
Anak laki-laki 10 tahun lebih itu mengernyitkan dahi melihat ada anak perempuan sedikit mirip dengannya. Terutama melihat wajah Rayden dan Aidan yang telah membuka kacamata hitam mereka.
Anak laki-laki itu mundur perlahan, ingin segera masuk, namun Aidan secepatnya menangkap tangannya.
"Aiko, mau pergi kemana kau?" Genggam Aidan dengan erat.
"Aku bukan Aiko, namaku Chiel! Lepaskan, aku tak mengenalmu, Om!" pintanya marah. Aila maju, dan mengepal kedua tangannya. Melepaskan tangan ayahnya kemudian dengan sendiri mencengkeram jas putih anak itu.
"Jangan pura-pura, amnesia, Kakak!" bentak Aila juga marah. Dapat merasakan anak itu saudara kembarnya.
"Lepaskan! Aku tak punya adik sepertimu!" balasnya membentak dan mendorong Aila. Berlari masuk.
"Kakak Aiko!!"
"Aila, tunggu!" Rayden ingin menahannya, namun cucu perempuannya itu lari mengejar ke dalam rumah. Sedangkan Aidan, diam dan tampak terguncang melihat dari sorot mata anak laki-laki tadi ada kebencian yang besar untuknya.
"Ini semua salah ku." Aidan menunduk dan serasa tak mampu bergerak. Namun seketika ia mendongak, merasakan kehadiran istrinya di lantai atas sana.
"Aidan!!" Lagi-lagi Rayden ditinggal. Tampak Aidan masuk ke dalam pergi mencari keberadaan istrinya. "Astaga, padahal kalian tinggal tunggu acaranya selesai baru kita bicara kepada pemilik rumah ini. Tapi kalian berdua sudah tak sabar." Rayden menghembus nafas panjang, sangat panjang. Sudah capek terbang ke Negara orang lain, sekarang ia perlu mengawasi ayah si kembar dan cucunya yang sedang main kejar-kejaran di dalam sana.
Para tamu menoleh cepat saat Aidan melewati mereka dan menaiki anak tangga secepatnya. Ia mencari keberadaan istrinya di setiap ruangan dan akhirnya menemukan seorang wanita di balkon yang sedang panik. Berbicara kepada seorang pembantu dan menyayangkan benda yang hilang darinya. Mendengar suaranya, Aidan berjalan perlahan ke sana. Dari samping saja, Aidan bisa melihat jelas wajahnya mirip Hana.
"Bik, tolonglah, aku yakin Chiel yang ambil! Anak itu emang akhir-akhir bikin resah dan pusing Ibunya sendiri. Aku udah bilang jangan ambil kalung itu, tapi sekarang tiba-tiba datang ke kamar dan mengambilnya. Sekarang bantu aku cari dia sebelum kalungnya dijual." Wanita yang duduk di kursi roda itu mengomel dan tampak kesal.
"Qila...." lirih Aidan.
"Ish, jangan ganggu kita dulu, Pak! Mending cari di Chiel di ba—“ ucap wanita itu terdiam keheranan.
"Loh... loh... Bik! Chiel kenapa tiba-tiba udah gede!" Tunjuknya kaget kepada Aidan. Pembantu juga tercengang melihat Aidan berlutut di depan anak majikannya dan tiba-tiba memeluknya. "Syukurlah, kau masih hidup dan ada di sini, Qila." Eratnya tak mau melepaskannya.
Wanita yang duduk di kursi roda itu memiringkan kepalanya. Terdengar aneh tiba-tiba ada nama orang lain terucap dari mulutnya. Saat mau memegang kepala Aidan, mendadak anak laki-laki tadi datang dan melepaskan Ibunya dari Aidan.
"Hei, Om! Pergi dari sini!" bentaknya lantang.
"Loh, kok ada dua? Kecil dan besar? Ini maksudnya gimana?" Tunjuk wanita berkursi roda itu bingung, apalagi pembantu tambah bingung.
"Mama, usir dia! Orang ini penjahat!" ujar anaknya menunjuk Aidan dan memegang tangan Ibunya, namun seketika Aila datang dan meraih tangan ayahnya. Saling berhadapan sambil menunjukkan kalung jam milik Qila dari pemberiam Bram dulu. Aila dapat itu ketika anak laki-laki tersebut membuangnya ke tempat sampah dan tampak kini Aila mendengkus melihat anak laki-laki di depannya sangat menjengkelkan sampai ingin memukul kepalanya agar berhenti pura-pura amnesia.
"Loh, kok jadi tiga? Malah ada yang cewek? Kalian berdua sebenarnya siapa?" tanya wanita di kursi roda itu.
"Mama, jangan tanya mereka siapa. Langsung usir saja!" ujar anak laki-laki itu mendesak Ibunya. Tampak tak suka pada Aidan dan Aila.
.
🥺Aiko jangan gitu dong, Papa kamu udah pusing tujuh keliling lewati waktu 10 tahun malah kau usir mereka🤧