Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
65. PTWY 65 # Aiko dan Qila masih hidup?



Karena paksaan putranya, Rayden bergegas ke sana membawa mobilnya bersama Aidan, dan meminta anak buahnya datang ke rumah Wira untuk memberitahukan bahwa Hana salah satu pelaku dari kecelakaan Qila.


"Nih, minumlah dan tenangkan dirimu." Sambil menyetir mobilnya, Rayden memberikan sebotol air mineral.


"Makasih, Pa." Dengan tangan gemetar, Aidan meneguk isinya dan terus berharap kedua orang yang ia sayang itu masih hidup. Seandainya saja, Aidan sudah tenang sekarang, Rayden mungkin akan bertanya apa yang dialami putranya selama melakukan time traveller, namun suami Arum yang sudah berumur 55 tahun itu, ia mengerti jika yang lebih penting dulu adalah kepastian cucu dan menantunya.


"Keyra, mau kemana kau!?" Tahan Arum yang juga sudah berumur tua namun, terlihat masih muda dengan perawatannya.


"Ma, aku cuma mau keluar, sebentar saja, pengen hirup udara segar." Senyum Keyra dan melihat dua keponakan kecilnya di sana yang tidur setelah sepanjang malam menangis.


"Mama, gak usah cemas, ada Raiqa yang bersama ku, kok." Lanjutnya kemudian pergi ke mobil Raiqa. Arum kembali duduk di sisi dua cucunya dan mengambil foto di tangan Aila. Foto Qila dan Aiko. Tak terasa air matanya jatuh berlinang. Rindu pada cucu dan menantu pertamanya.


"Maafkan Mama, waktu itu tak bisa berbuat apa-apa untuk kalian." Tangis Arum. Kemudian tidur di sebelah Rafka dan memeluk kedua cucunya.


"Kau sudah dapat kabar dari Aidan, Key?" tanya Raiqa yang menyetir mobil dan melirik Keyra yang memegang surat cerai di tangannya. Terlihat diam merenung karena setelah pernikahan Aidan besok digelar, Keyra akan mendatangi rumah Evan dan memintanya menandatangani surat itu.


"Key," panggil Raiqa lagi.


"Hm, tadi kau tanya apa?" tanya Keyra menoleh.


"Itu, bagaimana dengan Aidan? Apa sudah ada kabar?"


"Belum, sepertinya dia akan cukup lama kembali ke sini," ucap Keyra menunduk.


"Hm, ku harap dia baik-baik saja." Hembus Raiqa dan tetap mengkhawatirkan keselamatan Aidan.


"Oh ya, aku ingin ke sana, kita singgah dulu yuk," pinta Keyra menunjuk taman hiburan malam.


"Baik." Senyum Raiqa dan mengangguk. Paham sekali, kalau Keyra sedang butuh kedamaian dan hiburan. Raiqa dan Keyra pun masuk dan mencoba beberapa wahana dan juga sesekali melihat anak-anak bersama kedua orang tua mereka.


"Rai, kalau saja semuanya masih hidup, mungkin kita bisa ke sini bersama-sama seperti keluarga bahagia. Tapi sayang sekali, itu hanya angan-angan saja." Keyra menghela nafas berat.


"Kau merindukan anak mu?" tanya Raiqa tiba-tiba sambil memakan permen kapas dan melihat wanita di dekatnya berhenti menyeruput jus botol.


"Ya, tak hanya dia, aku juga rindu pada Aiko dan Qila. Mereka terlalu cepat pergi, Rai." Isak Keyra. Raiqa menarik kepalanya, mendekap Keyra. Menenangkannya yang bersedih lagi.


"Oh ya, kau di sini dulu, aku mau cari toilet," ucap Raiqa ingin pipis. "Hm, aku tunggu di sini." Angguk Keyra paham dan kembali menghabiskan isi jusnya, kemudian memakan sisa permen kapas Raiqa. Asik sendirian memandangi anak-anak di sana, tiba-tiba Keyra melihat ada seseorang memperhatikannya, lalu pergi dari sana.


"Hei!!" panggil Keyra mengejarnya karena terlihat mencurigakan. Ia menerobos kerumunan orang-orang dan berhenti di depan sebuah air pancuran yang sepi dan tak jauh dari taman hiburan. "Hm, kemana dia?" gumam Keyra dan berbalik badan. Sontak, mundur secepatnya saat pria berjubah hitam itu berdiri di depannya.


"Siapa kau? Kenapa menguntit kami?" tanya Keyra dan berjaga-jaga dari serangan orang itu.


"Huff...." hembus orang itu membuka tudung kepalanya dan melihat luruh ke Keyra yang terkejut di sana.


"Hm, sekarang lihat sendiri, siapa yang menguntit kemari," ucap Evan kepada istrinya itu.


"Sudah hampir lima tahun, kau tak sedikitpun berubah istri ku," lanjutnya tersenyum.


