. Memakai alat pita suaranya dan memperbaiki jubah mandinya agar Qila tak melihat bekas luka di tubuhnya yang ia peroleh dari pertarungannya dengan Black.


"Qi-qila, ngapain masuk ke sini?" tanya Bram.


"Aku mau ajak kamu makan sarapan, tapi sepertinya aku berubah pikiran," ucap Qila tersenyum.


"Hm, berubah pikiran?"


"Iya, aku sekarang mau bantu gosok punggung kamu dan juga keramas rambut kamu. Kita mandi bersama-sama," ucap Qila menunjuk shower.


'Gawat, ini tidak boleh!' Bram membatin, merasa cemas.


"Ka-kamu tidak perlu repot-repot, aku sudah mandi barusan. Se-sekarang aku lapar, aku keluar makan dulu," tolak Bram, melewati Qila.


"Hm, aneh, padahal kemarin-kemarin Aidan selalu mandi bersama aku. Kenapa tiba-tiba menolak?" Qila menggaruk pelipisnya, merasa heran.


"Aidan, sini biar aku suapin kamu." Qila yang keluar dari kamar mandi, mendekati Bram yang sudah berpakaian lengkap.


"Oh ya, anak-anak sama Papa sudah berangkat?" tanya Bram canggung. Sudah lama ia tak disuapin Qila dan itu membuat kerinduannya terbayar hari ini.


"Hm, sudah." Qila mengangguk, kemudian, "Bagaimana rasa nasi goreng ku? Apa pas di lidah mu, Aidan?" tanya Qila dan menunggu pujian dari suapan terakhirnya.


"Hm, lumayan enak." Puji Bram tersenyum kemudian diam tertegun menerima kecupan kecil di pipinya. Bram berpaling, menyembunyikan rona merah di wajahnya. Sedangkan Qila tertawa geli menyadari suaminya salah tingkah.


"Hm, kenapa kamu berpaling dariku?" tanya Qila. Bram cuma melirik Qila kemudian menunjuk hairdryer di meja rias istrinya.


"A-aku ke sana dulu, keringkan rambutku," ucap Bram berdiri, tetapi Qila lebih dulu mengambil alat itu.


"Biar aku yang keringkan rambut mu, ya," mohon Qila.


"Baiklah." Bram terpaksa duduk dan dengan hati berbunga-bunga, ia menerima perhatian dan permintaan Qila. Ini yang membuat Aidan begitu sayang dan cinta, karena dari dulu selalu memperhatikannya dengan lembut. Bahkan tangan Qila yang menyisir rambutnya, terasa enak dan menenangkan.


Bram pun tiba-tiba tersentak ketika Qila bertanya, "Aidan, kemarin rambut mu tidak begitu panjang, kenapa hari ini rasanya lebih panjang 2 cm?"


Bram menelan saliva, diam sejenak.


"Rambut kamu juga lebih tebal." Lanjut Qila. 'Seperti rambut Om Bram.' Dan hanya bergumam dalam hati.


"Oh itu, aku mulai pakai shampo grow hair," ucap Bram was-was.


"Hm, kalau kamu pakai, kenapa aku tidak melihat shampo itu di dalam?" tanya Qila kini mengambil sisir kemudian merapikan tatanan rambutnya.


"Ah itu, a-aku simpan supaya anak-anak tidak memainkannya," jawab Bram lagi-lagi beralasan.


"Oh, kalau begitu, aku boleh tidak pakai handphone kamu hari ini?" tanya Qila memohon.


"Pakai? Ta-tapi kan kamu juga punya hape, Qila," ucap Bram tentu tidak akan memberikan hapenya.


"A-aku cuma mau pinjam sebentar," kata Qila, yang ingin memeriksa kotak masuk di hape suaminya. Qila ingin mengecek apakah Hana Kembali berulah atau tidak.


Bram berdiri kemudian memegang kedua bahu Qila. "Qila, kamu ini lagi hamil, kata Dokter, kamu tidak boleh kecapean. Jadi, main hapenya harus dikurangi dan lebih baik kamu istirahat sekarang. Paham kan, sa-sayang?"


Qila tersenyum dan mengangguk. "Hm, paham, sayang." Tak lupa memberi hormat kepada suaminya, lalu beranjak tidur. Bram pun duduk di sebelahnya, menunggu Qila tertidur pulas sambil menatap perut wanitanya. Bram perlahan mengulurkan tangan, ingin membelai perut Qila, namun Bram urungkan. "Tidak, aku tidak boleh sejauh ini bertindak." Bram berdiri, perlahan membuka laci dan mengeluarkan sebuah album di sana.


Bram duduk kembali, dan membuka album itu, kemudian terdiam merenung sambil melihat satu demi satu foto keluarga kecilnya. Bram tersenyum melihat foto mereka masih lengkap, tapi semakin ia membuka lembaran demi lembaran, Bram pun sadar lembaran kosong itu akan diisi hanya bertiga oleh Aila dan Rafka, tanpa foto Aiko dan istrinya lagi.


"Aidan, kamu kenapa?" Qila yang hampir tidur, terbangun gara-gara mendengar seseorang menangis di belakangnya. Ia pun kaget melihat air mata bercucuran di pipi suaminya itu.


"Kenapa kamu menangis, Aidan?" tanya Qila khawatir. Bram tidak bisa berkata-kata lagi, ia memeluk Qila, sangat-sangat erat.


"Aku menya-menyayangimu, La,"


"Sangat merindukan mu,"


"Sangat mencintaimu,"


"Dan sangat takut kehilangan mu."


Qila terdiam. Heran dan aneh, tiba-tiba ayah dari anak-anaknya itu mengungkapkan isi hatinya. Ini pertama kalinya ia melihat suaminya menangis dalam tiga tahun ini. Bahkan Qila merasakan, pelukan ini begitu tidak asing. Seperti ada sesuatu yang mengingatkannya pada seseorang. 'Perasaan ini, rasanya lebih ke Om Bram.' Batin Qila, lalu balas memeluk dan mengelus punggung suaminya yang sesenggukan.


Bram melepaskan pelukannya, dan dengan kedua tangannya, ia memegang wajah cantik Qila. Memandang lekat-lekat bola mata indah istrinya kemudian perlahan menciumnya tepat di bibirnya. Tak hanya itu, Bram juga mengecup bergantian kelopak mata Qila dengan lembut.


"Aku juga mencintaimu, Aidan." Qila membalas ciuman itu dan bahkan lebih dari itu.


.


🥺❤️