
Sudah lama Bram mencari jejak Black, tetapi sampai sekarang belum ada petunjuk yang dia dapatkan. Hingga akhirnya, Bram memutuskan pensiun, agar pencariannya berlanjut tanpa membagi waktunya ke hal lain.
"Hei, Pak!" Raiqa yang selesai memasang data dalam mesin waktu, ia datang ke ruang kontrol milik Bram. Alis kanannya pun terangkat melihat wajah Bram yang kusut dan murung. "Mengapa kau datang kemari? Apakah ada yang tak kau pahami dari mesin kalian?" tanya Bram memperbaiki letak kacamatanya.
"Aku ke sini ingin bertanya sesuatu," ucap Raiqa duduk di salah satu kursi kosong.
"Apa itu?" Bram bertanya dan menyeduh segelas kopi hitam di atas meja kerjanya.
"Kenapa, anda berhenti mengajar di kampus kami? Padahal, gaji mengajar anda lebih tinggi daripada gaji yang kami berikan padamu," kata Raiqa, yang sudah mendapat info dari teman kampusnya.
Bram diam sesaat.
"..."
"Aku tak bermaksud mencurigai anda, tapi aku harap anda tak punya niat lain dari hasil kerjasama kita selama ini," ucap Raiqa, merasa cemas Profesor di depannya itu akan berkhianat atau mencuri mesin waktunya.
Bram mengumpulkan tenaga, kemudian bicara tenang. Mengatakan bahwa, masa pengajarannya sudah tak lama lagi. Mendengar itu, Raiqa mengernyit bingung. Terdengar seperti umur Bram tak panjang di dunia ini.
"Hei, apa maksud anda?" tanya Raiqa lagi.
Bram berdiri kemudian menatap layar kontrol di depannya. "Bila aku jelaskan ini pada mu, kau tak akan bisa mengerti dan mempercayai kata-kata ku." Bram menepuk bahu kiri Raiqa, dan kemudian keluar.
Raiqa ingin mengejar Bram, tetapi tiba-tiba ponselnya mendapat pesan masuk dari Aidan. Menyuruh Bram datang besok ke acara syukuran tujuh bulan Qila bersamanya.
"What! Bram juga diundang? Kenapa?" Raiqa mengirim balasan pertanyaan. Aidan pun membalas, "Aku melakukan ini agar mesin waktu kita aman. Siapa yang akan tahu, kapan dia mengkhianati kita." Tak mau Qila menjadi alasannya, Aidan memilih, mencurigai Bram.
"Baiklah, aku juga sependapat dengan mu!" Setelah itu, Raiqa pergi mencari Bram karena sampai sekarang mereka berdua memang tak memiliki kontak pria itu. Tempat tinggal Bram saja, Aidan dan Raiqa juga belum tahu letaknya dimana.
Sibuk mencari Bram, langkah Raiqa menuju ke sebuah mall besar dan mewah. Sekilas, mata hitamnya melihat Aidan masuk ke sana.
"Aidan!" panggilnya, namun orang berpakai jaket hitam itu tak mendengarnya. Raiqa buru-buru masuk dan mengejar, sebelum kehilangannya.
Akan tetapi, secara kebetulan, Raiqa bertemu dengan rombongan Qila yang terdapat, Arum, Kinan dan juga Aidan yang sedang asik memilah baju untuk calon debay Rafka. Sementara si kembar dan Keyra berada di game anak-anak.
"Loh, Raiqa?" Tunjuk Kinan.
"Eh, kok kalian ada di sini?" tanya Raiqa menunjuk mereka satu demi satu dengan muka bingung.
"Aku ke sini lagi ngikutin—"
"Ngikutin siapa, Rai?" tanya Aidan sebelum Raiqa keceplosan dan mengira Raiqa mungkin bersama Dosennya. Kalau Qila mendengar itu, pasti istrinya akan membahas pria tersebut.
"Lah, aku ikuti kamu barusan!" jawab Raiqa menunjuk Aidan.
"Eh, bentar dulu, kok kamu pakai jas putih? Tadi kayaknya pakai jaket hitam deh," ucap Raiqa memandangi pakaian Aidan yang berbeda.
"Raiqa, mungkin kamu salah lihat," kata Kinan.
"Puff, daripada saling bengong di sini, lebih baik kita lanjutkan berbelanja. Kebetulan ada Raiqa, dia bisa membantu mu mengangkat barang-barang ini," ucap Arum menunjuk belanjaan Kinan.
"Yah, nih, ambil sebagian!" Aidan memberikannya kepada Raiqa yang masih saja keheranan. Sedangkan Qila, tertawa melihat dua pria itu menentang belanjaan mereka.
"Yuk, Ma, kita ke tempat Keyra," ajak Qila.
"Hm, mari kita ke sana." Arum memegang tangan menantunya, berjalan dan membantu Qila bergerak.
"Oi, beneran kau nggak pakai jaket?" bisik Raiqa di sebelah Aidan.
"Nggak lah, emang kenapa?" balas Aidan berbisik.
"Aneh banget, barusan sebelum masuk ke sini, aku sungguh melihat kau pakai jaket hitam!" kata Raiqa yakin.
"Dih, makanya, kalau lagi kerja, nggak usah main game! Jadinya mata kau itu mulai bermasalah." Pungkas Aidan memukul lengannya.
"Ck, mata aku benar-benar sehat tau!" decak Raiqa kesal.
"Sudahlah, lupakan itu, sekarang bagaimana? Apakah kau sudah mengatakan pesanku ini pada Pak Brian?" tanya Aidan.
"Belum, dia keburu pergi sebelum pesan kau masuk!"
"Yaelah," hembus Aidan, memutar bola matanya dan kemudian tersentak saat seseorang menepuknya.
"Kalian lagi bisik-bisikin siapa??" tanya Qila penasaran.