Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
61. PTWY 61 # Hari Kematian Qila



Tujuh jam setelah kelahiran baby Rafka, Raiqa tiba-tiba datang ke ruang rawat Qila, membawa kamera dan mengajak mereka berfoto bersama.


"Hei, Aidan! Foto bareng, yuk! Mumpung baby Rafka ada bersama kita."


"Ha? Foto? Sekarang?" Aidan mengalihkan perhatiannya dari baby Rafka yang tertidur manis di dalam box kaca, setelah baby Rafka susu kepada Qila barusan.


"Yeahh, ayuk Om! Aila suka! Suka banget!" setuju Aila berseru riang, turun dari kursi dan berdiri di sebelah Raiqa.


"Shht, Aila, jangan berisik sayang. Adik kecil mu lagi tidur," tegur Arum dan Kinan yang sedang merapikan baju dan rambut Aiko yang berantakan akibat ulah tangan nakal Aila. Melampiaskan kebosanannya dengan mengacak-acak sang kakak yang daritadi cuma diam.


"Hihihi, ayemsolli, glandma," tawa Aila malu-malu. Qila yang beristirahat di atas tempat tidurnya, cuma bisa tertawa geli.


"Hm, boleh, tapi kita tunggu yang lainnya dulu," ucap Aidan mengangkat baby Rafka dengan hati-hati. Menyuruh Raiqa menunggu Wira dan Rayden kembali dari ruang Dokter.


Tok Tok Tok...


Keyra datang membawa makanan saji dan mahal itu dari luar rumah sakit.


"Hm, Keyra, kemana Hana? Kenapa tidak bersama mu?" tanya Kinan, karena Keyra pergi ke restoran bersama Hana.


"Dia ke hotel, katanya sudah ngantuk, Tante," jawab Keyra memberikan tujuh kotak nasi lezat itu kepada mereka.


"Nih, Qi. Kamu makan dulu, tambah-tambah tenaga." Keyra memberikan satu piring spesial untuknya.


"Hm, terima kasih, Key." Qila tersenyum. Senang mendapat perhatian dari Keyra, dan sedih Hana yang tidak pernah bicara padanya selama seharian ini.


"Ehem, buat aku nggak ada nih?" deham Raiqa melirik Keyra.


"Ihh, Om ntuh udah besal tawu! Nih ambil sendili di atas meja!" ketus Aila membawakan Raiqa kotak nasi. Keyra dan yang lainnya tertawa kecil.


"Ndak usah! Om udah kenyang!" tolak Raiqa cemberut dan berbalik badan.


"Tunggu, om mawu kemana?" tanya Aila menahan tangan Raiqa.


"Mau cari dua kakek mu dulu," jawab Raiqa.


"Wihh, Aila ikut dong, Om!" rengek gadis itu memohon manja dan menarik-narik celana Raiqa.


"Iya-iya, kamu boleh ikut, tapi berhenti tarik-tarik celana, Om! Nanti celana Om melorot, terus keluar burungnya." Raiqa melepaskan tangan kecil Aila.


"Hah, bullung apa tuh?" tanya Aila, membuat yang lainnya terdiam mematung, kecuali Aiko yang menunggu jawaban Raiqa.


"Burung... aduh-aduh, sakit, Key!" ringis Raiqa, melirik Keyra yang menjewer telinganya.


"Kamu ya, udah gede tapi mulut masih nggak bisa dijaga! Pikir dulu kalau mau ngomong, Raiqa! Aila itu masih kecil, mana ngerti begituan," cerocos Keyra mendengkus.


"Hehehe, sorry, habisnya nih anak nggak bisa berhenti ngomong sih," cengir Raiqa menunjuk Aila.


"Ihh, kenapa tunjuk Aila? Aila ntuh ndak salah!" sentak Aila menggigit jari Raiqa.


"Ya berisik, cewek memang nggak pernah salah kok." Kata Raiqa tersenyum dan mengalah.


