
Pukul 12 tengah malam, suasana rumah yang tadi ramai, telah kembali sunyi dan sepi. Masing-masing, penghuni rumah telah tertidur pulas dengan damai, selain Qila yang masih terjaga akibat memikirkan ucapan Hana.
"Aidan, kamu sudah tidur?" tanya Qila setelah beranjak duduk dan memandangi punggung Bram yang membelakanginya. Bram terlihat gugup, karena bisa tidur bersama dan satu kamar dengan Qila.
"Hm, kenapa? Kau tak bisa tidur?" Bram duduk dan pura-pura menguap. Qila bergeser, ingin memeluknya tetapi Bram tiba-tiba mundur. Qila pun terpaku sesaat kemudian menunduk karena suaminya menjauh.
"Aidan, kamu jangan pikirkan soal ucapan Hana. Jujur, aku tak punya hubungan apapun kok sama Pak Brian, aku sama Pak Brian cuma sekedar murid dan guru, tak lebih dari itu," lirih Qila, cemas suaminya marah atau membencinya.
Bram menghembuskan nafas panjang. Inilah mengapa dia harus mengambil posisi Aidan sementara agar Hana gagal memprovokasi hubungannya. Bram pun tersenyum lega, kemudian mengambil tissu di atas meja. Mengusap lembut dan pelan wajah Qila.
"Tak perlu dipikirkan, yang dikatakan Hana itu hanyalah omong kosong. Dia melakukan itu pasti untuk menjatuhkan mental mu. Sekarang tidurlah, Qila," ucap Bram agak canggung.
Qila semakin menunduk, karena merasa suaminya sedikit berubah. Biasanya, Aidan akan langsung mengusap pipinya tanpa memakai tissu dan ada panggilan sayang di akhir ucapannya.
"Ta-tapi kamu tidak marah, kan?" tanya Qila memastikan.
"Tidak kok," jawab Bram menggelengkan kepala.
"Baiklah, selamat tidur." Qila terpaksa mengangguk dan tidur. Lagi! Qila merasa sedih karena dulu Aidan pasti akan menyelimutinya, tapi kali ini suaminya itu tidur begitu saja.
Dua jam pun berlalu, Qila akhirnya terlelap. Bram yang masih terjaga, diam-diam melirik Qila. Merasa situasi sudah aman, Bram turun dari tempat tidur, kemudian mendekati meja di sudut kamar. Bram membuka laci, dan mencari-cari sesuatu di sana. Ia mencari cincin miliknya.
"Duh, di mana ya dulu aku menaruhnya?" gumam Bram sedikit lupa. Setengah jam mencari, akhirnya Bram menemukan cincin miliknya. Ia pun cepat-cepat memakainya. Namun setelah itu, iba-tiba...
"Aidan,"
*Deg
Bram spontan berbalik badan dan terkejut Qila terbangun di tempat tidur. "Kamu lagi cari apa di situ?" tanya Qila sambil mengucek matanya yang berkabut.
Bram naik ke tempat tidur dan duduk di samping Qila, sebelum wanita hamil itu curiga. "Oh ini, aku barusan pakai cincin pernikahan kita. Rasanya kurang kalau tidak pakai ini," jawab Bram terus terang.
"Hm, tapikan tadi bukannya kamu sudah pakai cincin itu sebelumnya?" ucap Qila merasa aneh.
"Ohhhh itu, aku ingat, cincin yang pertama itu aku lepas dan sekarang aku pakai lagi, hehe," ucap Bram terpaksa, daripada Qila semakin curiga. Detak jantungnya pun sekarang berdegup tak normal. Takut Qila menyadari dirinya bukan suaminya di masa kini.
"Kamu tidur lagi ya, nggak usah banyak tanya." Bram menidurkan Qila dan menyelimutinya. Qila mengangguk dan sedikit senang diperlakukan seperti biasanya.
"Aku mau tidur, tapi sambil peluk kamu." Qila memohon. Bram semakin berdebar-debar, kemudian salah tingkah. "Kamu tidur aja ya, kalau mau peluk, besok saja," tolak Bram agak ragu menuruti kemauan Qila.
"Kenapa kamu tidak mau dipeluk?" tanya Qila sedih.
"A-aku mau kok dipeluk, cu-cuman malam ini lagi capek," ucap Bram dengan alasannya.