"Istri? Kau bilang istri? Setelah apa yang kau lakukan selama ini, kau masih berani menyebut itu? Pergi kau, pembohong!" ujar Keyra marah-marah dengan mata berkaca-kaca.


"Pergi? Kau suruh aku pergi? Tapi aku tahu, kau sebenarnya sangat ingin menemuiku, kan?" Senyum Evan.


"Tidak!! Gara-gara kau, aku kehilangan anak ku. Aku tak sudi! Berhenti tersenyum seperti itu. Aku benci kau, Evan!" kelakar Keyra geram dan mengepal tangan.


"Baiklah, mumpung kau ada di sini, aku mau kau menandatangi surat cerai kita. Setelah itu, kita tak perlu lagi saling bertemu dan jangan ganggu kami." Keyra mengeluarkan surat itu dan melemparkannya. Evan menangkapnya dan kemudian merobeknya sebelum dibaca. Membuat Keyra semakin marah.


"Evan! Apa sebenarnya yang kau mau? Qila dan Aiko sudah tidak ada, wanita yang kau sukai itu sudah meninggal. Sekarang apa lagi yang kau inginkan?" Tatap Keyra benci.


"Mudah sekali, aku hanya ingin anak itu." Jawab Evan tersenyum lagi.


"Haha, meninggal? Dia tidak meninggal, sayang. Anak kita itu masih hidup."


Deg"


Keyra diam terguncang. Kemudian menunduk dan menahan gemuruh di hatinya yang berkobar-kobar.


"Haha, kau sudah gila," cicit Keyra mencibir.


Evan maju, membuatnya mundur. "Ka-kau mau apa?"


"Berhenti, jangan mendekat!" Pekik Keyra namun Evan terus mendekatinya dan seketika menggenggam pergelangan tangannya. "Aku tak gila, tapi ayah kau yang gila. Sekarang kemari dan ikut aku membuktikannya sendiri," seloroh Evan namun tiba-tiba Raiqa datang meneriakinya. Evan segera menarik Keyra ke belakangnya dan berhadapan dengan ipar dari iparnya itu.


"Evan? Lepaskan, dia!" lantang Raiqa marah.


"Lepas? Kau yang hanya orang lain menyuruh saya lepas? Dia istriku, harusnya kau sadar diri." Cemoh Evan kemudian melemparkan sebuah bom asap lalu kabur membawa Keyra.


"Evaaan!!!" Raiqa berteriak marah besar dan perlahan jatuh pingsan karena asap itu berisi obat tidur.


"Ka-kau mau membawaku kemana! Lepaskan aku! Turunkan aku!" bentak Keyra, namun Evan terus menyetir mobilnya.


"Jika kau tak mau diam, aku akan terjun ke jurang ini," ancam Evan melirik Keyra yang akhirnya diam di sana.


"Tenanglah, aku hanya butuh dirimu untuk memancing anak kita itu keluar dari sana." Evan kemudian membelai kepala Keyra namun segera ditampar.


"Jauhkan tangan kotormu itu," celetuk Keyra menjauh dari Evan. "Ck, sifatmu memang sudah kembali ya, Key. Dulu kau sangat lembut padaku, sekarang kau lebih galak dan juga cantik." Tatap Evan tersenyum smirk.


"Huekk, aku tak butuh pujian palsu itu." Keyra mual dan muak mendengarnya.


"Terserah apa kata mu, yang jelas malam ini aku serius," ucap Evan kembali menatap ke depan. Kini Keyra menunduk dan bingung harus berbuat apa. Namun tiba-tiba, akibat ucapan Evan, membuat matanya membulat sempurna.


"Dan kau tahu, Qila dan Aiko masih hidup."


"Hidup? Ba-bagaimana kau bisa seyakin itu mengatakannya?" tanya Keyra.


"Karena aku dan Aidan telah kembali dari masa lalu." Senyum Evan menyeringai dan berpikir Keyra takut, namun ternyata wanita itu memberinya berbagai pertanyaan.


"Hah? Dari masa lalu?"


"Kau ke sana bersama Aidan?"


"Bagaimana bisa secepat itu?"


"Lalu dimana Aidan?"


"Dan sekarang Qila dan Aiko berada di mana?"


"Evan, jawab! Jangan cuma nyengir-nyengir saja!"


Keyra menarik lengan pria bermata biru itu.


"Dan, sejak kapan kau melakukan operasi mata kirimu? Bukannya dulu mata mu buta?" lanjutnya lagi menunjuk mata Evan. 'Hm, mata kiriku kembali? Bagaimana bisa?' Evan meraba matanya dan benar saja dapat melihat lagi. Sepertinya program data yang Evan buat berhasil mengembalikan kerusakannya. Apa ini keajaiban time traveller itu?


Di sisi lain, seorang anak laki-laki mirip dengan Aidan, ia tampak berdiri berdua dengan seorang wanita dan menatap sebuah kuburan. Meletakkan bunga mawar hitam malam-malam di sana dengan tatapan sayu. "Maaf, baru datang malam ini mengunjungimu, Ibu."


.


🥺Makam siapa itu ?