Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
67. PTWY 67 # Masuk Penjara



Tok tok tok....


Terdengar pagi ini seseorang mengetuk pintu rumah mertua Aidan. Wira yang siap berangkat berkerja, langsung terkejut adanya dua pria berseragam polisi mendatangi rumahnya.


"Selamat pagi, Pak Wira," kata mereka dengan ramah setelah Wira membuka pintu untuk mereka.


"Ya, selama pagi, ada apa ya Pak, datang ke rumah saya?" tanya Wira dengan tenang dan ramah.


"Sayang, itu siapa?" Kinan datang dan berdiri di sebelah suaminya. Ia pun terkejut juga dengan kehadiran dua anggota dari pihak kepolisian.


"Begini Pak, Bu, kami mendapat laporan dari menantu anda bahwa putri kalian yang bernama Hana telah diduga melakukan rencana pembunuhan terhadap saudara kembarnya sendiri. Oleh karena itu, kami perlu membawa putri anda sekarang juga, dan untuk mengetahui lebih lanjutnya, silahkan ikut kami. Kami akan mengatakan detailnya di sana." Kedatangan mereka langsung menangkap Hana.


"Apa? Hana merencanakan pembunuhan kepada Qila?" Wira dan Kinan terdiam syok.


"Bohong! Itu bohong! Mereka bohong, Pa!" teriak Hana di belakang orang tuanya.


"Bukan aku yang bunuh dia! Mobil yang dia tumpangi itu yang rusak dan pasti Qila sendiri yang kesulitan mengendarai mobil itu. Aku sangat jauh dari tempat kejadiannya, mana mungkin aku yang mencelakai mereka." Bantah Hana marah dan sedikit ketakutan. Tergambar jelas wajahnya yang memucat dan cemas.


"Maaf, Nona. Tapi ada beberapa bukti yang kami terima. Anda terbukti membeli barang berbahaya dari perusahaan XXX dan mengatur kematian saudara dan keponakan anda. Sekarang, mari ikut kami ke kantor polisi."


"Tidak! Aku tidak salah! Mereka yang bunuh bukan aku!" seloroh Hana meronta, namun tenaga dua polisi itu sangat kuat dan berhasil memborgolnya.


"Mereka? Siapa yang kau maksud Hana?" tanya Kinan merasa sungguh tak percaya Hana ada hubungannya dengan kecelakaan Qila dan cucunya.


"Ma, sumpah, bukan aku yang bunuh Qila. Mereka, orang-orang jahat itu yang memperalat ku! Mah, tolong Hana." Hana memohon, namun Kinan dengan raut wajah amat kecewa membuang muka dari putrinya tersebut.


"Pah, maafkan Hana, hiks. Ini bukan salah Hana, Hana ditipu dan dimanfaatkan. Tolong Hana, Pa." Hana pindah memohon bantuan, tapi Wira menggelengkan kepala. Rasa kecewanya sudah lebih besar daripada kepercayaannya yang dirusak oleh putranya sendiri. "Hana, Papa pikir kau akan tumbuh lebih dewasa daripada adikmu, tapi ternyata kau sangat mengecewakan Papa."


"Papa, tidak! Tolong Hana." Hana memberontak namun polisi tetap membawanya.


Bruk...


Kinan jatuh bersimpuh, menangis sangat sedih. Wira membantu istrinya berdiri dan membawanya duduk di sofa. Memeluk Kinan yang sangat hancur karena nasib dua putri kembarnya itu, apalagi Hana yang mau menikah hari ini, kini dipenjara dengan dugaan pembunuhan. "Pa, mana Raiqa?" tanya Kinan terisak dan mencari putra sulungnya yang selama ini juga belum menikah.


"Sudah, tenangkan dulu dirimu. Raiqa mungkin di luar dan dia baik-baik saja. Kita tunggu dia pulang dan pergi sama-sama ke kantor polisi." Wira menepuk-nepuk lembut punggung istrinya.


Sedangkan di sisi lain, Raiqa di rumah sakit terus mondar mandir di dekat Vincent yang duduk di kursi tunggu rumah sakit. Raiqa yang panik, antara takut dan cemas memikirkan kondisi Keyra yang masih ditangani darurat oleh beberapa Dokter. Sementara Aidan, kini berada di bandara. Tak hanya dia, Rayden dan Aila juga ikut, kecuali Arum karena Rafka takut naik pesawat. Meskipun sangat ingin bertemu Ibunya, Rafka lebih takut mati duluan sebelum bertemu Ibunya. Apalagi, dia dan Qila hanya dua hari bersama sebelum kecelakaan terjadi.


