
Pesta pernikahan putri sulung Candra yang digelar hari ini, telah selesai. Tak hanya kebahagian putri sulungnya yang Candra rasakan, ternyata hari ini juga adalah kebahagiaan untuk putri angkatnya. Dan malam ini, Candra Hermawan bertemu dengan Rayden. Orang tua tersebut duduk di ruang keluarga bersama dua putrinya dan satu menantu lelakinya.
Karena Rayden meminta keterangan bagaimana Candra mengadopsi Qila, dengan senang hati, Candra menjelaskan jika ini berawal dari istrinya yang melihat kondisi Qila dan Aiko yang berada di rumah sakit itu. Istrinya yang tak tega melihat Qila dan Aiko yang tak dikunjungi oleh keluarganya, akhirnya istri Candra mengambil izin untuk mengadopsi mereka dan sekalian membayar biaya rumah sakit.
"Lalu, di mana istri anda, Pak Candra?" tanya Rayden ingin berterima kasih kepadanya yang berbaik hati.
"Ibu saya sudah meninggal tiga tahun lalu karena penyakit turunan yang beliau derita," ucap putri sulung Candra yang menjawab Rayden.
"Maaf," kata Rayden. Candra tersenyum saja kemudian melihat Qila. "Clara, apa kau sudah ingat mereka?" tanyanya kepada putri angkatnya yang duduk bersama Aiko.
"Emm, rasanya memang tidak familiar tapi, maaf, aku tak ingat sesuatu tentang kalian. Aku hanya ingat Chiel saja." Qila memegang kepalanya, namun tak ada ingatan lain selain ingatan lima tahun ini bersama keluarga Candra.
"Momi, ndak ingat Aila? Aila anaknya, Momi." Aila pindah duduk dan meraih tangan Ibunya. Qila menatap Aila dan Aiko bergantian, kemudian memandangi Aidan yan menunduk di sana.
"Momi waktu itu habis lahirkan Rafka, Momi tidak ingat Rafka juga?" Aila mulai menahan air matanya melihat wajah Qila yang kebingungan.
"Kalau Momi tidak percaya, kita bisa lakukan tes DNA."
"Aila yakin, hasilnya cocok!"
"Momi, Aila sedih, benar-benar sedih." Putri cantik Aidan itu pindah duduk di dekat Rayden dan menangis di lengan Kakeknya. "Kakek, Momi tidak ingat Aila." Sampai terisak.
"Hm, maaf, kalau begitu, apa kalian tahu siapa pemilik kalung ini?" Qila menunjukkan kalungnya yang sudah dikembalikan dari Aila.
Aidan mengangkat wajahnya kemudian menjawab cepat, "Itu dariku, dan ada tertulis nama Bram dalam kalung itu."
Qila tertegun dan seakan tak percaya tebakan Aidan benar. Sedangkan Rayden lebih terkejut karena rupanya Bram yang dia curigai selama ini adalah putranya. "Tunggu dulu, jadi Dokter menjengkelkan itu adalah Aidan sendiri?" gumam Rayden dalam hati. "Hm, pantas saja kerjaannya ilang mulu. Kenapa aku tak sadar dari kebiasaannya ini?" Rayden sungguh tak sangka sudah mengetahui identitas asli Bram.
"Aku pikir, nama ini suamiku, ternyata bukan ya?" tanya Qila.
"Itu sebenarnya aku, hanya saja, aku sering ganti nama dan memakai wajah palsu untuk melindungi mu. Jadi," ucap Aidan berhenti sejenak dan melirik Rayden di sana yang menatapnya masam.
"Hm, sayang sekali, aku juga tak ingat bagaimana wajahnya," ucap Qila murung. Sekarang Aiko menunduk, sudah tak bisa berkata-kata lagi. Ia pun melirik Kakeknya dan tampak Rayden masih memasang raut wajah masam.
"Clara, sekarang mereka datang menjemputmu, apa malam ini kau akan pulang bersamanya, atau besok saja?" tanya Candra. "A-aku tidak yakin, ayah." Qila sedikit menunduk dan ragu mempercayai mereka. Tapi melihat Aila di sana, ia juga tak tega pada gadis itu.
"Clara, kau harus yakin dan lihat saja sendiri, gadis di sana mirip dengan Chiel. Aku merasa mereka adalah keluarga mu yang asli," kata putri sulung Candra.
"Kalau begitu, waktu kami koma di rumah sakit, kenapa tak ada seorang pun dari kalian mendatangi kami? Kenapa kau juga meninggalkan kami?" tanya Qila pada Aidan.
"Jika kau mau tau itu, kita bisa jelaskan nanti setelah kalian kembali ke rumah bersama kami," ucap Rayden.
"Tidak! Chiel mau di sini!" tolak Aiko yang tak mengalami amnesia. Selama ini ia enggan pulang karena merasa di sana tak bisa membuatnya hidup nyaman. Memang dikelilingi harta tapi dua kakeknya selalu ribut dan itu tak disukainya. Beda sama Candra yang banyak meluangkan waktu untuknya.
"Aiko, jangan egois. Di sana bukan hanya ada kakek mu, tapi kau juga punya nenek yang selalu memikirkan mu, apa kau tak merindukan mereka?" Nada suara Rayden meninggi. Membuat menantu Candra sedikit takut. Suaranya saja hampir membuatnya pipis, apalagi tatapannya yang menakutkan.
