Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
53. PTWY 53 # Kecupan Terakhir



"Bagaimana, apa kau sudah menyelesaikan pencarian mu?" tanya Wira pada sekretarisnya.


"Mohon maaf, Pak. Wanita itu sudah pindah rumah beberapa hari yang lalu dan sekarang saya belum memastikan di mana alamat aslinya."


Karena tidak mendapat hasil memuaskan, Wira menghubungi Rayden, lalu menyuruh mertua dari putrinya itu membantu mencari managernya. Rayden yang juga tengah menyelidiki mantan Dosen anaknya itupun sama halnya tak menemukan alamat asli Bram.


Sudah dipastikan! Mereka menyadari sang manager dan mantan Dosen itu berkomplotan.


"Tapi, kalau memang mereka berdua merencanakan sesuatu, kira-kira apa yang mereka inginkan?" tanya Wira duduk di kursinya dan mendengar jawaban Rayden dari benda elektronik di atas mejanya.


Rayden menjelaskan, bahwa sebelum Wira merekrut wanita itu menjadi manajer, wanita tersebut pernah mempertanyakan soal mesin waktunya.


"Rayden, aku selalu bertanya-tanya, apa memang benar mesin waktu itu sudah kau hancurkan?" tanya Wira.


"Awalnya, mesin itu sudah rusak. Karena terlalu berbahaya aku tidak melanjutkannya lagi percobaan ini. Aku telah mengubur mesin itu ke dalam tanah dengan kedalaman 4 meter dan sudah yakin, mesin itu tidak bisa beroperasi," ucap Rayden dengan santai.


"Lalu, soal wanita itu, sudah berapa lama dia bekerja pada mu?" tanya Wira. Sambil memegang dagu, Rayden pun menjawab, "Hm, dari informasi data yang ku dapatkan, dia baru bergabung padaku setelah semua pecahan mesin waktu itu dikubur. Kemungkinan dia tahu itu, dari informasi dari rekan ilmuwan yang lain di sini," jelas Rayden.


"Berarti dia juga berbahaya! Lebih baik kita segera menangkapnya dan menuntutnya untuk tutup mulut!" kata Wira.


"Sebelum dia mengundurkan diri, aku sudah menuntutnya untuk tutup mulut dan sekarang aku berpikir, mungkin dia sedang dimanfaatkan oleh seseorang," ucap Rayden.


"Dan orang itu adalah mantan Dosen di kampus anak kita?" tebak Wira.


"Ya, aku merasa dia harus segera ditemukan secepat mungkin. Terlepas dari profesinya sebagai Dosen, dia banyak tahu tentang time traveller." Rayden tahu itu dari cerita Keyra kemarin. Wira dan Rayden pun mengakhiri panggilannya. Mereka berdua bergerak, memerintahkan kembali sekretaris mereka untuk segera menyelidiki setiap apartemen yang berdiri di kota ini.


.


Di sisi yang lain, di kamar Aidan. Terlihat pasangan saling mencintai itu berada dalam satu selimut dengan tubuh polos tanpa busana. Perlahan, Bram membuka mata dan menoleh ke samping kanan. Memandangi wajah Qila yang tertidur pulas dengan damai.


Bram beranjak duduk, menyalakan lampu kamar. Setelah itu memakai semua pakaiannya kemudian duduk termenung di samping Qila. Bram sedikit menunduk dan memijat kepalanya. Kemudian mendesis tak karuan.


"Shhhtt, lagi-lagi aku melakukan ini padanya." Bram tersadar telah menyentuh tubuh istrinya. Gara-gara emosinya yang tadi meluap, Bram meminta Qila melayaninya. Tapi, Bram tak perlu cemas karena sebelum melepaskan bajunya, ia mematikan lampu kamar agar Qila tidak melihat bekas luka di tubuhnya.


Bram menoleh, diam sejenak sambil menatap Qila. Perasaannya kembali aneh dan merasakan ada dorongan yang ingin menguasai hatinya.


"Tidak, aku tidak bisa merebut posisiku(Aidan) saat ini, ini bukan ide baik."


Bram yang sudah mandi dan berpakaian lengkap, ia mendekati tempat tidur. Memberikan kecupan terakhir untuk Qila dan mengelus perutnya dengan lembut. Ia sadar telah salah dan tidak seharusnya cemburu pada hubungan Qila dengan Aidan. Bram keluar, berjalan sendirian menyusuri rumah besar itu, kemudian berhenti di depan kamar Rayden.