"Capek atau memang sudah risih?" lirik Qila.
"Gak kok! Aku tak pernah risih, melainkan aku sangat merindukan pelukan darimu, Qila," ucap Bram terbata-bata. Sebenarnya mau, tapi malu.
"Ya sudah, sini aku peluk," seru Qila tetapi Bram turun secepatnya.
"Ihh, katanya pengen dipeluk, kenapa menghindar? Aku kan sudah mandi dan sudah wangi. Mandi 1 botol handbody rasa susu kambing. Apa karena aku gendut, kamu tak berselera memeluk aku?" Qila menunjuk dirinya.
"Hiks, bohong! Kau bohong!" pekik Qila melempar bantal.
"Please, jangan marah dulu, Qila, aku tak bermaksud mengejek mu," kata Bram melompat dan menghindar dari serangan bantal Qila.
"Tuh kan... kamu juga tidak panggil aku sayang lagi, kamu udah nggak sayang aku," isak Qila menunduk sedih. Emosinya naik turun setiap saat.
Bram memutar bola mata, merasa gemas. Ia pun naik ke tempat tidur dan merangkul tubuh Qila secepatnya sebelum tangisnya di dengar orang lain.
"Sekarang, puas?" Tatap Bram. Qila mengangguk dan balas memeluk. Namun sontak, keningnya mengerut, merasakan ada yang aneh.
"Kenapa?" tanya Bram was-was.
"Hm, sejak kapan bau badan mu rasa lemon?" tanya Qila dengan nada curiga.
"Memangnya kenapa sama bau lemon? Kau tak suka?" tanya Bram dag-dig-dug.
"Soalnya itu bau badan Om Bram," ucap Qila masih ingat.
Bram menelan saliva, diam membisu. Ia lupa memakai pengharum yang dia pakai masa kini.
"Hahaha, itu aku bosan pakai parfum itu-itu," ucap Bram hanya bisa cengengesan dan melepaskan pelukannya.
"Sekarang, kau tidurlah kembali, aku sudah ngantuk nih," lanjut Bram tidur membelakangi Qila lagi, namun Bram kembali kaget saat Qila bersandar di belakangnya.
"Aku gak bisa tidur kalau gak ada sayangnya," bisik Qila ke telinga Bram. Membuat telinga Bram memerah. Pria itu membalikkan badannya, kemudian melihat Qila yang menunggu diucapkan selamat tidur.
Dengan malu-malu, Bram berkata, "Good night, sayang,"
Tapi Qila masih menatapnya. "Kenapa belum tidur?" tanya Bram. "Sunnya mana?" tanya Qila mengulurkan tangan.
"Sun? Apa itu? Kamu minta uang?" tanya Bram kurang paham. "Ihh, Sun itu bukan uang, tapi istilah ciuman, tau!" celetuk Qila cemberut.
"Ayo, cium aku dulu!" rengek Qila sambil mencolek bagian dada Bram.
"Cium di mana?" tanya Bram merasa bodoh, karena hampir tak mengingat semua ingatan masa lalunya.
"Cium di tempat biasanya," jawab Qila dan memejamkan mata, menunggu kiss dari suaminya itu di bibirnya. Tetapi yang dia dapatkan kecupan di bagian kepala dan Qila justru tak merasakan apa-apa.
"Nah, sekarang sudah, jadi tidurlah lagi!" kata Bram lalu membelakangi Qila.
'Hmm, kenapa ya Aidan agak berbeda malam ini?'
'Apa cuma perasaan ku saja?'
'Bahunya juga agak lebih lebar dan tingginya juga agak berubah. Apa suamiku puber lagi? Atau memang aku yang tumbuk pendek?' pikir Qila, kemudian mendengkus dan tidur saja.
Sedangkan Bram masih belum bisa memejamkan mata. Dia memikirkan Aidan yang berada di tangan mantan Ilmuwan Rayden. Bram khawatir, ilmuwan itu melakukan sesuatu pada dirinya. Siapa yang akan tahu, masa depan berubah secara tiba-tiba.
Tetapi, yang terjadi tetaplah seperti yang pernah dialami Bram. Wanita itu sedang mengikat Aidan di sebuah kursi dan menunggu menantu atasannya itu sadar dari pingsannya.