
"Hm, Pak Brian? Kenapa kamu bisa punya kontak dia, Ai?" tanya Raiqa.
"Ini, dia bukan Dosen biasa, Raiqa. Dari hasil pencarian ku, dia mantan seorang Ilmuwan, dan paham tentang time traveler. Aku merasa dari wajah ca—bulnya ini, dia punya otak lumayan jenius yang bisa membantu kita, tetapi—" ucap Aidan tidak lupa mengejek.
"Tetapi kamu gengsi?" Sambung Raiqa tepat.
"Bukannya gengsi, tapi aku takut dia nanti punya niat busuk seperti Evan," kata Aidan mengepal tangan.
"Tapi menurutku, dia lumayan baik sih, Ai. Cara mengajarnya juga menyenangkan dan tidak membosankan," ucap Raiqa.
"Baiklah, karena ada kamu yang mau membantu ku, aku akan mengajak dia bekerjasama dengan kita. Hanya kita bertiga yang harus tahu dan wajib merahasiakan ini dari siapa pun," tutur Aidan akhirnya tidak punya pilihan mengirim pesan ke kontak Dosennya itu.
Bram yang lagi fokus mencari jejak Evan, menoleh ke sumber nada dering. Bram mengambil hapenya dan terkejut membaca isi pesan Aidan. Ia pun tersenyum karena sudah memprediksinya, tetapi sesaat Bram murung karena tidak ada yang berubah dari apa yang dia alami sekarang.
"Huft, sepertinya memang akan terus dalam jalur, tapi aku harus percaya, dapat menangkap Evan dan mengubah masa depan!" Bram melanjutkan pencariannya setelah mengirim pesan ke Aidan dengan tulisan penuh sopan.
[Suatu kehormatan dapat ajakan kerjasama dari anda, Tuan muda. Sekarang anda tinggal memberi tahukan kepada saya kapan hari yang cocok kita bertemu]
Usai membaca isi balasan Bram, Aidan dan Raiqa sepakat akan bertemu di Minggu depan. Kini Raiqa dan keluarganya pulang malam ini setelah makan malam bersama.
Sekarang, Aidan yang masuk ke dalam kamarnya, sontak terkejut melihat istrinya yang daritadi diam itu tiba-tiba sesenggukan.
"Qila, ada apa dengan mu?" tanya Aidan duduk di sebelahnya. Qila menatap Aidan kemudian menangis.
"Kenapa kamu tidak beritahu aku tentang kematian Om Bram? Kenapa, Ai?" Isak Qila meluapkan perasaannya yang sedang bersedih.
Aidan menarik Qila, mendekap tubuh istrinya dengan hangat. "Maaf, Qila, aku hanya tidak ingin kamu selalu memikirkan pria itu," ucap Aidan.
"Jahat, harusnya kamu beritahu aku! Om Bram itu orang yang aku sayang, dia baik dan selalu perhatian padaku saat aku berjuang sendirian di luar negeri. Harusnya kamu jangan sembunyikan kematiannya dari aku, Aidan," tangis Qila dan memukul-mukul dada Aidan.
Aidan tentu sedikit sakit mendengar ada pria lain yang disayang Qila, tetapi dia juga sadar, kebaikan Bram lebih besar daripada dirinya.
"Hik, Om Bram juga jahat! Dia berjanji akan terus di samping ku sampai si kembar besar, tetapi sekarang dia malah mati setelah aku kembali padamu, dia pembohong, kalian berdua sama-sama pembohong!" Qila memekik dan masuk ke dalam selimut. Lanjut menangis di sebelah Aidan.
Aidan berbaring di sebelahnya, menghembus nafas dan menatap punggung Qila. Membiarkan Qila menangis.
"Qila, aku tidak masalah air matamu itu untuk Bram malam ini, yang penting, kuharap hatimu tetap selalu untukku." Aidan membatin kemudian dengan perlahan memeluk Qila dari belakang. Membelai rambutnya dengan lembut. Qila yang sesenggukan pun berbalik badan dan menenggelamkan wajahnya ke dalam dada Aidan. "Hik, Aidan ..."
"Hm, apa?" tanya Aidan meliriknya.
"Apa aku boleh jadi model?" Qila mendongak dan bertanya.
"Model? Kenapa?" tanya Aidan bingung. Ia pikir Qila mau minta dicium, tetapi malah model. Buat apa, coba?
"Dulu, aku punya cita-cita, menjadi model adalah keinginanku dan Om Bram pernah bilang kalau aku cocok menjadi model. Ini bisa membuat ku diperhatikan semua orang. Sekarang, apa aku boleh mewujudkannya?" mohon Qila mengusap air matanya.
"Loh, tapi sekarang kamu sudah banyak dikenal orang, untuk apa jadi model lagi?" tanya Aidan sedikit ragu.
"Aku cuma ingin Om Bram senang melihat aku mewujudkan cita-citaku dari atas sana, Aidan," ucap Qila menunduk.
Aidan tertegun, sungguh rasa sayang Qila memang besar pada pria itu. Dengan perasaan ragu-ragu dan terpaksa, Aidan pun mengangguk. Mengiyakan keinginan istrinya yang sedang hamil itu.
"Terima—terima kasih, Ai," ucap Qila memeluk suaminya, cukup membuatnya tenang. Tetapi tidak untuk Aidan yang dilanda khawatir. Namun, demi Qila dapat tersenyum dan bahagia lagi, Aidan harus mendukung terus impian istrinya itu.
"Sama-sama, sayang." Aidan mengecup kening Qila dan mengelus punggung istrinya agar tidak bersedih lagi.
.
🥺Ululu, sayangnya Aidan dan Qila seluas Galaxy🤧❤️