
Evan yang sakit kena tamparan dan juga berada di situasi yang bahaya, terpaksa berbalik badan. Ia pergi dengan langkah tertatih-tatih dan juga seluruh tubuh yang sakit.
"EVAN, TUNGGU! EVAN!" pekik Keyra berteriak dan meronta di dekat Rayden yang menahannya agar tidak mengejar Evan yang sudah jauh.
"Hik, kalian semua kejam! Evan itu tidak salah, dialah yang difitnah di sini." Keyra lari masuk ke rumah. Arum pun mengejar Keyra yang pasti kecewa dengan keputusan Rayden. Sedangkan Aidan yang masih diam di tempatnya, ia melihat Rayden menelpon seseorang untuk mengurus kerusakan di rumahnya. Setelah menelpon, Aidan mendekati ayahnya.
"Pa, mengapa Papa tiba-tiba mengusir Evan? Bukankah seharusnya Papa mendengarkan pengakuannya terlebih dahulu?"
"Tanpa pengakuan, Papa sudah tahu yang bermasalah di sini adalah Evan. Jadi kembalilah kau ke kamar dan tenangkan dirimu."
"Hmm, ya udah, ma—maaf sudah buat mobil di sini rusak, Pa." Ucap Aidan merasa bersalah tapi senang melihat Rayden tidak berpihak kepada Evan atau Keyra. Rayden pun cuma menghembus nafas panjang melihat tempat parkiran dan mobilnya amburadul. Sedangkan Evan, berjalan sendirian di jalan yang sepi dengan pandangan yang mulai berkabut. Pusing dan juga lemas.
"Tch, kau mengatai aku pembohong tapi tidak melihat dirimu sendiri, Aidan. Awas saja, aku akan bertambah kuat dan balas kau nanti." Umpat Evan menggerutu dan meringis kesakitan di malam yang dingin dan juga sepi mencekam.
Sedangkan Bram, satu pria tampan ini sedang memandangi cctv keamanan di rumah Rayden yang terpasang di sudut pagar rumah. Ia menonton rekaman yang sudah dia retas sambil cengengesan melihat Evan dibuang. "Benar, ini yang memang akan terjadi, tapi sekarang aku tidak akan biarkan kau kembali pada Keyra, Evan. Yang pantas untuk Keyra di masa depan hanya Raiqa."
"Dan setelah aku menemukan bukti kematian Qila memiliki hubungan dengan mu di masa depan, saat itu juga aku pasti akan menghabisi mu sebelum kau membunuh istri dan anak ku." Seringai Bram kemudian tertawa hingga memenuhi kosan kecilnya. Membuat penghuni kosan sebelah yang baru pulang kerja, sedikit terganggu. "Ck, apaan sih dia, tiap malam selalu tertawa gila." Wanita itu masuk ke kosannya sendiri lalu melepaskan jas putihnya. Memakai handset, membuka laptop dan kembali mencari di mana Rayden mengubur mesin waktunya. Memang hanya di kosan kecil itu tempat untuk melakukan sesuatu rahasia tanpa dicurigai Rayden. Tetapi semua hasil pencariannya tetap kosong.
Sudah tiga bulan berlalu, wanita itu menyerah dan kini sibuk melakukan pekerjaan lain. Sementara Evan dan Keyra, hubungan pernikahan mereka semakin diujung tanduk, apalagi sekarang Raiqa mulai perlahan menciptakan hubungan spesialnya dengan Keyra, sehingga Rayden menganjurkan Keyra bercerai dari Evan agar status Keyra tidak dipertanyakan oleh orang lain dan bisa memberi kesempatan pada Raiqa menggantikan posisi Evan.
Tetapi—
"Maaf! Aku masih belum mau cerai!" tolak Keyra di depan Raiqa yang di tangan kanannya terdapat kotak merah berisi cincin berlian. Raiqa melakukan itu setelah mendapat saran dari teman gamenya (si Bram) untuk melamar Keyra karena sudah tidak tahan mendengar curhatannya.
"Key, sudah tiga bulan berlalu, sampai kapan kau akan terus digantungi Evan? Sampai kapan? Dia tidak akan kembali pada mu, dan sesuai perkataan Aidan, dia hanya menikahi mu untuk dimanfaatkan saja. Selama tiga bulan ini, hanya aku yang setia menemani mu, dan tulus mencintai mu." Raiqa mengungkapkan isi hatinya. Namun Keyra mendorong kotak itu lalu menatap Raiqa. "Maaf, aku sungguh tidak bisa," tolak Keyra.
"Kenapa? Apa alasannya?" tanya Raiqa ingin tahu. Keyra menunduk dan mere—mas jemarinya.
"Aku sedang hamil."
Mendengar jawaban itu, bukan cuma Raiqa yang syok, tetapi Bram yang sedang menguping di samping kelas kampus mereka, dia juga lebih syok.
Sejak menjadi dosen yang sibuk, waktu untuk mengawasi Keyra menjadi berkurang. Bram berpikir kehadiran Raiqa dapat menghalangi Evan menghamili istrinya, tetapi ternyata itu sia-sia.
"Hueekk...." di sisi lain, Qila tiba-tiba merasa mual di dalam toilet kampus. Tampaknya awal kehamilan Qila yang kedua sudah dimulai bulan ini.
"Aidan, sepertinya aku—"
"Kau kenapa? Sembelit? Atau masuk angin?" tanya Aidan yang cemas di sebelahnya.
"Emmm, itu, aku sudah telat 2 bulan dan sepertinya Aiko mau memiliki adik baru." Qila menunduk dan salah tingkah mengatakan itu.
Wajah yang tadinya khawatir, menjadi bahagia.
"Se—serius? Kau mual-mual karena hamil?"
"Emh, iya, kau berhasil lolos," ucap Qila dengan wajah yang merah dan mengelus lembut perutnya yang sudah berisi calon anak ketiga mereka.
"Akhhhhh, Alhamdulillah, Ya Allah, terima kasih, Qila."
"Kau senang banget ya aku hamil?" tanya Qila karena Aidan tampak lebih bahagia dari hari-hari sebelumnya.
"Ya, dong. Aku bahagia mendengarnya. Sekarang kita pulang dan beritahu ini pada Mama dan Papa." Aidan mengangkat Qila, membawa istrinya ke mobil. Sedangkan Keyra masih berhadapan dengan Raiqa yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Sementara itu, Bram telah pergi dari tempatnya.
"Raiqa, tolong jaga rahasia aku ini. Jangan sampai Papa dan Mama aku tahu. Kalau sampai tahu, Papa dan Aidan pasti tidak mau menerima dan peduli pada anak ini." Keyra memohon, namun Raiqa berlalu pergi dengan kecewa. Melihat Raiqa pergi, Keyra menunduk dan menangis. Ia menyesal sudah percaya ucapan Evan pada dua bulan yang lalu ketika dia pergi diam-diam ke rumah Evan untuk mengunjungi suaminya yang dikabarkan sakit parah melalui pesan singkat yang diterimanya dari seseorang.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Evan ternyata baik-baik saja. Pria itu malah menjebak Keyra untuk melakukan itu agar pernikahan mereka bisa bertahan. Dan, pada malam itu, Keyra malah ditinggalkan oleh Evan yang keberadaannya tidak diketahui. Bahkan Bram dan orang tua Evan sendiri tidak tahu di mana pria itu bersembunyi.
—
Evan memang penjahat maniak🤧