Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
31. PTWY 31 # Qila Hilang?



Beberapa jam yang lalu....


"WOI, BANG! BURUAN KE SINI!" teriak Hana pada Raiqa yang diam memikirkan sesuatu. Sejak Raiqa dan bawahannya mendatangi Vila Keyra lima hari yang lalu, tempat itu kosong.


'Ish, katanya Evan ada di sana, tapi di sana tidak ada orang satu pun,' oceh Raiqa dalam hati.


"Raiqa, kalau diam saja di situ, kita bisa ketinggalan, Nak," panggil Kinan yang sudah duduk di sebelah Wira yang telah siap menyetir mobil mereka.


"Hm, oke, Ma!" Raiqa buruan masuk dan bersandar di samping Hana.


'Kayaknya, aku langsung tanyakan ini pada Keyra!' batin Raiqa sudah tidak punya pilihan selain memaksa wanita hamil itu.


Tiba di sebuah Vila besar yang terletak di Puncak, keluarga besar Qila segera bergabung ke dalam rombongan Rayden.


"Nenek! Kakek!" pekik Aila dan Aiko lari ke arah Kinan dan Wira. Keduanya melompat ke pelukan Wira dengan riang, Kakek mereka yang jarang sekali bermain dengannya. Kinan menebar senyum bahagia melihat dua cucunya itu tumbuh dengan baik, begitupun Raiqa tak lupa mencubit-cubit pipi gembul Aila. Cuman Hana yang di sebelah Wira tampak tak memberi ekspresi pada dua keponakan mungilnya.


"Aila, Dadi ada sama kalian?" tanya Raiqa yang tak sempat menghungi Aidan.


"Dadi belum sampai sini, Om! Tadi izin na mawu beli hadiah dulu buwat Momi!" jawab Aiko.


"Oh, baguslah." Raiqa mengangguk paham, sebab artinya Aidan sudah bergerak ke markas Rayden.


"Om, na calih siapa?" tanya Aila melihat mata Raiqa mencari seseorang. Sedangkan Wira, Kinan dan Hana menghampiri Arum dan Rayden yang sedang membereskan sesuatu, yang tak lain adalah tumpukan hadiah-hadiah yang diterima dari beberapa penggemar menantu mereka, Qila.


"Oh, kalau begitu, Aila sama Aiko lihat Tante Keyra?" tanya Raiqa.


"Hm, ndak tawu! Tadi Ayila pelgih cuci celana dulu sama Bibi," kata Aila si tukang ngompol. Oleh sebab itu, Bik Ida juga datang bersama mereka.


"Hmm, kalau Aiko, lihat Momi kalian?" tanya Raiqa mulai cemas.


"Ndak juga, tadi Ayiko mawu telus sama Momi, tapi na Atok selalu lalang Ayiko jalan jauh-jauh. Nanti Ayiko telsesat, telus diculik olang. Ntal Atok na malah sama Ayiko," jelas Aiko sang cucu yang patuh pada nasehat Rayden.


"Duh, kenapa firasatku jadi tak enak sekarang ya?" Gumam Raiqa jalan sambil menggandeng tangan dua ponakannya dan mencari-cari keberadaan dua wanita hamil itu.


Tiba-tiba, di tengah pencariannya, Bik Ida datang.


"Tuan Raiqa!" panggil Bik Ida berlari dengan nafas yang tersengal-sengal. Dari teriakannya itu, membuat perhatian yang lain teralih padanya.


"Ada apa dengan mu, Bi?" tanya Raiqa.


"Tuan, gawat! Nona-nona Keyra dan Nona Qila masuk ke dalam hutan!"


"Apa? Kenapa mereka berdua ke sana?" tanya Rayden dan Wira mendekati Raiqa dan Bik Ida.


"Maaf, Tuan, saya memang barusan bersama mereka, tapi Nona Keyra menyuruh saya untuk mengambil syal Nona Qila, tapi setelah saya kembali ke tempat mereka, Nona Keyra dan Nona Qila sudah tidak ada," jelas Bik Ida panik.


Tanpa ba-bi-bu lagi, Rayden dan Wira menyuruh semua anak buah mereka yang ikut menjaga sekitar Vila untuk segera mencari dan menelusuri ke dalam hutan. Tak lupa, Rayden dan Wira ikut serta dalam pencarian.


"Ma, Tante, tidak usah cemas, mereka pasti sedang jalan-jalan sebentar di dalam hutan. Siapa tahu ada kunang-kunang yang membuat mereka tertarik untuk menangkapnya dan memberikannya pada si kembar," ucap Hana dengan maksud menghibur Kinan dan Arum.


"Hana, malam-malam dingin seperti ini, mana mungkin ada kunang-kunang dan lagi, yang kami takutkan itu, ada musuh yang menculik adikmu dan Keyra," kata Kinan dan disusul Arum.


"Benar, kita harus tetap waspada, dan berhati-hati. Musuh bukan cuma dari luar saja, tapi kemungkinan ada yang menyamar di antara anak buah Rayden di sini," tambah Arum dan melihat Hana.


