Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
10. PTWY 10 # Proses Bikin Anak



“Hiya! Hiya! Hiyakkkk!!!” Aiko yang bangun awal, tampak lucu melihat tubuh kecilnya melompat-lompat dan berusaha meraih gagang pintu.


*Kriek!!


“Eh, Ayiko?” Tunjuk Keyra pada anak balita laki-laki milik saudara kembarnya itu. Ia sedikit terkejut melihat bocah berpiyama gambar Doraemon itu keluar dari kamar Qila.


“Untiii!” Seru Aiko berlari memeluk lututnya.


“Ehh, kenapa?” tanya Keyra bingung.


“Ayyila na bawu,” tunjuknya ke dalam dan satu tangannya memencet hidung mungil nan mancungnya.


“Hmm, Momi memang kemana? Kenapa tidak tahu Ayila bawu?” Keyra bertanya dan paham maksud keponakan kecilnya itu bahwa Aila sedang ngompol.


“Momi na Dadi macih tidull, Unti,” ucap Aiko.


“Ckckck, mereka ini masih kebiasaan lambat mengurus anak-anaknya!” Keyra menggandeng tangan Aiko dan masuk ke dalam. Sontak kaget melihat di tempat tidur sana ada Aidan dan Qila di bawah satu selimut, tentunya tanpa busana. Tidak mau berpikir lama apa yang sudah terjadi, Keyra memalingkan wajah cepat dan mengambil Aila. Bocah perempuan yang untungnya memakai popok dan masih terlelap.


“Unti, ndak bangunin Momi na Dadi?” tanya Aiko digandeng keluar dari kamar.


“Haha, tidak usah diganggu, biarkan saja Momi dan Dadi kalian tidur di dalam. Sekarang kita ke tempat Omah,” ajak Keyra menutup pintu kamar. Tiba-tiba mereka berpapasan Evan yang mau turun ke lantai bawah.


“Hmm, kenapa kau membawa mereka, Key?” tanya Evan.


“Ancel, Momi na Dadi macih tidull, ndak boyeh diganggu kata na Unti.” Aiko menunjuk Keyra. Evan mendecak lidah kesal dan paham kalau Aidan dan Qila menghabiskan cinta satu malam mereka kemarin.


“Ancel, Ayyiko na mawu gendong, boyeh?” pinta Aiko mengangkat dua tangannya, bertingkah imut. Tetapi Keyra menarik satu tangannya.


“Ayo, Ayiko, kita ke nenek dulu.” Keyra membawanya pergi menjauhi Evan. Tampak marah pada suaminya.


Evan yang melihat tatapan Keyra tadi, ia sadar istrinya sedang memendam amarah dan kekesalan.


“Sudahlah, terserah dia mau marah atau tidak, sekarang aku sudah dikejar waktu.” Evan menuruni cepat setiap anak tangga.


“Pagi, Tuan Evan, anda sudah ingin berangkat? Tidak sarapan dulu?” tanya Bik Ida tidak sengaja berpapasan.


“Tidak, aku ada urusan hari ini. Bilang saja kepada Aidan untuk menyetir mobilnya sendiri.” Evan bergegas keluar. Pergi memakai motor pribadinya. Mendengar bunyi motor Evan di luar, menciptakan gemuruh di hati kecil Keyra.


“Unti, napa? Kok nangis, cihh?” tanya Aiko terkejut karena Keyra yang sesegukan di depan pintu.


“Loh, Keyra, apa yang terjadi pada mu? Siapa yang membuat mu begitu? Sini, katakan pada Papa, biar Papa hajar orangnya langsung.” Rayden yang membuka pintu kamar, terkejut melihat putrinya menangis.


“Apa sih, Pa. Aku ini cuma kelilipan kok,” timpal Keyra mengusap matanya. Namun tiba-tiba ...


“Bohooong! Unti, ndak keyilipan, Atok!” pungkas Aiko berseru. Rayden tersentak kemudian melotot.


