Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
60. PTWY 60 # Lahirnya Baby Rafka



"Heh, Aidan, kau tidak ke tempat istrimu?" tanya Black sambil menggigit apel di tangannya, karena belum bisa makan selain buah-buahan. ia duduk santai, melihat Bram mengotak-atik sesuatu di laptopnya dan sedang mencari cctv yang terhubung di tempat kecelakaan istrinya terjadi.


"Untuk saat ini tidak dulu. Aku lebih baik di sini dan mengawasi kelakuan mu," jawab Bram tanpa menoleh. Black mendecak kesal, merasa seperti tahanan.


"Heh, kau tahu, waktu aku ke club sana, aku menemukan Hana membicarakan sesuatu pada sekelompok gangster,"


"Sepertinya wanita yang pernah kau sukai itu sedang bersekongkol untuk mencelakai istrimu,"


"Sebenarnya, aku mau melabraknya, tapi kalau dipikir-pikir aku tidak punya hubungan dengan dia,"


"Jadi, sebaiknya-" ucap Black berhenti ketika Bram menengok dan menatapnya tajam.


"Hana? Berkomplotan untuk mencelakai Qila? Kau serius? Atau ini hanya tuduhan omong kosong mu?" tanya Bram.


"Enak saja, aku dituduh omong kosong! Ini sungguhan, bodoh! Dengar saja sendiri percakapan mereka!" Black memberikan alat perekam suara. Bram pun tercengang, mendengar Hana memaksa mereka menjual bom kepadanya untuk dipasangkan ke mobil yang dikendarai oleh Aidan.


"Wah, wah, sepertinya yang seharusnya mati itu adalah kamu, Aidan. Tapi karena mereka salah menaruh bomnya, prediksi mereka akhirnya gagal karena yang mati adalah Qila dan anak mu,"


"Kira-kira, mobil mana ya yang akan dipasangkan Bom," gumam Black sambil tersenyum smirk melihat Bram terguncang hebat.


"Arghh!" Bram meringis saat kepalanya tiba-tiba berdenyut kesakitan. Ia mendadak mengingat insiden kecelakaan istrinya. Api yang berkobar-kobar usai mobilnya terjun bebas ke laut dan meledak.


"Ahhh, tidaaaak!" Bram berteriak, mencoba tetap tenang, tapi karena ingatan mengerikan itu membuatnya jatuh pingsan. Black berdiri, menyeret Bram kemudian meletakkannya di atas sofa.


"Ck, padahal aku yang banyak menderita di sini, tapi melihatmu begini, aku jadi kasihan." Black pergi dari apartemen, menuju ke penjara Evan untuk mengunjungi dirinya yang menyedihkan itu.


Sedangkan Hana, mengeluarkan Bom waktu dari dalam tas. Ia keluar dan memasangnya ke salah satu mobil hitam Wira yang akan dipakai ke tempat saudara kembarnya berada.


"Aidan, jika kau mati, tidak ada yang akan melindungi Qila. Gara-gara kau hadir di kehidupannya juga, hidup Qila lebih beruntung daripada aku." Hana yang sakit hati, lebih menginginkan Aidan mati daripada Qila. Oleh karena itu, ia akan menyusun rencana agar Aidan dapat memakai mobil itu sendirian. Dan setelah rencananya berhasil, Hana tinggal mengaktifkan bom waktunya dan sakit hatinya akan terbalasnya.


"Aku yakin, setelah Aidan mati, hidup Qila akan hancur berantakan." Hana mengemudi perlahan, agar Bom yang ada di bawah kursi pengemudi baik-baik saja.


Kini di penjara, Black yang menyamar sebagai identitas orang lain, berhasil mengelabui petugas. Ia pun masuk mengunjungi Evan. Tampak Evan cuma diam menunduk di ruang pertemuan mereka. Black tahu, Evan saat ini sedang merasa hancur, karena itulah yang dia rasakan dulu.


Tetapi, ketika Black melepaskan alat pita suara dan berbicara, Evan langsung mengangkat kepalanya. Terdiam mendengar suara itu mirip dengannya.


"Heh, sudah lama kita tidak bertemu, kau semakin menyedihkan sekarang." Black berbicara seolah-olah begitu akrab dengan Evan.


"Ka-kau, siapa?" tanya Evan terbata-bata melihat Black tersenyum tipis.


