Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
74. PTWY 74 # Sedang Sakit



"Apa? Keyra ada di rumah sakit?" Arum terkejut setelah mendengar Kinan mengatakan keberadaan putrinya.


"Ya, Arum. Sekarang dia belum sadar, apa sekarang kau ingin ke sana?"


"Tentu saja, bawa aku melihatnya."


"Baiklah, mari kita ke rumah sakit." Wira berdiri dan menyuruh mereka semua serta Aidan ke rumah sakit. Tibanya di sana, suluruh tubuh Arum terasa lemas dan tak berdaya melihat Keyra di dalam ruang rawatnya sedang diperiksa Dokter.


"Ma, tenang dan sabar. Keyra pasti baik-baik saja," ucap Aidan dan mengelus bahu Ibunya yang berada di pelukannya. Tampak Arum merasa bersalah karena seharusnya melarang Keyra keluar bersama Raiqa. Qila yang berada di samping tiga anaknya, ia tampak merasa sedih memandangi Keyra di sana.


"Tante, Om, di mana Evan sekarang? Apa dia kabur?" tanya Aidan. Sedangkan Aila, Aiko dan Rafka bertanya soal Vincent.


"Dia berada di ruang sebelah, Aidan," sahut Rayden datang bersama Raiqa. Melihat suaminya datang, Arum pindah memeluknya dan mendengarkan kondisi Keyra dari Dokter.


"Tuan, Nyonya, anda tak perlu khawatir lagi, kondisi putri anda sudah kembali stabil." Senyum Dokter yang setengah lelah menangani Keyra yang kadang kondisinya tiba-tiba menurun. "Lalu, kenapa dia belum sadar juga, Dok?" tanya Arum. "Tenanglah, sayang. Keyra juga pasti akan bangun. Kita tunggu saja," ucap Rayden dan akhirnya bisa tersenyum lega karena sudah mengurus tuntas musuh-musuhnya.


"Baiklah, saya permisi dulu. Masih ada satu pasien yang harus saya periksa." Pamit Dokter.


"Oh ya, Wira, di mana kau menitipkan Vincent?" tanya Rayden.


"Emh itu, saya titipkan ke Kakaknya Evan, karena kami bingung harus menitipkannya kemana," jawab Kinan.


"Ya sudah, biar aku yang mengambilnya, Ma." Aidan keluar dari ruangan Keyra kemudian ia ditahan oleh ketiga anaknya.


"Dadi, mau kemana?"


"Kalian di sini dulu jaga Momi kalian, Dadi mau ke ruangan Evan ambil sepupu kalian," ucap Aidan namun tiba-tiba di depannya ada dua orang tua mendatanginya. Mereka tak lain adalah pihak keluarga dari suami adiknya yang dengan terpaksa datang mengunjungi Evan karena siapa tau anak lelakinya meninggal tanpa kehadiran mereka. Jika itu terjadi, orang-orang akan menganggap mereka tak punya hati.


"Apa tujuan kalian datang kemari?" tanya Aidan berdiri di sebelah Qila dan ketiga anaknya sambil menatap sinis ke mereka.


"Ohh, tuan muda Aidan, saya dengar adikmu adalah alasan Evan kecelakaan dan kami telah mendengar Evan telah memiliki anak dari Keyra. Jadi, kami bermaksud untuk membicarakan hak asuh anak itu dan perceraian mereka berdua kepada ayahmu." Wanita glamor dengan ekspresi angkuh yang berdiri di dekat suaminya, ia langsung saja melontarkan keinginannya.


"Ck, aku tak akan membiarkan kalian mengambilnya." Rayden keluar dan membalas keangkuhan besannya itu.


"Tak peduli apa tanggapan anda, kami tetap akan mengambil anak itu. Jika anda menginginkan cucu dari putrimu, sebaiknya nikahkan saja dia dengan pria lain. Saya tau dengan jelas, anda tak begitu menyukai Evan, apalagi wajah anak itu lebih dominan kepada ayahnya. Jadi kita yang lebih patut-"


Brak!!


Rayden memukul tembok di dekatnya. Tak sudi mendengar wanita itu dengan mudahnya mengatur-ngatur siapa yang pantas untuk Vincent. Aidan dan yang lainnya pun hanya diam, mereka tak bisa bicara jika Rayden sedang emosi.


