
Setelah insiden kebakaran mall lima hari yang lalu, hari ini di rumah besar Rayden, semua orang tengah sibuk mengerjakan tugas mereka untuk acara syukuran tujuh bulan Qila. Arum dan Kinan mempersiapkan menu hidangan tamu mereka, sedangkan Bik Ida dan Keyra, mereka berdua membersihkan seluruh rumah. Dibantu oleh para pelayan yang telah disewa untuk acara besok.
"Bik," panggil Qila perlahan, masuk ke dapur dan menghampiri Bik Ida yang sedang mengelap sudut-sudut jendela yang berdebu.
"Ya, nona, ada apa panggil saya?" tanya Bik Ida.
"Lihat Aidan sama anak-anak nggak, Bik?" balas Qila daritadi mencari ketiga bocilnya itu.
"Kamu cari, Aidan, Qi?" sahut Keyra, masuk ke dapur dan menjawab sebelum Bik Ida bicara.
"Hm, iya," angguk Qila pelan.
"Barusan aku lihat mereka di ruang buku, coba kamu cek ke sana," kata Keyra menunjuk.
"Ya udah, aku ke sana dulu," pamit Qila perlahan berjalan keluar sambil memegang perutnya.
"Sini, aku bantu kamu ke sana," tawar Keyra memegang lengan Qila. "Sepertinya, anak ketiga kalian sehat sekali. Pasti nanti berat badannya lebih berat dari Aiko dan Aila, nih," canda Keyra sedikit canggung, karena teringat niatnya dulu ingin mendorong Qila jatuh dari tangga.
"Mungkin begitu," balas Qila tertawa kecil dan senang melihat Keyra tulus membantunya.
Tiba di depan ruang buku dan membuka pintu, dua wanita itu terperangah melihat Aidan terlelap di atas tumpukan buku dan tak sadar dua bocah kembarnya tertidur di atas tubuhnya dengan posisi terbalik. Terlihat ujung kepala Qila berada di bawah ketiak Aidan, sedangkan Aiko kepalanya di antara paha Aidan.
"Puff, anak dan ayah sama saja. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya," ucap Keyra tertawa geli, mengingat dirinya dan Aidan di waktu kecil, melakukan hal yang sama kepada Rayden.
"Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin kami melakukan hal itu terhadap ayah kami," lanjut Keyra tersenyum. Kemudian melihat Qila.
Ia meraih dengan lembut tangan Qila, lalu, "Qila ...." Lirihnya ingin mengatakan sesuatu.
"Hm, apa?" tanya Qila sedikit gugup. Keyra menggenggam tangan Qila kemudian memeluk iparnya itu. "Terima kasih, kau sudah memberikan apa yang terbaik untuknya."
Qila menepuk punggung tangan Keyra kemudian mengangguk dan tersenyum lega. "Hm, aku juga sangat kagum, Kak Keyra bisa sabar dan setegar ini." Balas Qila memeluk Keyra dengan cukup lama.
"Ya udah, aku ke Bik Ida, bantu yang lainnya, kamu ke sana gih, bangunin tiga bocil mu itu, tak baik tidur di jam sore seperti ini." Keyra menunjuk Aidan, lalu pergi ke lantai bawah kembali.
"Huff, ku harap besok semua berjalan lancar." Qila menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembus lega. Setelah itu, ia masuk menghampiri Aidan dengan langkah begitu pelan.
Dengan sentuhan lembut, Qila membelai rambut Aidan.
"Sa....sayang, bangun dong," duduk di sebelah Aidan dan berbisik di telinga kanan suaminya.
"Hei, sudah jam lima sore nih, ayo bangun," sambil mencolek nakal pinggang Aidan.
"Kalau nggak bangun-bangun juga, nggak ada susu malam untuk mu," bisik Qila sedikit mengancam.
Spontan saja, mantra pemanggil jiwanya berhasil membuka mata Aidan lebar-lebar. "Nah, kalau dikasih kode, baru melek tuh mata, dasar mesum!" kata Qila sedikit jengkel, tapi tertawa kecil melihat Aidan bengong setelah menguap panjang.
"Hei, jangan diam saja, cepat bangun, terus angkat anak-anak ke kamar mereka,"
"Ya bentar dulu, susu aku mana?"
"Ihh, malah tanya susu! Aku bilang, nanti malam, bukan sekarang. Cepat bangun," desak Qila. Aidan cemberut dan mengerucutkan bibirnya ke depan.
Ngambek! Bangun tidur langsung ngambek!
.
Harusnya Qila yang dimanja, ini malah sebaliknya hhh..