
"Ma, aku mau ngomong sesuatu,"
"Hm, ngomong apa?" tanya Kinan pada Hana yang duduk di sebelahnya.
"Pesta untuk Qila, apa aku boleh ajak seseorang?"
Alis kanan Kinan terangkat. "Ajak seseorang? Siapa? Apa itu pacar mu?" tanya Kinan dan melirik Hana yang gugup.
"Em, itu, bukan pacar, cu—cuman teman, Ma," ucap Hana, rasanya ingin menutup wajahnya karena ini pertama kalinya dia meminta itu.
"Teman cewek, atau cowok nih?" goda Kinan mencolek lengan Hana.
"Teman cowok, tapi orangnya baik, kok, Ma." Jelas Hana, yang dia maksud adalah Dosennya.
"Boleh, 'kan, Ma?" tanya Hana dan memohon.
"Hm, oke, nanti Mama coba bicarakan ini kepada Papa kamu," ucap Kinan, sambil membelai rambut Hana yang tersenyum senang. Sebelum menyetujui, Kinan dan Wira harus memikirkannya dulu, karena siapa yang akan tahu niat seseorang mendekati keluarga mereka.
'Baiklah, besok, aku tinggal minta Pak Brian ikut bersama ku. Aku yakin, dia akan menerimaku!' batin Hana percaya diri karena merasa dirinya gadis ideal yang berasal dari keluarga kaya yang bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
'Kalau Pak Brian menolak, aku tinggal memberi dia uang! Aku harus bawa dia agar di sana aku tidak kalah dari Qila.'
Hana melompat-lompat kecil dan menuju ke arah kamarnya. Tidak sabar untuk berbicara pada Dosennya itu besok.
.
Hari demi hari berlalu, dan bulan pun telah berganti. Tetapi Hana belum pernah mengatakan niatnya itu pada Bram, karena Bram sering tidak masuk mengajar, itu karena Bram telah berhasil menemukan lokasi Evan, sehingga pria itu sedang menyiapkan dirinya menangkap Evan. "Huh, kemana ya Pak Brian sekarang?" Hana murung, tidak tahu alamat rumah Dosennya.
"Arghh, kalau begini, lebih baik aku tidak ikut saja rayakan pesta itu!" Kesal Hana. Apalagi perasaan irinya pada Qila semakin besar saat mengetahui saudara kembarnya itu memulai karirnya dengan menjadi model. Sedangkan dirinya, masih sibuk dengan tumpukan buku-buku pelajaran.
Setiap kali masuk kelas, Qila selalu menjadi sorotan perbincangan mereka. Ada yang memuji keberhasilan Qila, dan juga ada banyak yang menjadi penggemarnya. Hana sekarang sudah semakin jauh untuk mengalahkan ketenaran saudara kembarnya itu.
Terutama, Aidan makin hari semakin memberi perhatian lebih pada istrinya. Timbul rasa cemburu yang membuat Hana menyesal tidak hadir di pesta beberapa tahun yang lalu itu.
"Kalau saja aku tidak suruh ganti Qila hadir sebagai aku, mungkin aku yang jadi Ibu anak kembarnya dan istrinya Aidan. Aku dapat dikenal sebagai menantu dan lebih populer dari Qila. Ck," decak Hana merasa takdirnya sekarang sangat buruk daripada Qila.
Hana terus berjalan dan sontak saja ia menabrak seseorang yang sedang tergesa-gesa.
"Eh, maaf, Pak B—Brian," ucap Hana membukukan kepalanya sedikit. "Tidak apa-apa," kata Bram kemudian berjalan kembali, tetapi hanya dua langkah, tiba-tiba Hana lari dan berdiri di depannya, mencegahnya untuk pulang.
"Hm, mengapa kamu menghalangi jalan saya?" tanya Bram.
"Em itu, Pak, apa akhir tahun ini, Pak Brian ada waktu, nggak?" tanya Hana sedikit canggung. Karena di sekitarnya ada beberapa mahasiswa yang melihat mereka.
"Hm, untuk apa kamu tanyakan itu?" Bram bertanya lagi.
"Itu ... kalau boleh, saya mau mengundang anda ke pesta keluarga saya akhir tahun ini, Pak,"
"Maaf, saya tidak bisa," tolak Bram cepat, sudah tahu niat Hana yang mau mengajaknya ke pesta akhir tahun.
"Saya ada banyak urusan bulan ini, maaf ya, Hana," ucap Bram sedikit tersenyum. Kemudian melewati Hana, tetapi Bram kembali berhenti ketika Hana berbicara.
