Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
34. PTWY 34 # Ibu Mertua Keyra



Pesta yang seharusnya meriah, hanya dirayakan oleh Aidan, Qila, Hana, Bik Ida dan si kembar. Rasanya benar-benar kurang tanpa kehadiran yang lain. Dan sore ini, mereka berlima bersiap pulang.


Aidan yang sedang memasukkan barang-barang si kembar ke dalam mobil, tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan Qila.


"Aidan...." panggil Qila perlahan.


"Hm, kamu kenapa?" tanya Aidan, melihat Qila yang bersedih.


"Itu, Ke—keyra, kata Mama, dia keguguran," jawab Qila dengan nada lirih.


Aidan merasa terkejut dan sedih ketika mendengar kabar dari Qila bahwa saudara kembarnya, Keyra, telah keguguran. Ia merasa sangat prihatin dan berduka atas kejadian yang mengecewakan ini.


"Aidan, sebelum kita pulang ke rumah, kita singgah dulu melihat Keyra,"


"Yah, baiklah, kita harus ke sana terlebih dahulu." Aidan meraih dan menggenggam tangan Qila, mencoba tegar dan memeluk Qila dengan lembut. Tak hanya mereka saja yang sedih, Bik Ida pun juga merasakan kesedihan itu. Kecuali, Hana yang tampak tak bisa berkata-kata di sebelah si kembar.


Sementara keluarga Evan, mereka juga merasa sedih atas kehilangan calon anggota baru mereka, terutama Kakak Evan tak menyangka pada adiknya yang menghasut Keyra untuk membunuh Qila. Rasa kecewanya semakin besar pada Evan yang tak berperasaan itu. Sifatnya seperti Ibunya yang dari awal tidak menyukai pernikahan Keyra dan Evan. Oleh sebab itu, ekspresi yang dibuat oleh Ibu mertua Keyra saat ini, tampak biasa-biasa saja.


"Ma, Pa, Bang Raiqa mana?" tanya Hana yang telah sampai di rumah, dan menghampiri orang tuanya.


"Dia ada di rumah sakit, menjaga Keyra," jawab Wira dan Kinan. Hana memutar bola mata malas, "Sudah aku bilang dari kemarin, tapi Bang Raiqa masih tetap mengejar Keyra." Hana yang capek dari perjalanan pulang, ia menuju ke kamar untuk istirahat. Melihat sifat Hana yang kurang baik itu, membuat Wira dan Kinan juga sedih. Hana benar-benar tampak sulit mengubah sifat dan nada bicara arogannya itu.


Kini, di rumah sakit. Terlihat Keyra hanya sendiri di ruang rawatnya. Menatap kosong ke pohon di luar sana sambil mengelus perutnya yang rata.


"Baby, maafkan Mama," lirih Keyra menangis diam, tanpa air mata. Karena sejak kemarin, air matanya sudah kering setelah merenungi perbuatannya.


"Mungkin, ini yang terbaik untuk mu, tapi Mama masih belum ikhlas kamu pergi, sayang." Keyra sesenggukan.


"Coba lihatlah, sudah beberapa hari berlalu, dia tidak menghubungi kita, ayahmu itu memang kejam! Lebih kejam dari musuh kakek mu,"


"Aku—aku membenci mu, Evan!"


"Sangat benci sampai-sampai ingin membunuh mu." Keyra merem4s selimut dan menunduk. Tersedu-sedu sendirian dan marah-marah. Namun, perlahan suasana di dalam sana pun kembali hening. Keyra menatap dengan kosong ke pohon di luar sana. Hanya terus seperti itu sepanjang hari, dan membuat Rayden dan Arum makin prihatin.


Karena Keyra, Rayden segera menyuruh anak buahnya mencari Evan. Mau mati atau hidup, mereka harus membawa kepala Evan di hadapannya. Belum juga ada dua jam, tiba-tiba ada informasi dari sekretarisnya yang mendapatkan Evan telah tertangkap. Namun, orang yang berhasil menangkap Evan, tak memberikan identitasnya.


"Tak usah memikirkan siapa itu, sekarang bawa si berengsek itu dan jebloskan langsung ke penjara sebelum kesabaran ku habis," kata Rayden dengan nada dingin. Seandainya saja Arum tak melarangnya membunuh Evan, Rayden sudah yakin akan menghabisi nyawa pria itu.


"Sialan, lepaskan aku! Kalian tak punya hak membawa aku! Aku tak punya salah apa-apa, BAJINGAAAAN!" Evan memberontak ketika dibawa paksa oleh beberapa anak buah Rayden.