Bram sedikit membukanya, dan mengintip Arum yang tengah beristirahat di dalam sana. Bram tersenyum lega, Ibunya selalu sehat dan baik-baik saja. Pria itupun berjalan ke pintu utama. Diam-diam melewati penjaga, dan setelah aman, Bram meninggalkan rumah itu secepat mungkin.


Di waktu yang sama, seseorang dengan balutan perban yang penuh di tangan kirinya, tampak ia duduk dan diam-diam mengotak-atik komputer di apartemen Bram. Orang itu sontak terdiam, dengan sorot mata terkejut melihat data-data rahasia yang berhasil dia retas dan temukan di lab khusus milik Rayden.


Orang itu mengenggam erat mouse, menggertak kesal dan dengan penuh emosi menghantam keyboard sampai patah. Ia segera berdiri, namun seketika, karena kedua kakinya yang bergetar hebat itu, ia terjatuh ke lantai. Tubuhnya masih lemah, dan belum sanggup bergerak bebas.


Pada akhirnya, Black yang sempat diselamatkan oleh Bram, ia jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri di depan pintu yang terdengar di luar sana ada banyak langkah kaki. Tidak lain, adalah sekretaris Rayden yang berhasil menemukan apartemen rahasia milik manager Wira yang bertetangga dengan kamar Bram. Mereka menemukan, catatan pencarian mesin waktu Rayden. Wanita itupun resmi masuk ke daftar buronan mereka, termasuk si mantan Dosen anak atasan mereka.


"Pak, apakah kami boleh menggeledah dua kamar apartemen ini?" tanya salah satu anak buahnya, menunjuk bagian milik Bram dan apartemen kosong yang satunya.


Sekretaris Rayden tersebut berdiri di depan pintu. Memandangi sejenak debu di gagang pintu yang terlihat ada bekas tangan, yang berarti apartemen itu berpenghuni.


Meskipun dihuni orang lain, sekretaris itu perlahan-lahan meraih gagang pintu. Bersamaan, Black kembali sadar, dan dengan pandangan tidak jelas, ia melihat ada bayangan seseorang di bawah kolom pintu sedang bersiap masuk.


"BOS! KAMI DAPAT SESUATU!"


*Deg


Black tersentak kaget, setelah mendengar suara sekretaris Rayden menjawab panggilan anak buahnya.


"Apa yang kau dapatkan?" tanya sekretaris itu menjauh dari pintu. Sedangkan Black, berusaha berdiri di dekat pintu, kemudian diam-diam membuka sedikit pintu dan mendengar obrolan mereka yang mendapat sebuah alamat, milik sang manager.


"Siapa yang mereka cari? Apa itu aku?" gumam Black, lalu mengepal tinju. Ingin keluar menghajar sekretaris itu, karena dia lah yang memberi usul kepada Rayden untuk memindahkan bayinya dari perut Keyra tanpa ada orang lain yang tahu, bahkan Bram sendiri tak tahu itu, karena tak pernah lagi mencari tahu isi lab ayahnya.


Namun kondisi Black yang lemah, tak bisa memastikan dirinya menang dari puluhan gangster itu. Black berjalan tertatih-tatih menuju ke sofa, bersandar dan mengatur nafasnya yang mulai tersengal-sengal. Obat buatan dari Bram, masih belum sepenuhnya mengobati luka dari efek radiasi dan ia juga tak habis pikir pada Bram yang menyelamatkan nyawanya.


"Sial, apa dia ingin melihat ku lebih menderita?" Black menutup mata kirinya yang buta, kemudian mencari senjata miliknya. Ia berjaga-jaga dari gangster di luar sana yang mungkin saja masuk menggeledah isi apartemen Bram. Namun, sesaat, suara di luar telah kembali hening dan sepi.


Black mengintip dan melihat situasi sudah aman. Ia pun keluar dan berdiri di tengah pintu milik sang manager yang terbuka lebar. Black melihat, barang-barang di depannya berserakan dimana-mana. Ia masuk dan memungut sebuah foto. Black tersadar foto itu milik istri sang sekretaris di masa depan. Black kembali ke kamar Bram. Setelah meretas situs pribadi Bram, Black menemukan beberapa biodata wanita yang pernah dimanfaatkan Bram. Mereka dimanfaatkan untuk membantu Qila ketika masih hamil di luar negeri dan wanita terakhir yang Bram manfaatkan adalah sang manager.


"Oh begitu, sekarang aku tahu apa profesimu dan di mana kau sekarang, Aidan berengsek." Black tersenyum smirk. Merasa lucu mengetahui Bram yang sering mengganti pekerjaan dan memakai wajah palsu demi mengawasi Qila.