Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
43. PTWY 43 # AKU SANGAT CEMBURU!



Malam ini, angin yang menghembus masuk lewat sela-sela jendela, terasa dingin dan menusuk ke pori-pori kulit. Jam 12 tengah malam, Qila tak sengaja terbangun. Ia pun menoleh ke samping dan melihat lekat-lekat wajah Aidan yang tertidur lelap dan juga tampan.


Cukup lama memandangi wajah suaminya itu, tiba-tiba saja Aidan membuka mata perlahan dan sontak terkejut melihat Qila tak tidur.


"Hm, kamu kenapa belum tidur?" Aidan beranjak duduk dan bertanya sambil mengelus perut istrinya dengan lembut.


"Apa tadi aku sudah melukaimu?" tanya Aidan khawatir, karena sebelum tidur, ia memang meminta jatah malam. Qila duduk dan mengikat rambut panjangnya.


"Bukan itu, aku terbangun begitu saja, tapi—"


"Tapi kenapa, sayang?" tanya Aidan semakin khawatir melihat Qila menundukkan kepala.


"Aku barusan mimpi," lirih Qila gelisah.


"Mimpi? Soal apa? Apa itu buruk atau baik?" tanya Aidan ingin tahu. "Sambil dengar cerita mimpimu, aku pijat kakimu juga, ya," lanjutnya meluruskan kedua kaki Qila, dan dengan lemah lembut memijat kedua betis istrinya.


Qila tersipu dan tersenyum malu-malu. Bagaimana tidak? Aidan sangat perhatian dan selalu mengkhawatirkannya.


"Kayaknya, aku tak perlu deh cerita," kata Qila ragu-ragu, karena dalam mimpinya, Hana merebut semua yang dimiliki Qila selama ini.


"Kalau mimpi buruk, ya sudah... tak usah diceritakan." Aidan mengelus wajah Qila dan mengerti dari sorot mata Qila yang takut.


"Sekarang tidurlah, dan jangan lupa baca doa dulu,"


"Hm, baiklah." Qila mengangguk. Namun, saat hendak membaringkan tubuhnya, tiba-tiba Qila terdiam kaget dan meringis.


"Hm, kau kenapa, sayang? Kau baik-baik saja, kan? Bayi kita di dalam tak apa-apa, kan?" tanya Aidan panik. Takutnya, istri cantiknya itu mau melahirkan tengah malam ini.


"Pufff, bukan itu, coba deh kamu pegang di sini." Qila menarik tangan Aidan dan meletakkannya di atas perut.


Manik biru Aidan seketika membola dengan mulut terbuka lebar-lebar. "Wow, amazing! Aku merasakan ada yang gerak di sini. Apa itu bayi kita?" tanya Aidan dengan wajah polos yang lucu. Ia merasa gerakannya cukup aktif di dalam perut Qila.


"Hm, iya, bayi kita yang sedang semangat nendang di sini. Sepertinya, dia sudah tak sabar ingin keluar melihat kita," kata Qila tersenyum sumringah. Aidan membuka lebar kedua tangannya dan merangkul istrinya dengan hangat. Ia turut bahagia, istri dan anaknya sehat semua. Tak hanya pelukan, Aidan juga memberinya kecupan gratis dan ciuman menuntut di pipi Qila, membuat wajah Ibu hamil itu merah merona.


Sebelum tidur, Aidan iseng-iseng bertanya, "Sayang, dulu waktu kamu mengandung Aila dan Aiko, apakah mereka juga seperti itu?"


Kali ini, Qila pun bertanya, "Aidan, besok Pak Dosen kita datang, kan?" Aidan spontan terbatuk-batuk setelah meneguk air putih di atas meja.


"Maksudnya, Pak Brian?" tanya Aidan, mencoba tenang.


"Iya, Pak Brian, kau tidak lupa kan mengundang dia?" Qila balas bertanya dan melirik curiga suaminya itu.


"Ya, tidaklah! Mana mungkin permintaan istriku diabaikan," kata Aidan tersenyum dan cengengesan.


"Serius? Tidak bohong, 'kan? Kalau sampai bohong, burungnya tak ada jatah lagi," ancam Qila tidak main-main.


"Ehh, jangan begitu dong." Aidan cemberut dan menimpali ucapan istrinya.


"Terus, gimana? Apa Pak Brian besok akan datang?" tanya Qila penasaran. Ingin tahu sampai mana Aidan bersahabat dengan mantan Dosennya itu.


"Iyah sayangku, kau percaya saja deh sama suamimu, dan kau tak perlu lagi membahas dia malam-malam ini. Aku sangat amat cemburu!" kata Aidan to the poin.


"Hihihi, maaf, maaf, jangan ngambek. Yuk, kita tidur lagi," ajak Qila tidak lupa mencubit-cubit pipi Aidan.


"Hm, okeh deh." Aidan balas mencubit gemas hidung Qila. Namun, lagi-lagi, ketika mereka hendak tidur, pintu kamar diketuk dari luar.


"Dadi, Momi!" panggilnya, yang ternyata adalah si kembar.


"Loh, Aila dan Aiko kenapa belum tidur, sayang?" tanya Qila dan Aidan setelah membuka pintu kamar mereka.


"Momi, Dadi, kami takut tidul sendilian," jawab keduanya masih belum bisa melupakan insiden di mall.


"Kalau begitu, sini kalian masuk, tidur sama Dadi," ajak Aidan.


"Yeah, tidul na sama Dadi!" Riang Aila masuk dan menarik Aiko. Sebenarnya, Aiko sudah terlelap, tetapi akibat Aila, dia terpaksa ikut ke kamar orang tuanya.


Kini, Qila akhirnya tidur sendirian di tempat tidur sambil memandangi Aidan yang tidur di kasur lain bersama dua kembar mungilnya itu. Perasaannya kembali gelisah, tapi melihat Aidan dan dua anaknya, rasa gelisah itu perlahan menghilang. "Ya Allah, ku harap mimpi itu hanyalah bunga tidur." Qila dengan perasaan campur aduk, memejamkan mata setelah membaca doa. Memaksakan dirinya tidur dan melupakan mimpi buruknya.