"Apa kau disuruh oleh ayah ku? Atau—"


"Aku adalah orang yang hampir membunuh mu." Jawab Black membuka kacamata dan menunjukkan matanya yang buta. Evan berdiri dari kursi, sangat syok melihat orang itu adalah


"A-apa tujuan kau datang kemari? Dan kenapa kau bicara seperti itu pada ku? Bu-bukannya kau juga sudah mati? Ke-kenapa masih hidup?" Evan bertanya-tanya.


Black pun dengan santai menjawab, "Kalau aku mati, kau pun juga akan mati, bodoh."


"Apa maksud mu?" tanya Evan. Black menunjuk kursi, menyuruh Evan duduk. Evan pun menurutinya dan menunggu Black bicara. Tetapi sekali lagi, Evan berdiri karena terkejut mendengar jawaban pria berjaket hitam itu.


"Kau adalah aku, dan aku adalah kau dari masa depan."


Evan terdiam, bingung mendengar ucapan Black.


Black mendesis, kesal melihat kebodohan Evan. Ia pun cuma mengeluarkan sebuah kertas sebelum petugas datang. "Nih, kau ambil dan baca. Semua yang di dalam sini adalah kenyataan dan kau harus percaya itu!" Black berdiri, meninggalkan ruangan itu. Evan pun menyimpannya ke dalam saku dan terkejut melihat ada dadu kecil di lantai.


"Loh, ini kan?" Evan segera memungutnya dan pergi kembali ke sel tahanan. Setelah membaca isi kertas itu dan mengetahui tujuan Black, Evan merem4s kertas itu. Kesal dan marah pada Aidan. "Sialan, rupanya kau diam-diam membuat mesin waktu di belakang ku tanpa sepengetahuan ku! Tidak akan ku biarkan kau menghentikan kematian Qila!" Evan memukul tembok dan menggenggam dadu milik Black yang tampaknya Black tidak sadar senjatanya terjatuh.


Black sepertinya tidak sadar juga, dari perbuatannya itu membuat Evan semakin dendam, hingga perseteruan mereka berdua akan kembali terjadi antara Evan dan Aidan di masa depan dan itu terus terjadi pada Aidan dan Evan yang lainnya.


Kini Black menuju ke markas Aidan, membuka kunci yang dia dapatkan dari Bram. Sekarang, dia tersenyum lebar melihat mesin waktu Aidan di depannya. Ia pun seketika diam, karena takut mencobanya sendirian. Black pun membawa mesin itu ke apartemen Bram untuk memaksanya menguji coba mesin itu terlebih dulu sebelum digunakan untuk kembali ke masa depan. Sambil menyempurnakan mesin waktu itu, selama tiga hari ini Black menanti kematian Qila tiba dan menunggu, apakah Bram dapat menyelamatkan anak dan istrinya atau tidak.


"Ck, aku merasa ini hanya sia-sia saja." Black tersenyum sambil melirik Bram yang masih belum sadarkan diri. Di waktu yang sama, Qila yang sedang mengejan di samping Aidan, tengah berusaha mati-matian melahirkan sang baby Rafka. Tanpa drama dan hambatan, mereka berdua berhasil melaluinya dengan selamat dan sehat.



[😘Rafka]


"Oweekkk ... oweekkk!" tangis bayi kemerah-merahan itu mengisi ruang persalinan. Arum dan Kinan menangis bahagia mendengar suara tangis bayi kembali terdengar selama penantian lima tahun ini.


"Selamat sayang, anak kita cantik seperti kamu," kata Aidan mencium kening Qila. "Terima kasih, Aidan." Balas Qila mengecup tangan suaminya dan melihat baby Rafka di tangan Dokter yang lebih mirip dengan bentuk wajahnya. Bulat dan indah seperti bulan purnama. Tangis bahagia dari pasangan itu tumpah malam ini. Sedangkan Aila dan Aiko tersenyum sumringah melihat adik mereka begitu kecil dan imut. Sementara Hana diam-diam mengumpat kesal.


"Malam ini memang kalian sedang berbahagia, tetapi tidak lama lagi. Kebahagian kalian akan berubah tragis." Hana tertawa jahat dalam hati dan pergi dari ruang persalinan.


.


Visual Rafka di masa depan🥰


Wajahnya dominan muka Qila😆


Manja dan cengeng sama Daddy😘