
"Saya belum tahu alamatnya di mana, tapi setiap saya bicara pada Nona di telepon, saya sempat mendengar Nona tinggal di sebuah Vila miliknya," kata Bik Ida.
"Kalau begitu, sekarang aku harus pergi mencarinya, mumpung Keyra tidak bersamanya sekarang," decak Aidan.
"Jangan, Aidan!" Cegah Qila menahan tangan Aidan.
"Hm, apa?" tanya Aidan.
"Sebaiknya jangan emosi dulu, dan lebih baik kalian selesaikan ini dengan baik-baik," ucap Qila memohon, tidak mau perseteruan Evan dan Aidan berlanjut.
"Baiklah, terima kasih sudah menasehati ku." Aidan mengecup kening Qila, kemudian siap keluar.
"Dadi! Na mawu pelgi mana? Ayila na Ayilo mawu na pelgi juga!" Pekik Aila teriak. Hampir tidak melihat ayahnya pergi.
"Ehh, tidak usah! Kalian di sini jaga Momi! Dahhhh!" Aidan secepatnya kabur. Qila dan Bik Ida tertawa kecil melihat Aila cemberut, terutama Aiko yang juga kesal karena Aila terus salah memanggil namanya.
Tiba di markas rahasianya, Aidan masuk dan menghampiri Raiqa yang selalu datang ke sana setelah dari kampus. Ia ingin mencari Vila yang pernah dibeli oleh Keyra atau Evan.
"Yoh, Aidan! Pas sekali kamu datang! Ada tugas baru untuk kita," kata Raiqa.
"Tugas? Dari siapa?" tanya Aidan duduk di kursinya.
"Nih, ada beberapa subjek yang kita perlukan di markas ayah mu dan ini perlu untuk melengkapi rancangan mesin waktu kita," kata Raiqa memberi selembar kertas.
"Dari mana kau dapatkan ini?" tanya Aidan.
"Siapa lagi kalau bukan dari Pak Dosen kita," ucap Raiqa menunjuk kursi kosong milik Bram yang sudah bergabung dengan mereka. Pria itu sekarang sedang fokus ke tempat Evan berada. (Bukan Black)
"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawab Raiqa.
"Oh ya, kau sedang mencari apa?" lanjutnya bertanya.
"Nih, bantu aku cari alamat Evan, aku mendapat petunjuk dia bersembunyi di sebuah Vila," ucap Aidan dan juga menceritakan soal Keyra yang telah pulang ke rumah.
Raiqa pun langsung paham, dan segera membantu. Tidak makan waktu lama, mereka berhasil menemukan letak Vila Keyra.
"Bagus, sekarang kita bagi tugas! Aku yang akan ke sana, dan kamu yang mengambil subjek itu di markas ayah mu," kata Raiqa ingin memberi pelajaran juga pada Evan.
"Kau tenang saja, aku datang ke sana dengan beberapa orang," tambah Raiqa percaya diri, sudah bertambah kuat.
"Baiklah, kau hati-hati." Setelah Raiqa pergi, Aidan pun kembali mengerjakan tugasnya dari Bram. Memastikan hari yang tepat masuk ke markas Rayden untuk mengambil subjek data tanpa diketahui orang lain di sana. Dari hasil yang Aidan dapatkan, waktu yang cocok ke sana adalah di akhir tahun ini, karena Rayden memberi bawahannya cuti beberapa hari.
"Oke, aku akan ke sana Minggu depan! Setelah mengambil apa yang kubutuhkan, aku masih ada waktu untuk pergi ke puncak." Aidan pun mempersiapkan diri untuk membobol markas ayahnya. Sedangkan Bram, ia tiba juga di tempat persembunyian Evan, namun di bangunan kosong itu hanya ada barang-barang rongsokan.
"Ck, kemana dia sekarang?" decak Bram kecewa pada dirinya sendiri yang terlambat. Ia pun pergi dari sana dan menelusuri jalan di depannya. Seketika bersembunyi, saat beberapa gangster jalanan sedang berkumpul. Tampak babak belur dan tiba-tiba menyebutkan nama seseorang yang mengalahkan mereka, yaitu Evan yang telah bertambah jauh lebih kuat dari sebelumnya dan kini pria itu berada di sebuah bar casino.
Bram pun bergegas ke bar itu, meringkus segera Evan. Sementara Black, sudah tidak ada di Vila, karena tujuannya kali ini untuk mengambil senjatanya di markas Rayden. Seperti yang telah terjadi di masa lalunya, Black dan Aidan bertemu di sana, sedangkan Evan berhadapan dengan Bram langsung.
Pertarungan sengit di antara mereka tak dapat terelakkan lagi dan di waktu yang sama, Keyra juga kembali berniat jahat pada Qila.
Untuk sekarang, siapa yang akan jadi penyelamat Qila?