“Ayiko, sudah dibilangin dari kemarin, panggil Grandpa, bukan Atok!” celetuk Rayden.


“Ndak mawu, Ayiko ndak tawu geyengpah, tawu na Atok!” balas Aiko menggelengkan kepala. Di tengah tatapan dingin antara cucu dan kakek, Arum muncul dari belakang Rayden.


“Ehh, Keyra, kau kenapa, sayang?” Arum mendekat, karena melihat mata putrinya merah dan sembab.


“Cuma kelilipan debu kok, Ma.” Keyra tidak bisa jujur sebab ia tahu watak Rayden yang garang dan takut akan salah paham nanti.


“Hm, kalau begitu, kenapa kau ke sini bawa mereka?” Rayden menatap Aila masih nyenyak di pundak Keyra.


“Ini, Ma, tolong urusin Aila, dia habis ngompol. Aidan dan Qila lagi nggak bisa urus mereka.” Memberikan Aila kepada sang Nenek.


“Pantesan ada bawu pe—sing, kirain itu dari Ayiko,” lirik Rayden meledek cucu laki-lakinya yang cuma setinggi lutut itu.


“Nonono! Ayiko ndak bawu, Atok na jangan sembalangan ejek Ayiko!” timpalnya mendongak pada pria tinggi yang hampir mencapai 2 meter itu dan mengerucutkan mulut mungilnya juga.


“Haiss, dibilangin panggil Grandpa! Bukan Atok!” sewot Rayden. “Kakek—kau ini orang yang berkuasa di Rayzard, tidak cocok dipanggil Atok." Sambung Rayden komplain.


“Nonono! Atok na yebih cucok!!" balas Aiko.


“Astaghfirullah, kalian berdua, pagi-pagi sudah bertengkar. Sini masuk, biar Grandma urus kalian bertiga.” Arum menarik keduanya masuk, setelah itu melihat Keyra.


“Hmm, iya, Ma.” Angguk Keyra kemudian pergi ke arah tangga. “Ya Allah, mudah-mudahan pernikahan putriku ini baik-baik saja.” Arum berharap hubungan putrinya berjalan mulus terus tanpa adanya orang ketiga.


Kini di kamar satu pasutri, tampak Aidan membuka matanya. “Deg” Jantungnya berdegup pelan melihat di depan wajahnya terpampang muka cantik Qila yang lumayan dekat. Bibir, mata, tengkuk leher dan dada kembar empuk istrinya yang banyak gigitan manis darinya itu dijelajahi semua tanpa sisa.


“Woah, apa kemarin itu sungguh aku yang terlalu gila memuaskan diri?” Aidan duduk dan secara diam-diam mengintip tubuh bawah istrinya yang tidak memakai celana apapun, kemudian ganti mengintip tubuh bagian bawahnya juga.


“Hadeh, pagi-pagi sudah tegak saja kau, kuyuk!” celetuk Aidan menutup Masternya yang ikut terbangun.


Sejenak, Aidan memandangi wajah Qila kembali. ‘Hanya melihat kau tidur di sisi ku, sudah membuat ku bahagia. Terima kasih untuk semalam, sa—sayang.’ Mengelus rambut istrinya dengan lembut dan penuh cinta.


"Umhh, Ayiko?"


'Deg'


Aidan menarik cepat tangannya saat Qila menggeliat dan mengira yang membelainya adalah Aiko, tetapi itu ternyata ...


“Hmm, A—aidan? Kenapa—“


“Aaaaaaahh!” pekik Qila menjerit, melongo dan sadar tubuhnya telang—jang seperti Aidan.


*DUAK!


Menarik selimut dan melempar bantal kepada suaminya itu yang diam kebingungan.


“Ka—kau kenapa tidak pakai baju? Kenapa kita telan—jang begini?” Bertanya kebingungan juga.


“Eh, semalam kita 'kan habis begituan, kau tidak ingat semua itu?” tanya Aidan.


“Be—begituan? Maksudnya...”


