Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
24. PTWY 24 # Aiko Hilang?



Tidak hanya Hana dan Ibunya yang datang, Raiqa dan Ayah mertua Aidan juga ikut mengunjungi Qila. Arum dengan senang hati dan ramah, menyambut keluarga menantunya, mengajak mereka duduk dan membahas tentang kehamilan Qila. Di tengah pembicaraan mereka yang diiringi canda dan tawa, Raiqa yang duduk di sebelah Hana, tiba-tiba bertanya, "Tante, dari tadi cuma Tante saja sendirian, Qila dan Aidan kemana ya, Tante?"


"Mungkin mereka ada di kamarnya. Sebentar ya, Tante panggil mereka dulu," ucap Arum kemudian arah matanya mencari-cari Bik Ida. Sementara Ayah mertua Aidan, dia langsung menuju ke tempat Rayden berada.


Pas sekali, Bik Ida datang menghampiri mereka, tetapi raut wajah wanita tua itu dilanda kekhawatiran.


"Ada dengan mu, Bik?" tanya Kinan, Ibu kandung Raiqa.


"Maaf Nyonya, itu, saya tadi sedang mengurus Nona kecil yang lagi-lagi ngompol, tetapi, saat saya tinggal sebentar ambil celana pengganti, Nona kecil tiba-tiba hilang dari kamarnya. Saya sudah cari kemana-mana, tapi saya belum juga menemukannya, Nyonya." Lapor Bik Ida, kehilangan Aila. Bocah kecil yang cuman memakai sem—pak itu, tampak dengan kenakalannya lagi, pergi bersembunyi.


"Apa kau sudah mengecek di kamar Qila? Siapa tahu dia lari ke sana," ucap Kinan.


"Maaf, saya barusan ke sana, tetapi hanya Tuan Aidan dan Nona Qila, Nyonya," jelas Bik Ida, yang hanya berdiri di dekat pintu kamar, karena tidak enak merusak suasana hati Aidan yang sedang membantu Qila mengerjakan tugas kuliahnya.


"Ya sudah, kalau begitu kita cari sama-sama," kata Arum berdiri.


"Raiqa, Hana, kalian juga bantu Mama cari Aila," tambah Kinan pada dua anaknya itu.


"Baik, Ma." Raiqa dan Hana mengangguk kemudian pergi mencari Aila. 'Cih, Ibu dan Anak sama saja menyusahkan orang.' Di tengah pencarian, Hana terus menggerutu dalam hati. Tiba-tiba saja, langkahnya berhenti saat melihat gorden jendela di depannya bergerak-gerak.


Langkah demi langkah, Hana mendekat dan terkejut mendengar tawa cekikikan anak tiga tahun lebih itu yang sedang bersembunyi dari kejaran Bik Ida.


"Oh, ternyata di sini kau anak bodoh," decak Hana maju dan segera menarik gorden itu, membuat Aila yang menghadap ke tembok, seketika melompat kaget dan menoleh cepat ke belakang. Kemudian, mata biru cantiknya melebar ditatap serem oleh kembaran Ibunya itu.


"Mo—momi!" ucap Aila takut.


"Momi? Kamu panggil saya, Momi? Enak saja, saya disamain dengan Ibu bodoh mu itu," kata Hana angkuh.


"Ihh, Mo—mi napa bicala na begitu?" tanya Aila mundur. Namun—Ahhh! Sakit na! Pekik Aila ditarik paksa oleh Hana.


"Cih, manja sekali, hanya seperti itu saja—kamu menjerit, dasar lemah. Tidak ada bedanya dengan Ibumu," cibir Hana mencengkeram lengan Aila.


"Huwa... na Momi napa malah?" Tangis Aila ketakutan. Sontak saja, seseorang menghempaskan tangan Hana lepas dari lengan Aila. Membuat anak kecil itu menoleh dan diam terkejut.


"Emm, Momi Ayila napa ada duwa?" Tatap Aila kebingungan, karena selama dua tahun ini, Aila tidak pernah melihat Hana. Sebab kembaran Qila itu memang ogah berkunjung. Kalau saja tidak dipaksa Kinan, Hana lebih baik tinggal di rumah sendirian.


Qila menggendong putrinya, kemudian menatap Hana dengan sorotan mata benci.


"Hana, aku tahu kamu jengkel kepada ku, tapi setidaknya jangan sekali-kali kamu lampiaskan pada Aila. Dia masih kecil dan tidak seharusnya kamu memperlakukan dia seperti itu," kata Qila marah. Ini yang sering membuat Qila mulai menjauhi Hana karena sifatnya dari dulu masih belum berubah. Mulutnya kadang-kadang tajam dan menyakitkan.


"Ai—Aila, gimana? Kamu nggak apa-apa 'kan?" tanya Qila pada putrinya.