"Dengar kalian semua! Jujur, aku tak pernah ada niat membunuh Qila! Kalian semua sudah dibohongi! Aku di sini sedang di fitnah! Sadarlah, bodoh!" pekik Evan, diseret tanpa ampun. Ingin melawan, tetapi kedua tangan dan kakinya diborgol dengan ketat.


*PLAK!


Sebuah tamparan melayang di pipi kanannya. Evan melotot dan terkejut mendapatkannya dari Raiqa yang langsung mencengkeram kerah lehernya dengan tatapan penuh kebencian.


"Evan, aku nggak nyangka, kau berani sejauh ini. Memang benar kau menyukai Qila, tapi tolong buka mata kau lebar-lebar dan lihat dengan jelas bahwa Qila sudah bersama dengan Aidan. Berhenti mengutamakan ego dan perasaan mu itu! Kau hanya membuat Keyra tersiksa! Dan itu, menyakiti dia! Pahami perasaan Keyra, bodoh!" ujar Raiqa memarahinya habis-habisan.


"Sekarang, aku sudah tak lagi menganggap mu sebagai sahabat. Kau terlalu bahaya berada dalam keluarga kami, kau hanya layak berada di balik jeruji besi ini selamanya." Raiqa melepaskan cengkeramannya dan berbalik pergi.


"Tidak, Raiqa! Berhenti dan tolong aku!" Evan menjerit-jerit dan bingung kenapa dirinya dipenjara tanpa tahu alasannya. Tiba-tiba difitnah dan sekarang semua orang menjauhinya.


"Akhhhh, BAJINGAAAAN kau, Aidan! Ini pasti ulah mu!" Evan meneriaki Aidan di dalam penjara. Hanya sendiri dalam kesunyian. Tak sadar, air matanya bercucuran.


"Bodoh, kenapa aku harus sedih begini sih?! Harusnya aku marah! Tapi ke—kenapa jantung ku perih begini." Evan mencengkeram dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Jatuh terduduk dan merasa putus asa.


Sementara Bram, ia tampak tersenyum lega mendapat info Evan sudah dipenjara dengan hukuman selama sepuluh tahun, maka artinya Qila bisa aman. Tetapi, seketika, Bram duduk dan memegang kepalanya. Benar, ini memang yang akan terjadi!


"Arghh, sial, apa semua ini memang hanya sia-sia?" Bram mencoba tenang dari ketakutannya atas kematian Qila di masa depan. Ia berharap, sangat berharap Qila tidak dibunuh oleh Evan. Namun, tiba-tiba, ia diam, memikirkan sesuatu.


"Sebentar, aku baru ingat, di malam akhir tahun, aku dulu berhadapan dengan Evan, tapi di waktu yang sama, kemarin aku menemukan Evan di bar casino, jadi—"


"Siapa orang yang dulu menyusup ke markas Papa?"


Bram berdiri, tersadar akan sesuatu yang aneh dan ganjal. Seluruh tubuh Bram pun gemetar. Tak terbayangkan ternyata, Black masih hidup sekarang.


"Oh SHI—HIIT!"


"Bodoh! Bagaimana dia bisa selamat?" Bram yang panik. Ia bergegas pergi ke markas Aidan. Menggunakan alat di sana untuk melacak keberadaan Black. Gara-gara terlalu fokus pada ancaman bagi Qila, Bram lupa dengan pria yang waktu itu bersama Keyra. Yang saat ini, Black tampak diam dan merenung di tempat persembunyiannya.


"Dipikir-pikir, semuanya memang masuk akal. Aku sendiri yang membuat diriku dipenjara di masa lalu dan juga tak mengetahui keberadaan anak itu, arghhh!" Kesal Black merasa kecewa dan bersalah. Rasanya, ingin mengumpat pada dirinya sendiri sekarang. Kalau begitu, apa yang akan dilakukan Black selanjutnya?


...


Nah loh, beginilah dampaknya kalau ke masa lalu, susah nebak siapa yang salah dan benar diantara kalian berdua🥲 dan begitulah, fitnah lebih kejam dari pembunuhan🥀


Malang juga nasib kau, Van. Pernah sekarat, dipenjara, difitnah, kehilangan anak, jadi buronan Mafia dan lagi Keyra mulai membencimu😅cuma bisa tersesat tanpa arah😿


Jangan lupa like ya❤️


Biar author semangat nulisnya😍