"Owekk," tangis baby Rafka akhirnya terbangun.


"Astaghfirullah, kalian bertiga, keluar sana cari Papa saja! Gara-gara ribut, baby Rafka jadi bangun." Aidan mendorong Keyra dan Raiqa keluar. Tak lupa menyuruh si peri mungilnya juga keluar.


"Dadi, sulluh Aiko juga keluall!" pinta Aila.


"Aiko, sini, kamu juga keluar, pergi bersama Aila cari Kakek," panggil Aidan.


"Ndak, mawu. Aiko mawu di sini jaga Momi sama dedek Lafka." Aiko menggeleng kepala, menolak dan memeluk Grandma Arum sambil melihat Nenek Kinan membantu Qila untuk menyusui baby Rafka.


"Ihh, Aiko ndak seluh! Aila ndak suka!" celetuk Aila pergi berkacak pinggang dan berjalan menghentakkan kedua kaki pendeknya.


"Astaga, masih kecil sudah pintar musuhan," ucap Raiqa geleng-geleng kepala di sebelah Keyra.


"11 - 12 mirip kalian berdua dulu," kata Aidan menunjuk Raiqa dan Keyra.


"Haha, ciee, ada yang jodoh nih." Goda Aidan.


"Ihh, apa sih, yuk Raiqa. Kita susul Aila. Siapa tahu tuh anak nakal nyasar di sini." Keyra menarik Raiqa pergi.


"Eleh, bilang ajah, malu tapi mau, haha..." tawa Aidan kemudian masuk. Sedangkan Raiqa cuma diam tersipu sambil melirik tangannya yang digenggam oleh Keyra.


"Maaf Evan, kali ini aku telah bertekad akan merebut Keyra darimu." Batin Raiqa dalam hati.


"Atokkk!" pekik Aila melompat tinggi ke arah Rayden, tetapi Rayden mengelak dan akhirnya Wira yang menangkap tubuh kecilnya.


"Astaga, Papa! Jangan begitu, dong. Aila mungkin saja jatuh dan cium lantai kalau tadi Om Wira tidak menangkapnya cepat." Keyra menegur Rayden.


"Lihat sendiri, dari kemarin Papa sudah ajarin jangan panggil Atok, tapi dia masih saja keras kepala. Papa tidak suka orang yang keras kepala," kata Rayden sedikit jengkel.


Aila cemberut kemudian memeluk Wira, menangis manja. "Huwaa... Atok Eden jahat!"


"Puff." Raiqa diam-diam tertawa. 'Lebih bagus kalau dipanggil Edan, watak sombongnya menjengkelkan.'


"Ck, apa yang kau tertawakan?" tanya Rayden melihat sinis kepada Raiqa.


"Nggak kok, Om, hehehe...." Ucap Raiqa sedikit bersembunyi di belakang Keyra. 'Duh, mau rebut Keyra, keknya aku harus rebut hati Om Rayden dulu. Tapi, sepertinya ini akan sulit. Belum juga bicara, sudah dipelototi seperti penjahat.' Batin Raiqa meneguk saliva.


"Sudah-sudah, Kakek Aila lagi sibuk jadi tidak bisa bermain sama Aila," hibur Wira menepuk-nepuk pundak cucu perempuan kecilnya.


"Hm, Papa mau kemana?" tanya Keyra melihat Rayden bersiap pergi.


"Papa ada urusan, kalian duluan saja ke ruangan Qila." Rayden menjawab sambil menepuk kepala Keyra dengan lembut kemudian berjalan pergi, untuk ke markasnya dan melihat baby Vincent yang mau dikeluarkan dari tabungnya. Kebetulan markasnya berdiri di kota yang sama dengan rumah sakit persalinan Qila.


"Ihh, Atok nyebelin! Bawu ketek," seru Aila mengejek.


"Apa kamu bilang?" Rayden berhenti dan melototinya.