"Ayila isokey, Momi," jawab Aila sambil mengelus lengannya yang baru saja dicengkeram oleh Hana, kemudian menatap wanita itu.


"Momi, ntuh siapa? Napa Momi na milip sama ntuh Olang?"


"Puff, bukan, sayang. Dia namanya, Hana. Aunty— nya, Aila dan dia saudara kembar Momi. Dia lebih tua sepuluh menit dari Momi. Seperti Aiko dan Aila dulu," tutur Qila dengan nada lembut. Beda sekali dengan Hana barusan yang kasar.


"Tapi na, Olang ntuh jahat, Momi. Ntuh tadi tangan Ayila ditalik telus na sakit semua, hik," ucap Aila dan meneteskan air matanya. Qila melirik lengan Aila yang sedikit merah. Ia pun ingin memperingati Hana yang terlihat jelas tambah jengkel mendengar pengaduan anak kecil itu. Tetapi, tiba-tiba Aidan datang dan bingung melihat mereka kumpul bertiga.


"Qila, aku tunggu kamu di kamar, tapi kenapa berhenti di sini? Terus, ini kenapa Aila tidak pakai baju dan cuman pakai popok?" tanya Aidan tanpa melihat Hana. Bagi Aidan, kehadiran Hana sudah tidak penting sama sekali.


"Dadi...." rengek Aila meminta gendong.


"Hm, kenapa dengan mu?" tanya Aidan sadar mata putrinya merah. "Hik, Olang ntuh tadi talik tangan Ayila telus, Dadi."


Seketika raut wajah Aidan berubah dan langsung menatap lurus pada Hana yang sedikit takut. Tentu saja Aidan marah bila ada yang menyakiti anak-anaknya, bahkan jika itu orang-orang terdekatnya, dia tidak akan rela melihat anaknya disakiti atau dibuat menderita.


"Aidan, tunggu," tahan Qila tidak mau ada pertengkaran, terutama di depan anak-anak.


"Aidan, kamu bawa saja Aila ke kamar, biar aku saja yang bicara baik-baik pada Hana," ucap Qila membujuk Aidan dan masih berbelas kasih pada saudara kembarnya itu.


"Baiklah, aku tunggu kamu di kamar," kata Aidan menurut dan sekali lagi melirik Hana dengan tatapan tidak suka, kemudian pergi menghibur Aila dan sekalian memakaikan anak kecilnya itu pakaian baru.


"Hana—" Qila hendak berbicara, tetapi Hana langsung pergi mengabaikannya. Membuat Qila menghembus nafas sedih.


"Ya Allah, kapan Hana membuka hatinya untuk ku?" Qila mengusap setetes air matanya. Selama ini, ia ingin mencoba membenci Hana, tetapi rasa sayangnya susah memutuskan hubungan mereka.


Qila pun berjalan sendirian menuju ke kamarnya, namun lagi, di depan kamarnya, semua orang tampak berkumpul kecuali Hana.


"Ada apa ini, Ma, Pa?" tanya Qila pada orang tuanya dan ayah—ibu mertuanya yang sedang cek-cok, kecuali Raiqa dan Aidan yang kebingungan melihat para orang tua berselisih.


"Sudah kukatakan, Aiko yang akan mewarisi bisnis keluarga kami, jadi berhenti bermimpi bahwa dia bisa menjadi penerus organisasimu!" ucap Wira, kakek dari si kembar Qila, yang tidak terima Aiko diangkat sebagai ketua Mafia berikutnya.


"Tidak! Aiko adalah cucu pertama kami, dia lebih pantas meneruskan organisasi kami daripada hanya menerima warisan bisnis kalian yang tidak seberapada dengan kekayaan kami," balas Rayden dengan tekad.


"Akhh, kalian berdua, ini yang membuat aku malas, setiap kali kalian bertemu, selalu berdebat tentang hak pewaris berikutnya!" kesal Arum dan Kinan pada suami mereka yang terus memperdebatkan posisi terbaik untuk Aiko. Karena, kalau Aila, bocah cilik itu masih sulit dikontrol dan di-didik, tidak seperti Aiko yang mudah diatur.


"Pa, Ma, sudah cukup, berhenti dulu bertengkarnya," ucap Qila mencoba membujuk mereka untuk tetap tenang karena dari tadi tidak ada Aiko bersama mereka.


"Ada apa, Qila?" tanya Raiqa karena wajah Qila yang cemas.


"Kak, lihat Aiko, nggak? Tadi kayaknya Aiko bareng Papa, tapi sekarang kenapa dia tidak bersama kalian?" tanya Qila.


Spontan, mereka berhenti dan melirik seksama sekitar mereka yang memang tidak ada Aiko.


"Loh, kemana dia, Pa?" tanya Aidan pada Ayahnya yang baru sadar.