"Kenapa? Kenapa, Pak Brian menolak? Bukan kah ini kesempatan untuk anda, Pak," ucap Hana menatap Bram yang bingung.
"Apa maksud mu?" tanya Bram.
"Pak, tidak usah seperti orang bodoh, saya tahu anda menyukai Qila," kata Hana mendekat dan berhasil mengejutkan Dosennya itu.
"Pak, setiap tatapan yang Pak Brian berikan pada Qila, jelas sekali kalau anda punya rasa spesial pada saudara kembar saya itu. Anda selalu memperhatikan dan bahkan sering memperlakukannya dengan khusus, beda sekali saat aku dan yang lainnya. Jujur saja, Pak, tidak usah membohongi perasaan anda itu," tutur Hana memang selama ini memperhatikan perilaku Bram terhadap Qila.
Bram menghembus nafas panjang, hampir saja melupakan Hana yang kini mulai curiga padanya. Dengan tenang, Bram tersenyum kepada Hana kemudian, "Hana, sepertinya kamu terlalu banyak membaca novel scandal antara Dosen dan muridnya. Satu nasehat dari saya, berhenti memikirkan hal buruk tentang saya. Kalau saja, kamu bukan dari keluarga Wiransyah, saya bisa menuntut mu ke pihak wajib." Bram menegaskan dengan tatapan tidak suka. Tentu siapa yang nyaman dengan penguntit seperti Hana. Meski cantik, tapi tindakannya itu tidak baik dan itu membuat Bram tidak begitu menyukainya.
"Cih, gagal deh!" Celetuk Hana menghentakkan kakinya setelah Bram pergi.
.
Di rumah Rayden.
Pintu rumah tiba-tiba terbuka dari luar. Sontak, Aiko dan Aila yang main di ruang tamu, langsung berlari ke pintu. Mereka pikir itu adalah orang tuanya, tetapi rupanya, Keyra.
"Unti! Dali mana balu pulang?" tanya Aiko dan Aila kompak pada wanita yang lumayan tinggi itu. Keyra yang pulang sendirian itu menatap dingin dan menakutkan. Ekspresinya berbeda dari sebelumnya dan itu membuat si kembar ketakutan. Tetapi, suasananya berubah saat Arum datang.
"Keyra, kamu dari mana saja?" tanya Arum yang sudah sangat mengkhawatirkan putrinya itu. Keyra sedikit tersenyum canggung dan menutup perutnya dengan tas.
"Ma, itu aku ada urusan di rumah teman, ada proyek kecil-kecilan, hehe," jawab Keyra belum berani jujur tentang perutnya yang sudah lumayan besar itu, seperti Qila.
"Keyra, Mama tiap hari memikirkan mu. Mama pikir kamu sudah hilang. Kamu tahu, Papa juga mencari mu di rumah teman-teman mu, tapi mereka bilang kamu tidak pernah datang kepada mereka. Kamu tinggal di rumah siapa, Key? Siapa nama teman mu itu?" tanya Arum setelah memeluk putrinya itu.
"Itu, te—teman baru, namanya, Evlin, tapi Mama tidak usah memikirkannya lagi, yang penting aku sudah pulang," ucap Keyra tersenyum sumringah dan ingin mengelus kepala si kembar tetapi dua bocah itu menghindar karena merasa tante mereka agak aneh.
Tiba-tiba, "Momi! Dadi! Selamat datang!" sambut dua bocah cilik itu melompat ke arah Aidan dan Qila. Mereka berdua pun terkejut melihat Keyra sudah pulang. Keyra tersenyum, tetapi Aidan malah membuang muka dan membawa anak dan istrinya ke atas.
"Ehh, Aidan! Adik kamu pulang, harusnya kamu sambut dia!" celetuk Arum melihat sikap putranya itu yang mengabaikan Keyra. Tentu, Aidan masih syok dengan kebenaran adiknya itu yang hamil. "Aidan, kamu kenapa?" tanya Qila pada Aidan yang manaruh tasnya ke atas nakas. Saat ingin dijawab, tiba-tiba Aiko dan Aila merengek.
"Momi,"
"Hm, kenapa?"
"Aiko dan Aila, mawu susu!" Mohon dua bocah itu dengan wajah polos yang menggemaskan.
"Ya sudah, kalian di sini sama Dadi dulu, Momi ke bawah buatkan kalian susu," ucap Qila mengecup kepala mereka kemudian keluar. Berjalan ke arah tangga dan tidak sadar, di belakangnya ada Keyra yang diam-diam mendekat dengan ekspresi yang sulit diartikan, tetapi terlihat memiliki niat untuk mendorongnya jatuh dari tangga.
'Maaf, Qila, ini demi anakku.'