Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
63. PTWY 63 # Kecelakaan Ma-ut



Tak punya pilihan lain, mobil yang Hana bawa tersebut digunakan oleh Aidan dan Qila, bersama Aiko yang sedang sesenggukan di atas pangkuan Ibunya.


Mereka melaju bersama, untuk melewati jalan alternatif satu-satunya yang mengarah ke jembatan yang terbentang begitu panjang di atas laut yang menghubungkan antara dua kota besar.


Sebelum tiba di sana, Aidan yang menyentir mobil tampak diam saja. Sedangkan Qila yang duduk di kursi belakang pengemudi sibuk menenangkan Aiko.


"Sayang, sudah ya, jangan menangis, nanti di rumah Momi akan bicara pada Dadi kalian," hibur Qila membelai rambut Aiko yang tebal dan hitam.


"Hiks, Aiko ndak mau pulang," lirih Aiko terisak-isak.


"Ayo tulun Momi, tulun saja," rengeknya lagi.


"Tidak bisa Aiko, kita udah jauh dari rumah sakit, kamu yang sabar dulu sayang, nanti juga kita sampai di rumah malam ini," kata Qila dengan lembut.


"Ndak boleh, ndak boleh, Momi." Aiko semakin meronta. Membuat Aidan yang menyetir sedikit kesal.


"AIKO!!" akhirnya Aidan memarahinya lagi.


"Aidan, nggak usah bentak gitu dong, kamu fokus nyetirnya, biar aku yang bujuk Aiko," tegur Qila yang dibuat kaget. Aiko semakin memeluk Qila dengan erat, tatkala Aidan menengok dan memberinya sorot mata tajam.


"Ya, paham kok, cuman aku tidak tega lihat kamu susah payah bujuk dia. Dari tadi nangis dan merengek, bikin telinga ku sakit," kata Aidan.


Aiko pun diam, hanya sesenggukan di dekapan Qila.


"Kalau telinga mu sakit, pakai headset saja! Bagiku, anak-anak tak perna menyusahkan aku," ujar Qila mendengkus dan mengalihkan pandangannya dari Aidan.


Aidan yang melihat istrinya berpaling acuh, akhirnya kembali menatap ke depan dengan perasaan campur aduk. Tiba di jembatan, mendadak di depan sana ada kemacetan.


"Apa yang terjadi?" Pengemudi yang berada di sebelah mobil Aidan, tampak penasaran apa yang membuat semua mobil berhenti, termasuk mobil Aidan, Wira dan juga Raiqa berhenti di belakang sana.


"Hm, macet? Apa ada kecelakaan?" gumam Raiqa, sedangkan Hana sedang mera-ba isi tasnya, mencari tombol kendali bom miliknya. Ia menengok ke depan, mencari mobil Aidan yang cukup jauh dari mobil Wira. Hana kini menunggu, Qila dan Aiko keluar dari sana agar dapat meledakkan mobilnya bersama Aidan di dalam sana. Tetapi karena macet yang begitu panjang dan lama, membuat Hana mulai ngantuk menunggu hingga tak sadar, tombolnya jatuh ke jalan, tepat di bawah Raiqa. Sedangkan para bodyguard turun dari mobil mereka untuk mengetahui alasan kemacetan yang lama ini.


"Aidan, apa yang ada di depan sana?" tanya Qila mulai merasakan was-was.


"Entahlah, aku juga belum mendapat laporan dari bodyguard, tapi sebaiknya kau dan Aiko tetap di sini," ucap Aidan melepaskan sabuk pengamannya dan bersiap keluar dari mobil.


"Dadi... mau kemana?" lirih Aiko bertanya. Aidan tanpa menoleh, menjawab, "Mau ke mobil Kakek kalian, Dadi mau ajak satu Nenek mu ke sini."


"Dadi!! Aiko sama Momi mau ikut," rengek Aiko tetapi langsung dibentak, "Berhenti merengek! Duduk di sana."


"Aidan!" Qila balas membentak, ingin keluar tetapi Aidan mengunci pintu dan semua jendela mobil. Langkah yang bodoh, dan juga sangat salah.


"Dadiii!" panggil Aiko memukul jendela, namun Aidan terus berjalan dan berpura-pura tidak mendengar. Aiko kembali merengek pada Qila, memaksa Ibunya keluar.


"Aiko, tenang saja, Dadi cuma sebentar kok," bujuk Qila menenangkannya. "Huwaa.... Aiko mau keluar! Momi, keluar!" erang Aiko tidak bisa tenang. Qila memeluknya dan terus menenangkan Aiko. Merasakan Aiko sungguh tidak biasanya memberontak selama ini. Tentu saja, anak kecil itu takut dikurung di dalam mobil. Seketika, mata Qila melihat sesuatu mencurigakan di bawah kursi pengemudi.


"Momi, lihat apa?" tanya Aiko melihat Ibunya terguncang hebat melihat kotak itu berisi bom waktu. Aiko perlahan menoleh, ingin melihat apa yang dipandang Ibunya, tetapi Qila menarik Aiko menjauh dan segera mencari hapenya. Berusaha tenang sepenuhnya. "Aidan, cepat kembali ke sini!" Qila yang ingat tasnya berada di tangan Kinan, ia memaksa pintu mobil terbuka, namun usahanya tetap sia-sia saja.


"Momi, kenapa?" tanya Aiko melihat Ibunya ketakutan.