"Om, apa yang teljadi di sini?" tanya Aila dan Aiko dibawa masuk oleh Raiqa.


"Aila, Aiko, tetap di sini, Om harus nyusul ke sana, mencari Ibu dan Tante kalian," ucap Raiqa sekalian diam-diam menyembunyikan pistolnya untuk berjaga-jaga.


"Woah, Aila mawu na ikut juga!" rengek Aila.


"Sudah ya, jangan merengek dulu, kalian harus nurut! Paham?" Tatap Raiqa serius.


"Hm, baik, Om." Aila dan Aiko mengangguk. Setelah itu, Raiqa menuju ke pintu bagian belakang Vila.


Ting...Ting ...


Dua anak kembar itu menoleh ke sumber nada dering, dan ternyata itu milik hape Raiqa yang tak sengaja terjatuh.


"Ehhh, Dadi!" Mereka terkejut melihat nama kontak yang memanggil adalah ayah mereka.


"Halo, Dadi! Dadi na mana sekalang? Kenapa belum sampai ke sini?" tanya Aila setelah jari kecilnya menekan fitur hijau.


"Loh, Aila! Mana, Om Raiqa?" tanya Aidan terkejut. Begitupula dua anak kembar itu kaget mendengar suara ayah mereka ngos-ngosan seperti sedang bertarung. Benar, Aidan saat ini dihadang oleh Black dan tujuannya menghubungi Raiqa untuk meminta bantuan.


"Dadi, Om Laika pelgih cali Momi," jawab Aiko.


"Apa? Momi? Emang, kemana Momi kalian?" tanya Aidan sambil bersembunyi dari Black yang berhasil mengambil satu senjata miliknya dan kini mengincar Aidan untuk memaksanya memberitahukan di mana mesin waktu Rayden.


"Ndak tawu, tapi katanya Bibi Ida, Momi sama Unti Keyla main di dalam hutan," tutur Aila begitu mengagetkan Aidan.


"Apa? Dalam hutan?" Perasaan Aidan yang saat ini panik karena kegilaan Black, bertambah merasakan ketakutan luar biasa. Dalam pikirannya saat ini, yang berbahaya adalah Keyra bukan pria berjubah hitam di depannya.


"Dadi! Dadi! Cepat na pulang sini!" pekik Aila dan Aiko, tetapi panggilan itu tiba-tiba putus. Membuat si kembar saling menatap kebingungan.


"Ck, si-siapa kau sebenarnya?" tanya Aidan sambil menodongkan pedang milik Bram ke arah Black yang belum dikenali olehnya. Karena Black memakai masker dan menutup rambut blondenya dengan topi.


"Hahaha, apa kau benar-benar tidak mengenali suaraku, Aidan?" tawa pria berkacamata hitam itu mendekat.


"Ka—kau! E—van?" tebak Aidan.


"Ya, ini aku." Black membuka masker dan topinya.


"Akulah orang yang sangat membenci mu," ucap Black balas menodongkan pedang miliknya ke arah Aidan.


"Bodoh! Apa kau sudah gila? Perbuatan mu ini sudah tidak bisa aku maafkan!" ujar Aidan marah.


"Perbuatan? Perbuatan apa, Aidan? Apa yang kau salahkan dari aku?" pekik Black mendekat.


"Ka-kau, bajiingan! Tempat ini tak layak dipijak oleh manusia busuk seperti mu! Kau tahu, Qila telah sepenuhnya menjadi milik ku, seharusnya kau berhenti mengganggu dia, apalagi Keyra sekarang telah hamil, sebaiknya kau berubah dan berhenti memaksa ku mewujudkan keinginan gila mu itu! Jika tidak, aku pastikan kau selamanya terkurung ke dalam penjara," ujar Aidan.


"Arghh, keinginan gila ku? Hei, Aidan! Dari awal, kau yang menginginkan Qila untuk ku, dan sekarang kau harus membuktikan ucapan mu itu, sialan!" balas Black, meludah.


"Sekarang, beritahu saja padaku, di mana mesin waktu itu berada," paksa Black tak mau menyerah.


"Ck, Evan, apa kau tak bisa menerima kenyataan ini?" ucap Aidan mendecak lidah.


"Kau menyuruh ku menerima kenyataan? Lalu bagaimana dengan mu? Bagaimana dengan kematian Qila? Harusnya kau menerima kenyataan kematian dia saat itu!" geram Black yang emosi dan tak sadar salah bicara pada Aidan, seharusnya ucapan itu untuk Bram, tapi ini langsung ke Aidan.


"Ke—kematian Qila? Kau bilang kematian Qila? Apa maksudmu, berengsek?!" Emosi Aidan yang terpancing membuatnya maju dan menarik kerah leher pria yang lumayan tinggi darinya, tentu karena orang di depannya bukanlah Evan di masa kini.


"Dengar Evan, jika kau berani sentuh istri dan anak-anak ku, hidup keluargamu akan ku hancurkan semua," ancam Aidan tak main-main.


Plak!


.


Kasih paham, Aidan!😠