Aila yang duduk di dekat Aidan, memegang tangan ayahnya dengan erat. Aidan menoleh, merasakan putrinya sedang tegang dan cemas. "Tak apa-apa, tenanglah, Ila." Aidan membelai kepala putrinya. Aila mengangguk, dan tersenyum. Dalam hatinya, tak sabar memeluk Qila.


Gadis cantik itu menoleh dan melihat Rayden di sebelahnya sedang membaca sesuatu. Laporan dari sekretarisnya yang mendapat surel dari Evan kemarin malam sebelum membawa Vincent. Menantunya itu berkata bawah kecelakaan Qila dan Aiko telah diatur lebih awal oleh musuh bisnisnya sebelum Hana merencanakannya. Dari itu, Rayden sedikit percaya bahwa Evan juga melakukan time traveler bersama putranya, karena memang akhir-akhir ini ia merasa curiga pada mereka soal kembangan robot ciptaan mereka yang telah dilarang oleh pemerintah karena berbahaya.


"Dadi," panggil Aila.


"Hm, apa?" Aidan yang memandangi awan di luar pesawat melalui jendela, ia menoleh kepada putrinya.


"Om Evan, kemana? Sudah lama suami Tante Keyra tidak kelihatan, apa dia sudah meninggal?" tanya Aila.


"Tidak, dia masih hidup dan mungkin sedang bersama Tante mu. Tak perlu khawatir, dia tak akan macam-macam lagi pada Ibumu seperti dulu." Aidan tersenyum, dan yakin Evan akan ia penjara kembali setelah membawa Qila dan Aiko pulang. Aila menunduk dan diam.


Setelah dua jam berlalu, Aidan, Aila dan Rayden tiba dengan selamat. Ketiganya menyewa kendaraan pribadi dan mencari alamat rumah, tempat keluarga itu mengadopsi Aiko.


"Dadi, apakah Momi dan Kak Aiko mengenali kita?" tanya Aila yang duduk di kursi depan dan di dekat Aidan yang menyetir mobil. Sedangkan Rayden di belakang dan sambil menerima panggilan dari sekretaris jika Hana telah dibawa ke kantor polisi. "Bagus, awasi perkembangannya."


"Baik, Pak." Panggilan ditutup dan Rayden menghembus nafas dengan kasar. Ia tak habis pikir, gadis yang dikira baik itu dalam segala bidang, ternyata salah satu penyebab kecelakaan cucunya terjadi. Di lubuk hatinya, Rayden amat marah dan ingin sekali melampiaskannya, tapi sekarang bukan waktunya emosi.


Lima jam menempuh perjalanan panjang dan mencari alamat yang tak kunjung ditemukan, alih-alih, rumah itu menampakkan dirinya sendiri di depan mereka. Rumah besar itu tampak sedang menyelenggarakan sebuah pesta bahagia.


"Dadi, ini sungguh rumahnya?" Aila menunjuk.


"Ayo, Aidan. Kita turun dan cari tau." Rayden keluar dan menyuruh putra serta cucunya turun dari mobil. Mereka mendekati rumah itu yang sangat ramai dengan kedatangan para tamu pesta. "Halo, Pak, permisi, apakah benar ini alamat keluarga Candra Hermawan?" tanya Aidan kepada salah satu bapak-bapak satpam.


"Benar, Pak. Memang ada apa ya?" tanyanya balik.


"Maaf Om, kita ke sini mau jemput Ibu dan Kakak saya," jawab Aila dengan sopan.


"Hm, tapi sebelum itu, di rumah ini lagi ada acara apa ya, Pak?" tanya Aila menunjuk ke dalam.


"Oh, ini ada acara pernikahan putri Pak Candra dan—" putusnya berhenti ketika seorang anak laki-laki yang seumuran dengan Aila memanggilnya.


"Om Yuda! Kenapa berdiri di situ?"


Deg*


Rayden melepaskan kaca matanya, sementara putra dan cucu perempuannya diam terkejut melihat anak laki-laki itu adalah salah satu cucu kembarnya.


"Kak Aiko?" Tunjuk Aila.


.