"Aidaaaan!!!!" Qila berteriak, namun suaranya tak sampai ke mobil Wira. Qila pun mencari alat berat di dalam untuk membuka pintu. Ia menemukan tabung pemadam api, membenturkan sudut tabung itu ke pengunci, namun tetap saja hasilnya nihil. Memang waktu di bom itu belum bergerak, tetapi Qila tetap takut akan meledak secara tiba-tiba. Jika itu terjadi, Aiko dan dirinya bisa mati sekejap malam ini.


Kini Raiqa turun dari motor, ingin menghampiri Aidan yang sedang membujuk Arum dan Aila pindah ke mobil bersamanya agar Aiko di sana tidak menyusahkan Qila. Namun, sebelum meninggalkan tempatnya, Raiqa menunduk dan melihat di dekat ban motornya ada benda aneh.


"Jangan, Bang!" pekik Hana langsung sadar yang di tangan Raiqa adalah miliknya.


"Hm, jangan? Kenapa jangan?" tanya Raiqa.


"I-itu, berikan saja pada Hana," pinta Hana terbata-bata.


"Hm, sebentar, aku mau tekan ini dulu, siapa tahu ini tombol harta Karun," ucap Raiqa masih sempat-sempatnya bercanda di tengah kecemasan Hana.


"Gak usah dicoba, berikan aja padaku, Bang!" desak Hana ingin merebutnya namun Raiqa menghindar dan langsung menekannya di depan Hana, membuatnya membelalak.


Hana berpaling, melihat ke mobil Aidan, namun mobil itu masih ada di sana. "Yaelah, benda rongsokan!" kata Raiqa melemparnya ke laut.


"Akhh, Abang, ngapain dibuang?" bentak Hana melongo.


"Habisnya, gak guna juga." Raiqa berjalan mendekati Aidan, sedangkan Hana menggigit bibir. "Apa yang terjadi? Kenapa tidak meledak? Apa aku sudah ditipu?" gumam Hana heran. Namun yang merencanakan kecelakaan itu adalah kelompok gangster yang telah menjual bom itu. Mereka memberikan tombol kendali palsu kepada Hana dan yang asli berada di tangan Bos mereka yang merupakan lawan bisnis Rayden dalam pengembangan teknologi canggih.


Seorang pengusaha yang menciptakan robot peledak.


"Momi! Apa itu?" Aiko terkejut dan menunjuk kotak di bawah kursi pengemudi bergerak dan berubah menjadi robot yang berkaki laba-laba yang seukuran kepala Aiko. Merangkak cepat menuju ke setir mobil dan mengendalikannya.


"Hei! Apa yang kau lakukan!" Qila maju dan berusaha menghentikan robot itu menyetir mobilnya.


"Dadi! Mobilnya jalan!" pekik Aila menunjuk mobil Aidan melaju ke depan dan menabrak mobil yang lain sehingga suara klakson memenuhi jembatan itu. Semua orang heran dengan mobil Aidan yang melaju tak terkendali.


"Qila, Aiko!!!" Teriak Aidan berlari mengejar. Sedangkan Hana turun dari motor dan mundur perlahan melihat Aidan di sana. "Kalau Aidan keluar dari sana, siapa yang mengemudi mobil itu?" Hana tahu, Qila tak pandai menyetir mobil.


"Momi!! Awas!" Pekik Aiko memukul robot itu yang mau menusuk Qila. Hingga terpental ke kursi belakang dan mengalami sedikit kerusakan. Qila pun berusaha menyetir dan menghentikan mobil sebelum menabrak mobil truk bensin di depannya. Namun lagi-lagi, robot itu terbangun dan menghancurkan rem mobilnya.


"Huwa... Momi," tangis Aiko ketakutan. Qila mendekap Aiko dan menginjak robot itu sehingga perhatian Qila teralih.


"Qila! Aiko!" Pekik Aidan berhenti dan syok melihat mobilnya menabrak pinggir truk dan terjun ke laut.


Brak!!


"Akhhh.... TIDAAAAKKK!" Aidan berlari ke tepi, ingin ikut terjun tetapi pengendara lain menangkapnya. "Pak, sadarlah, anda bisa mati!"


"Lepaskan saya! Bodoh! Istri dan anak saya ada di dalam sana!" bentak Aidan mendorongnya dan seketika suara dentuman dari ledakan mobil mengagetkannya. Api berkobar-kobar tinggi melahap mobil itu hingga tenggelam ke laut. "QILA! AIKO! TIDAAK!" Aidan memekik histeris melihat api besar melahap mobilnya. Kedua kakinya lemas, dan jatuh berlutut dengan nafas memburu semakin cepat.


"Aidan!" Raiqa datang menahan Aidan yang mau turun ke laut. Iparnya itu langsung menangis penuh dan pingsan. Sedangkan yang lainnya, Arum, Kinan dan Aila, mereka menangis histeris di dalam mobil. Sedangkan Keyra, diam tak bisa berkata-kata lagi. Sementara Hana, bergetar syok melihat kejadian mengerikan itu. Sangat diluar bayangannya.


Polisi pun berdatangan, mengamankan lokasi kecelakaan ma-ut yang merenggut nyawa dari cucu dan menantu Rayden. Sedangkan, Aidan dibawa segera ke rumah sakit karena tak kunjung sadar.


"Momi...." lirih Aiko yang berlumuran darah dan mendongak ke wajah Ibunya yang pucat dan tidak bergerak. "Momi.. dengall Aiko." Aiko memegang wajah Ibunya dan melihat sekitarnya yang dipenuhi bebatuan besar. "Dadi ... dimana?" Aiko terisak-isak dan menunduk, melihat kaki Ibunya yang patah. "Momi, bangun, hiks." Karena merasa sakit pada dadanya, Aiko pingsan setelah muntah darah.


.


🥺❤️


Like untuk Aiko