Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
78. PTWY 78 # Perpisahan [Tamat]



"Woah, Momi, lihat. Istelli Om Laika cantik!" tunjuk Rafka.


"Iya, tapi sepertinya Om Raiqa tidak suka," ucap Aila.


"Iyalah, Om Raiqa kan nikahnya dipaksa, tidak seperti Momi dan Dadi dulu," kata Aiko membuat Aidan dan Qila tersentak kemudian menunduk agak malu. Tentu saja ucapan Aiko tidak begitu benar. Mereka berdua juga awalnya terpaksa karena keadaan masing-masing dan itu semua juga ulah Aidan sendiri alias Bram.


"Selamat ya, Kak. Semoga resepsi pernikahan kalian berdua berjalan lancar seperti ini," ucap Qila pada Raiqa.


"Hm, terima kasih Qila," balas Raiqa dan tersenyum. Begitupun calon iparnya juga tersenyum dengan tulus, namun tampak enggan menatap Raiqa. Terlihat keduanya saling bermusuhan satu sama lain. Tentu karena, mereka berdua adalah rival di dalam game yang akhirnya dipaksa untuk menikah.


"Momi, ayo jalan-jalan ke situ!" Rafka menunjuk menara Eiffel. "Woah, Aila juga mau ke sana, Aunty!" rengek Aila.


"Lafka juga mau ikut!" sambung bocah kecil itu juga dan termasuk Aiko ingin ke sana bersama dua adiknya.


"Ya sudah, kalian bertiga izin dulu ke orang tua," ucap Keyra. "Yeyy, asik!" Mereka pergi meminta Izin kepada Aidan dan Qila. Setelah mendapat persetujuan, Keyra membawa empat anak itu ke menara Eiffel, tak lupa Qila dan Aidan ikut untuk melihat kelakuan tiga anaknya, kecuali Rayden dan Arum karena pasangan satu ini sedang berbincang-bincang kepada Kinan dan Wira. Tiba di sana, terlihat ada banyak orang di sekitar mereka. Seperti pasangan kekasih, anak-anak, dan juga orang tua yang menikmati masa-masa tua mereka. Udara pun terasa sejuk dan segar, ditambah terik matahari tidak begitu panas.


"Momi, Aunty! Sini, kita foto balleng!" panggil Aila melambai-lambai di samping Aiko dan Rafka. Tampak sangat bahagia bisa berkumpul dengan mereka di tempat yang indah.


"Mami, Tante, Ayo ke sana," ajak Vincent memegang tangan kedua wanita muda itu, kecuali Aidan disuruh memotret mereka.


"Puff, tak usah ditekuk begitu wajahnya, sayang." Qila sedikit tertawa melihat Aidan cemberut.


"Ya sudah, kalian saja ke sana biar aku yang foto." Keyra mengambil kamera di tangan Aidan.


"Mami, tidak mau?" tanya Vincent.


"Mau kok, tapi kalian saja yang foto duluan, sayang," jawab Keyra tersenyum. Vincent mengangguk dan menarik Aidan serta Qila mendekati tiga anak mereka.


"Hei, Aidan! Posisinya yang benar dong!" pekik Keyra mulai mencari moment yang pas dan setelah mengambil satu foto yang cukup bagus, seketika arah mata Keyra teralih ke seseorang di belakang sana.


"Kau kenapa, Key? Mata mu sakit?" tanya Aidan melihat Keyra mengucek-ngucek kedua matanya.


"Itu, barusan aku lihat Evan di sana, kalian lihat gak?" tanya Keyra dengan perasaan yang tiba-tiba berdebar.


"Mungkin kau salah lihat, ini Paris bukan California." Kata Aidan dan mencari-cari namun tak melihat siapa-siapa. Sontak saja, perhatian mereka beralih ke Qila.


"Aidan, di mana Vincent dan anak-anak?" tanya Qila tak melihat empat bocah mereka. Namun seketika mereka bertiga menoleh ke sumber teriakan.


"Vincent! Kembali!! Nanti kamu nyasar!" pekik Aila mengejar Vincent bersama Aiko dan Rafka.


"Hei, anak-anak! Jangan pergi sembarangan!" Aidan meneriakinya, namun empat anak itu sudah jauh. Akhirnya Keyra yang mengejar mereka karena Qila tak bisa berlari secepat itu. Kondisi kedua kakinya belum sembuh total.


"Hm, kau kenapa, sayang?" tanya Aidan melihat Qila meringis dan duduk di sebuah bangku. Qila meletakkan jari telunjuknya di bibir kemudian pindah mengelus perutnya. "Maaf, Aidan, aku tidak bisa mengejar mereka, dan kau harus tau, aku sekarang lagi hamil," jawab Qila sedikit gugup mengatakannya.


"Hamil? Serius, hamil lagi?" tanya Aidan sangat syok mendapat kabar bahagia yang tidak terduga-duga itu.


"Ya, ini gara-gara kau! Aku bilang jangan keluar di dalam, tapi masih saja ngeyel. Akhirnya aku kelepasan lagi." Cubit Qila gemas ke pipi suaminya. Aidan segera memeluk Qila, senang dan bersyukur ada bibit baru lagi untuk tiga anaknya.


