
"Vincent, 'kan ayah di sana lagi berobat," jawab Keyra dan mengelus pipi bulat Vincent.
"Sekarang kita sudah sampai, yuk masuk bareng Mami." Keyra memarkirkan mobilnya kemudian masuk bersama Vincent ke dalam rumah. Seketika Ibu dan anak itu mengajar sebelah alisnya melihat semua orang sibuk.
"Hm, kalian mau kemana, Ma?" tanya Keyra pada Arum.
"Key, kita semua Minggu ini mau liburan ke Paris. Sekalian hadiri pertunangan Raiqa yang mau diadakan di sana, kalian berdua mau ikut?" tanya Arum kepada Keyra dan Vincent.
"Ikutlah, Keyra," sahut Aidan.
"Benar, Aunty! Ikut saja dengan kami, bawa Vincen juga!" sambung Aila, Aiko dan Rafka melihat Vincent tertarik ingin ikut berlibur.
"Tapi, bagaimana dengan perusahaan? Siapa yang akan mengurusnya?" tanya Keyra sedikit ragu.
"Tak perlu pikirkan itu, Papa sudah menyerahkan urusan kantor pada sekretaris mu." Rayden datang menghampiri mereka dan tersenyum kepada Keyra yang sudah memaafkan atas perbuatannya terhadap Vincent.
"Baiklah, Pa. Terima kasih." Angguk Keyra setuju.
"Yeyy, Vincent ikut balleng kita!" seru Rafka merangkul leher Vincent yang tersenyum malu-malu.
Usai mengatur jadwal penerbangan. Mereka semua terbang menuju ke Paris. Menghadiri pertunangan Raiqa tanpa Hana yang masih di penjara. Meskipun begitu, selama empat bulan ini Hana mulai bisa beradaptasi di penjara karena atas bantuan dan perhatian salah satu anggota kepolisian yang suka menganggunya.
Namun, untuk kali ini, pria itu tak pernah datang lagi, membuat Hana merasa seperti kehilangan sesuatu. "Apa ini rasanya kehilangan itu?" gumam Hana menunduk sedih. Seketika ia yang menekuk lututnya, mengangkat wajahnya dan melihat ada petugas lain datang. Ia meletakkan buket bunga itu di depannya.
"Hm, dari siapa?" Hana mengambilnya dan membaca surat itu dan rupanya itu dari anggota kepolisian yang telah berhenti bertugas dan tak bisa datang mengganggunya lagi.
"Bodoh, memang siapa juga yang menunggumu!" celetuk Hana kembali menekuk kakinya dan menenggelamkan wajahnya di antara dua lututnya. Namun sesaat ia meraih buket itu dan memeluknya. Sedikit senang namun juga sedih sudah tak ada yang menemaninya bicara.
Dalam keheningan ruangan penjara, Hana memeluk buket bunga dengan erat. Walau tak ada orang yang bisa mendengarnya, dia membiarkan air mata jatuh perlahan di pipinya. Air mata tersebut mengungkapkan perasaannya yang terpendam, kehilangan, dan kesepian yang ia rasakan di dalam penjara.
Dengan buket bunga di tangannya, Hana bangkit dari posisi duduknya. Dia mengatur nafasnya, mengusir rasa sedih yang menyelimuti hatinya. Hana pun terkejut saat membalikkan kertas yang masih ada di dalam buket bunga dan menemukan surat lain yang ditujukan padanya. Dengan hati yang berdebar, ia membuka surat tersebut dan mulai membaca isinya:
Aku harap surat ini dapat menemukanmu dengan baik. Aku tahu bahwa saat ini kamu berada di dalam penjara dan sedang melewati masa-masa yang sulit. Aku ingin memberikan dukungan dan harapan bagimu melalui kata-kata ini.
Aku adalah seorang pria yang pernah menganggumu dengan tingkah lakuku yang mungkin seringkali membuatmu kesal. Aku minta maaf jika sikapku sebelumnya membuatmu merasa terganggu atau tidak nyaman. Terlepas dari itu, aku ingin kamu tahu bahwa aku juga menghargai kamu sebagai manusia yang kuat dan berjuang keras dalam menghadapi cobaan ini.
Mungkin aku telah berhenti mengunjungimu karena beberapa alasan pribadi. Namun, hal itu tidak berarti bahwa aku melupakanmu atau tidak lagi peduli. Aku yakin bahwa kamu memiliki kekuatan dan tekad yang luar biasa untuk bisa melalui masa-masa sulit ini dengan baik.
Hana, aku berharap kamu tidak merasa sendirian di dalam penjara ini. Meskipun aku tidak bisa secara fisik hadir di sampingmu, aku ingin kamu tahu bahwa ada orang-orang di luar sana yang masih memikirkanmu dan mendoakan yang terbaik untukmu. Aku percaya bahwa kamu memiliki potensi besar untuk mengubah hidupmu dan membangun masa depan yang lebih baik.
Teruslah berjuang dan jangan pernah menyerah pada harapan. Ingatlah bahwa di balik jeruji besi ini, masih ada dunia yang menanti untuk kamu eksplorasi setelah kamu bebas. Aku berharap suatu hari nanti kamu dapat menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sejati.
Jaga dirimu dengan baik, Hana. Sementara kita mungkin tidak bertemu lagi di sini, semoga hidup kita masing-masing membawa kita pada jalan yang baik. Aku akan selalu mendoakanmu dari kejauhan.
Hormatku,
[Daren]"
Setelah membaca surat itu, Hana merasakan campuran emosi yang tak terduga. Ada kesedihan dan kerinduan karena pria itu takkan lagi hadir dalam kehidupannya, namun juga ada harapan dan apresiasi atas dukungan yang diberikan melalui surat tersebut.
Dalam hatinya, Hana berterima kasih pada pria itu karena memberikan kata-kata penuh semangat dan dorongan untuk melanjutkan perjuangan di dalam penjara. Meskipun kedatangan dan kepergian pria itu telah meninggalkan bekas yang rumit, surat ini memberikan sedikit kelegaan dan memberi tahu Hana bahwa dia bukanlah sendirian.
Dengan hati yang sedikit lebih ringan, Hana memeluk surat itu erat-erat di dadanya. Ia memutuskan untuk menjaga surat tersebut sebagai pengingat akan masa-masa sulit yang pernah dilalui dan sebagai sumber inspirasi untuk memperbaiki hidupnya.
Dalam penjara yang penuh dengan keterbatasan, Hana menyadari bahwa surat ini menjadi tanda harapan dan cahaya di tengah kegelapan. Dengan tekad yang baru ditemukan, ia melanjutkan perjalanannya dengan keyakinan bahwa ada harapan dan kehidupan yang menanti di balik jeruji besi tersebut. "Heh, setelah bebas dari sini, orang yang mau aku pukul pertama kalinya adalah kau, Pak Daren." Kepal Hana kemudian menunduk dan senyum-senyum sendiri.
….
Sesampainya di Paris, Rayden membawa mereka terlebih dulu ke sebuah rumah besar yang sudah dibeli sebelumnya dan sebelum malam tiba, Rayden mengajak mereka ke tempat pertunangan Raiqa digelar. Tak begitu banyak yang hadir karena Raiqa sendiri tak mau pernikahannya di publikasikan. Kalau saja bukan dari pihak keluarga calon istrinya yang meminta, Raiqa pasti menolak terbang ke Paris. Tampak Raiqa yang berdiri di sebelah calon istrinya, tak begitu senang.