"Mama, jangan." Aiko memohon tetapi Qila membujuk Aiko agar mendengarkan Rayden. Lagipula, Qila juga ingin melihat orang tua aslinya dan mendengarkan alasan dirinya bisa ditelantarkan di rumah sakit.
"Sayang, nurut sama Mama ya," mohon Qila.
"Baiklah." Aiko terpaksa mengangguk dan melirik Aidan di sana belum bicara. Tampak sedang menyiapkan penjelasan untuk mereka berdua.
"Terima kasih, Pak Candra. Anda telah menyelamatkan mereka dan saya sangat berhutang budi pada kalian. Jika anda menginginkan sesuatu dari kami, katakan saja, kami akan dengan senang hati menerimanya." Rayden bersalaman dengan Candra. Setelah membereskan barang-barang menantu dan cucunya, Rayden membawa mereka menuju ke bandara. Namun sebelum itu, mereka menginap di hotel malam ini dan akan berangkat secepatnya pada esok paginya.
Aila dan Aiko satu kamar. Dua bocah kembar itu saling berpaling acuh. Tak suka satu sama lain, namun perlahan Aiko mengeluarkan tangannya. "Maaf, kalau selama lima tahun ini kau tak bersama Momi." Ia meminta maaf dan sadar sudah keterlaluan. Aila melihatnya dan turun menatap tangan Aiko. Kemudian maju dan segera memeluk Aiko. Tak hanya itu, Aila juga memukul dadanya.
"Jahat! Kak Aiko jahat! Aila rindu tau." Isaknya memeluk erat saudara kembarnya itu. "Maaf, aku hanya tak mau melihat Dadi. Gara-gara Dadi waktu itu tak mau dengar ucapan ku, Momi kecelakaan dan sekarang tak bisa berjalan seperti dulu." Aiko menunduk lirih, mengatakan alasannya benci Aidan.
"Jadi, sekarang kamu benci Dadi?"
"Iya," ucap Aiko. Aila menarik tangan Aiko, mendudukkan kakaknya di kursi dan menjelaskan sebenarnya, kalau yang mencelakainya bukan Aidan tapi Hana yang bersekongkol dengan musuh kakeknya. Serta Aila mengatakan hari ini harusnya Aidan menikah dengan Hana, tapi Tante mereka terbukti bersalah dan sekarang dijebl*skan ke penjara.
Tak hanya itu saja, Aila mengatakan lagi ayahnya mati-matian membuat mesin waktu demi ke masa lalu untuk menyelamatkannya dan sekarang Aidan berhasil tepat waktu menemukan mereka berdua di bebatuan. Melihat anak dan istrinya sekarat, Aidan secepatnya membawa mereka ke rumah sakit itu.
"Jika itu benar, lalu kenapa Dadi meninggalkan kita?" tanya Aiko mulai menitikkan air mata. Aila meraih tangan kakaknya yang bergetar dan menjelaskan kalau saat itu ayah mereka harus kembali ke masa depan. Jika tak pergi, Aidan akan terjebak selamanya di timeline itu dan tak akan ke sini menjemputnya.
"Jadi begitu, ternyata Dadi—"
"Dadi sayang kamu, Kak," kata Aila melihat Aiko menangis. Tak tega mendengar tangisnya, Aila memeluknya dan menenangkannya. Aiko mulai sadar, ia sudah salah membenci ayahnya sehingga Aidan sangat merasa bersalah pada dirinya sendiri sekarang.
"Em, hei, boleh bantu aku?" Qila di kamar sebelah yang satu tempat tidur dengan Aidan, ia memanggilnya dan ingin segera tidur. Namun wanita berpiyama itu sulit berdiri karena kedua kakinya belum sembuh dan masih terasa sakit jika dipaksa berjalan.
"Kau mau naik?" tanya Aidan sedikit gugup. Terutama Qila yang menunduk canggung.
"Hm, iya. Apa kau bisa bantu aku? Maaf kalau agak—"
"Akhh!" jerit Qila terkejut karena tiba-tiba Aidan mengangkatnya dari kursi roda dan membaringkannya ke tempat tidur. "Ka-kau tadi tak usah begitu, aku hanya ingin dibantu berdiri, bu-bukan diangkat seperti tadi," omel Qila sedikit terbata-bata dan sedikit malu.
"Em, hei! Mau kemana?" Qila memanggil Aidan yang mau keluar. "Aku hanya pergi sebentar agar kau tidur nyenyak dan tidak risih melihat ku," ucap Aidan namun berhenti ketika Qila berteriak. "Hei, jangan keluar! Kemari dan bantu saja aku mengingat ingatan ku. Lagipula, aku tak pernah risih pada mu." Qila melarangnya pergi. Aidan berbalik badan dan melihat Qila di sana sedang tersenyum lebar.
Aidan duduk di tepi ranjang dan kemudian Qila menghampirinya dengan cepat dan sangat dekat.
"Apa kau tahu semua tentang ku?" tanya Qila menatap lekat-lekat mata pria tampan di depannya. Aidan menunduk dan mengangguk pelan. "Aku tau dan sudah lebih paham dirimu sekarang." Jawabnya dengan malu-malu. Padahal mereka suami istri tapi rasanya malam ini mereka terlalu gugup, tegang dan canggung. Seperti pasangan LDR yang kembali bertemu setelah dipisahkan waktu yang cukup lama.
......
Aidan sekarang tau banget, apalagi dia gonta-ganti identitas demi menjagamu Qila🤭dn dia sudah tau semua tentangmu. Seperti pengantin baru ya Aidan😹senang tuh pasti wkwk