Namun, seketika amarah Rayden sirna ketika Vincent datang dan memanggilnya. "Kakek." Dan kemudian melewati orang tua ayahnya. "Kakek, dari mana saja?" Vincent mengangkat wajahnya ke atas. Sedangkan orang tua Evan sedikit tertegun karena wajah Vincent sesuai perkataan putri mereka di dalam panggilan. Apalagi Aiko, Aila, dan Rafka, terutama Qila dan Aidan, mereka diam tertegun.


"Rayden, siapa anak ini?" tanya Arum keluar dari ruang rawat Keyra bersama Wira dan Kinan.


"Sayang, dia cucu kita dari Keyra," jawab Rayden tersenyum.


"Vincent, kau manis sekali." Arum tersenyum senang dapat bertemu satu cucunya itu.


"Hm, makasih, nenek juga manis dan cantik," balas Vincent memuji dan tersenyum membuat kedua orang tua Evan sedikit merasa iri karena Vincent adalah satu-satunya cucu laki-laki mereka. Oleh karena itu, mereka ingin merebut hak asuh Vincent.


"Kalian sudah melihatnya sendiri, anak ini telah saya rawat dengan baik dan sangat menyukai keluarga kami. Sekarang kalian pergi dan tidak usah merebutnya dari kami. Soal perceraian Evan dan Keyra, saya sendiri akan mengaturnya lagi," ucap Rayden menegaskannya. Namun, seketika membuat Vincent menggelengkan kepala.


"Ndak mau, Vicen ndak mau, Kakek." Vincent menolak.


"Kenapa? Kenapa tidak mau? Di sini ada banyak yang menyayangimu, Vincent. Lihat, tiga anak itu adalah sepupumu dan kau bisa puas bermain dengan mereka. Terutama pria ini, adalah ayah baru untukmu nanti. Dia lebih baik dari ayah kamu itu," kata Rayden membujuknya.


"Tidak mau, Vincent tidak mau!" pekik anak itu lari dan masuk ke ruangan Keyra. "Mami, bangun. Vincent mau sama Mami dan Papi, tidak mau sama mereka." Anak itu menggoyangkan tangan Keyra.


Melihat Vincent pergi mengacuhkan Rayden, Ibu Evan ingin berbicara namun suaminya menahannya. "Jangan, kita tidak usah lagi berdebat di sini. Sebaiknya kita kembali melihat Evan."


"Tapi, anak itu harus kita miliki, sayang. Bukannya kau ingin cucu laki-laki kan? Dia cocok jadi pengganti Evan," kata wanita itu.


"Sayang, ayo kita lihat Evan." Suaminya menatap serius.


"Ck, baiklah." Dengan terpaksa menurut dan meninggalkan Rayden dan yang lainnya di sana.


"Vincent jangan, Ibumu sedang sakit." Arum meraih tangan dua Vincent, akan tetapi bocah itu menolak dan pindah menarik tangan Keyra yang lainnya.


"Mami, bangun sekarang." Menangis dan meminta Keyra sadar. Mendengar bocah itu memberontak, Aidan dan Qila merasa kasihan, apalagi tiga anaknya juga merasa prihatin. Memikirkan diri mereka di posisi Vincent pasti terasa menyakitkan.


"Vincent, tenanglah," tahan Rayden namun ditepis oleh Vincent. "Tidak mau, Vicen tidak mau ikut Kakek jahat! Vicen mau Mami dan Papi!!" tolak Vincent membentak. Rayden sedikit terkejut mendengarnya, ia pun melirik Aidan yang sedang menahan tawa di sina, namun Aidan seketika berpaling ke Qila.


"Vicen, sudah ya, jangan menangis," hibur Arum tak tega melihat cucunya terisak-isak.


"Nenek, Vicen mau Mami dan Papi. Tidak mau sama Kakek."


"Ya benall! Lafka juga ndak setuju, lebih baik jangan sama Kakek. Kakek suka mallah-mallah," sahut Rafka dan seketika diam saat menerima cubitan dari Aila dan Aiko.


"Hii, kamu diamlah, Rafka." Tegur mereka karena tau dan sangat ingat bagaimana Rayden marah. Pistolnya bisa keluar tiba-tiba.


"Vincent, jangan pikirkan Papi kamu lagi, dia orangnya tidak baik sama Mami kamu. Lebih baik terima saja orang tua mu pisah. Lagipula, biar Om saja yang gantikan ayahmu," kata Raiqa membujuknya agar diam.


"Tidak mau! Vicen tidak kenal, Om!" marah Vincent melotot.


.


Emaknya aja gak mau, apalagi anaknya🤭