"Akhhh, kakek! Atok malah! Aila takut!" pekik Aila memeluk erat Wira. Raiqa dan Keyra pun geleng-geleng kepala melihat tingkah Aila yang nakal dan berani, serta suka memancing sendiri emosi Rayden.


Sedangkan di hotel, Hana yang rebahan di atas ranjang, kembali menggerutu melihat foto dari Raiqa.


"Arrghhh, dasar norak!" Hana membanting handphonenya ke kasur dan semakin cemburu melihat kebahagian mereka.


Sementara Black, ayah si Vincent itu sedang melakukan diam-diam uji coba ke mesin waktu. Ia mengambil seekor kucing jalanan dan meletakkannya ke dalam kaca pemindah objek yang terjamin aman dari pancaran radiasi. Ia berharap percobaan ke 59 ini berhasil dipindahkan ke masa depan dan tidak gagal seperti percobaannya yang lain.


Setelah mengatur waktu dan tempatnya, beserta menstabilkan dan memumasatkan datanya ke dalam inti P-D28, Black keluar dari kamar Bram dan segera menutup pintu dengan rapat -rapat agar cahaya proses pemindahan tidak meledak keluar. Cukup bahaya kalau dia ikut terhisap masuk ke dalam worm hole. Bisa-bisa, Black akan kembali terkena radiasi.


Dua hari berlalu, Black tampak asik makan buah anggur di sebelah Bram yang terlihat masih pingsan. Itu karena, Black memang sengaja telah memberinya obat bius saat Black menyempurnakan mesin waktunya dengan menggunakan catatan Bram. Ia tiba-tiba tersentak kaget setelah suara kucing terdengar mengeong di luar apartemen. Black berlari, membuka pintu dan tercengang melihat hewan itu hidup, namun sayang matanya putih sebelah, membuat Black bergidik ngeri melihat kucing itu buta sepertinya dan suaranya yang sedikit berbeda.


"Cih, cara kerjanya mirip seperti di masa depan, kalau aku pergi sendirian, mungkin aku akan kembali dengan kedua mata yang buta!" Black menutup pintu, membiarkan kucing itu berkeliaran di luar sana. Tiba-tiba, saat Black menutup pintu, Bram yang terbaring di sofa, perlahan terbangun gara-gara suara keras dan getaran dari mesin waktu.


"Woah...woah, tidur mu pasti nyenyak sekali, kan, Aidan," ucap Black sambil melirik pintu kamar Bram dan berharap Bram tidak curiga.


"Shhht, Black, hari apa sekarang?" tanya Bram mendesis, memegang kepala yang masih merasa pusing.


Black tersentak, karena gara-gara fokus pada mesin waktu, ia baru sadar hari ini adalah hari kematian Qila dan Aiko tiba. "Upss, sorry, Aidan, sepertinya kau memang akan terlambat menyelamatkan istri dan anakmu," kata Black tersenyum tanpa merasa bersalah.


"Arghh, kau ini memang bajingaaaan! Kau pasti sengaja kan agar aku melewatkan kejadian itu! Awas saja, kalau sampai aku terlambat, hari ini juga aku benar-benar akan langsung membunuh mu!" Kesal Bram mengambil cepat jas putih kerjanya di atas meja, bergegas keluar sebelum malam kecelakaan itu tiba. Ia berharap, Aiko, putra kecilnya sungguh-sungguh berhasil mencegah Aidan memakai mobil hitam Wira.


"Yaelah, kalau saja aku tidak mau menjadikan mu tumbal untuk kembali ke masa depan, sudah aku habisi kau dari kemarin!" gerutu Black, masuk ke dalam kamar dan mengecek apa yang kurang dari mesin waktu itu. Sialnya, apartemen itu hanya dihuni oleh Bram sehingga tak ada orang lain yang mendengar suara ledakan dan getaran dari mesin itu. Kalau saja ada, polisi mungkin telah bergerak mengamankan tempat itu.


.


Akhirnya gimana tuh🥺❤️


Visual Evan atau Black😆


Maaf kalau fotonya jelek hehe