“Yah begituan, proses bikin anak, Qila,” ucap Aidan meluruskan dan menunduk malu-malu. Mengingat 6 ronde kemarin adalah puncak kesenangan mereka.


‘Ya Allah, itu artinya, aku hampir dilecehkan oleh Evan?’ Qila pun sadar semalam Evan memberinya obat perang—sang berdosis tinggi karena Qila pikir apa yang dilakukannya bersama Aidan adalah cuplikan bunga tidur, tetapi melainkan kenyataan bahwa dirinya sudah melayani suaminya itu.


“Hmm, Qila, kenapa raut wajah mu kecewa begitu? Kau tidak ikhlas memberi ku suprise semalam?” tanya Aidan sedih melihat ekspresi Qila kembali ke awal setelan pabrik, tidak seperti semalam yang menatapnya cinta dan sayang.


“Hufttt ... Baiklah, maaf kalau aku kemarin membuat mu tidak nyaman.” Aidan berdiri, mengambil jubah mandinya. Masuk dengan raut putus asa. Sedangkan Qila, melirik ke pintu kamar mandi dan mendengar gemericik air shower yang pastinya dibalik itu adalah Aidan yang galau dan merana di sana.


Qila menunduk dan menekuk lutut. Kemudian menenggelamkan wajahnya di antara dua lututnya. Sontak menatap liontin yang terpasang di lehernya. “Om, aku senang masih bisa berada di sisinya sampai saat ini, hanya saja aku tidak berani mengatakan perasaan ku ini. Aku memang cinta dia, sangat cinta sampai tidak bisa marah, tapi di sisi lain, aku juga merasa bersalah karena pernah mengkhianatinya. Ini gara-gara Om, sih! Suka main nyosor dulu. Jadinya, aku tidak bisa tenang sekarang." Qila menggerutu dan menyalahkan Bram yang membuatnya dilema.



Di ruang dapur. Semua berkumpul kecuali Evan. Rayden dan Arum yang tiba duluan di sana, mereka pun paham kenapa orang tua cucu twinsnya baru bergabung sarapan karena hanya melihat bekas gigitan di leher Qila, membuktikan suami istri muda itu kemarin habis berolahraga malam.


"Momi, ntuh napa melah?" Tunjuk Aila polos di pangkuan sang Nenek. Matanya sehat sekali bisa menyadari bekas itu, membuat suasana di pagi hari menjadi tegang.


"Haha, ini dipatuk burung pipit," ucap Qila bercanda tawa.


"Umh, buwung pipit apa ntuh, Mi?" tanya Aiko ingin tahu segala hal yang baru dia dengar. Rayden dan Arum saling menatap dan gugup.


"Hehe, itu semacam makhluk hidup yang paling manis di dunia ini selain Aiko dan Aila," jawab Qila dan segera menutup lehernya dengan memakai syal. Sedangkan Aidan nyaris tersedak roti mendengar julukan Qila untuknya yang semalam. Aidan semakin menunduk, menyembunyikan rona merah di wajahnya. 'Aku tidak sangka, dia bisa menggombal seperti ini, dari mana dia menemukan alasan lucu itu?' Membatin karena senang dan terharu.


Tetapi tingkah Aidan itu sangat jelas terlihat oleh Rayden dan Arum. Mereka tertawa dalam hati melihat putra sulungnya tampak aneh. Memang dua malaikat kecilnya itu pembawa kebahagiaan di dalam keluarganya. Kecuali, Keyra yang hanya diam. Ingin rasanya iri melihat keluarga kecil Aidan itu. Tapi kini yang terpenting, Qila yang tidak melihat Evan, rasanya ingin melaporkan perbuatannya pada Rayden. Tetapi melihat Keyra yang murung di sana, membuatnya ragu.


.


Ayo Qila, putuskan yang mana terbaik🤗


^^^Like, komen, share♥️^^^


^^^Biar Author semangat nulisnya!^^^


^^^Next to Chapter!^^^


^^^Thank's you😍^^^