Setengah jam mengejarnya, kini Vincent berhenti di sebuah rumah makan besar. "Vincent! Ayo pulang sebelum Kakek marah." Aila, Aiko dan Rafka berdiri di sebelahnya.


"Tidak mau, barusan Vicen lihat Papi masuk sini." Vincent menggelengkan kepala kepada tiga anak bersweater tebal itu. Benar saja, empat anak yang berdiri di depan pintu langsung diam mematung melihat di hadapan mereka ada pria keluar dari dalam bersama seorang wanita muda.


"Oh, lihat anak itu, dia mirip dengan mu," ucap wanita muda itu tertawa kecil melihat Vincent yang menggemaskan terutama tiga bocah di sebelahnya juga. Namun seketika tawa wanita muda itu lenyap setelah Vincent memanggil pria di sampingnya.


"Papi!!" Vincent langsung maju memeluk Evan. Namun pria blonde dan tinggi itu mendorongnya pelan.


"Hei, nak. Kau salah, aku bukan ayah mu," ucap Evan dan menatapnya bingung. Seketika saja, seseorang menarik lengan jasnya. "Hei, sialan, kenapa kau ada di sini? Katanya kau dalam tahap penyembuhan tapi kenapa kau malah menggandeng tangan wanita lain?" kata Keyra yang sebelumnya terkejut melihat Evan berada di Paris juga.


"Hm, mengapa kau marah tiba-tiba padaku? Memangnya kita berdua pernah kenal sebelumnya?" tanya Evan menunjuk Keyra.


"Ya, pembohong! Jauh sebelum kau kenal perempuan ini, kita sudah saling mengenal dan bahkan sudah pernah menikah! Dan anak ini, adalah anak kita!!" kata Keyra sedikit kesal melihat tampang Evan.


"Heh, benarkah itu? Tapi aku tak ingat apa-apa tentang kalian," ucap Evan memegang kepalanya.


"Kak Van, jangan dipaksakan. Dokter berpesan tidak usah mengingat masa lalumu. Sekarang mendingan kita pulang saja dan abaikan mereka. Mereka mungkin salah orang." Wanita itu menarik Evan.


"Masa lalu? Jangan-jangan Evan amnesia juga? Kalau begitu, apakah mungkin surat itu bukan ditulis olehnya?" gumam Keyra sedikit syok. Sedangkan Vincent menahan tangan Evan.


"Papi, mau pergi kemana lagi?" tanya Vincent merasa sedih melihat ayahnya tak mengenalinya.


"Maaf, dek. Orang ini bukan ayahmu, kalian salah orang." Wanita itu mendorong sedikit Vincent kemudian membawa Evan pergi.


"Mami, itu tadi Papi! Ayo, bawa Papi pulang." Vincent pindah merengek pada Keyra yang menunduk diam. Sedangkan tiga anak Aidan merasa sedih melihat Vincent memohon pada Keyra.


"Ayo, kita pulang," ajak Keyra tak menanggapi permohonan Vincent.


"Mami, tapi itu barusan Papi. Kita jangan pulang dulu," tolak Vincent dan menunjuk-nunjuk asal.


"Vincent, 'kan sudah dengar, orang itu bukan ayah mu, kalian salah orang," kata Keyra membujuk Vincent dan menggendongnya.


"Ayo, kalian ikut Tante pulang," lanjutnya pada tiga keponakannya itu. "Baik, Aunty." Mereka pun kembali ke tempat Aidan dan Qila berada. Membawa Vincent yang menangis di bahu Ibunya.


'Jika memang ini yang terbaik, baiklah, aku ikhlas melepaskan mu, Evan.' Keyra menarik nafas dan kemudian membuangnya dengan sangat berat. Kini, ia hanya akan fokus kepada Vincent semata. Membesarkan Vincent tanpa Evan. Menjadi Ibu tunggal untuk buah hati mereka.


Di sisi lain, Evan menatap telapak tangannya yang sempat dipegang tangan mungil Vincent. Ada gejolak aneh di dalam hatinya yang sulit diartikan. Namun, ia sedikit tersenyum dan berjalan pergi bersama dengan wanita itu.


"Kadang-kadang, takdir memisahkan kita dengan orang yang paling kita cintai. Meskipun begitu, cinta sejati tetap abadi di dalam hati. Mungkin kita telah kehilangan kesempatan bersama, tapi percayalah bahwa cinta kita tak akan pernah pudar. Meski jalur hidup kita berbeda, kenangan indah dan ikatan yang pernah kita bagikan akan selalu ada di dalam jiwa kita. Kadang-kadang, mencintai juga berarti membiarkan pergi. Keyra, dalam detik ini, aku ingin mengucapkan terima kasih atas cinta dan kenangan yang sempat kita jalani bersama. Biarkan cinta kita menjadi bintang yang membimbing jalan hidup kita masing-masing. Aku berharap kamu dan Vincent mendapatkan kebahagiaan yang sejati. Kita mungkin berpisah, tetapi cinta kita tak akan pernah berakhir. Aku akan menyimpan mu dalam hatiku, selalu."



Tamat.


Terima kasih yang sudah membaca perjalanan hidup mereka, maaf bila endingnya kurang happy🥳🤗 sampai jumpa di cerita selanjutnya. Sekali lagi terima kasih dan maaf apabila ada banyak kata salah dari Author🙏