Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
22. PTWY 22 # Bantuan Bram



Memikirkan keinginan Aidan kemarin, Qila yang sudah menyelesaikan mata pelajaran di kelas terakhirnya, dengan cepat membereskan buku-bukunya.


Hana yang melihat Qila hendak meninggalkan kelas, ia pun bertanya, "Kamu mau kemana? Kenapa buru-buru sekali?"


Qila menjawab, "Aku ingin mencari Pak Brian dulu."


"Untuk apa kamu mencari dia?" tanya Hana.


"Kemarin, Aidan tertarik membicarakan tentang konsep time traveler. Jadi, kupikir Pak Brian bisa membantunya," jawab Qila sambil tersenyum. Namun, Hana hanya membalasnya dengan tatapan malas, kemudian, "Oh, mau cari Pak Brian, atau emang ada niat mau selingkuh dari Aidan?"


Cibiran Hana yamg tidak sopan dan tidak pantas itu, membuat Qila merasa tidak nyaman. Ia merasa Hana sudah salah menuduhnya tanpa alasan yang jelas.


"Hana, kata-katamu sangat keterlaluan. Aku ingin bertemu dengan Pak Brian karena Aidan tertarik pada topik materi yang dia sampaikan kemarin itu. Tidak ada hubungannya dengan selingkuh atau hal-hal buruk seperti yang kamu bayangkan. Aku harap kamu bisa lebih berhati-hati dengan kata-katamu dan tidak membuat asumsi yang salah seperti itu," jelas Qila dengan tegas kemudian keluar dari kelas dan meninggalkan Hana yang cemberut.


Hana menarik tasnya dengan perasaan kesal karena sikap Qila yang berubah. Dari yang dulunya cupu menjadi tegas seperti itu. Apalagi, popularitas Qila kini meningkat drastis di media sosial setelah Arum, istri dari Mafia Rayzard itu mempublikasikan kabar bahagia tentang kehadiran cucu baru mereka.


"Bang, ayo pulang!" Hana mendorong bahu Raiqa yang sedang termenung di atas motornya.


"Bang, dengar nggak sih, aku mau pulang nih!" pekik Hana, namun Raiqa terus diam. Terlihat, Raiqa masih merasa kecewa atas penolakan dari Keyra. Wajahnya yang dulu sering konyol, sekarang tampak tidak bersemangat sedikit pun, dengan penampilan yang kusut dan lusuh.


"BANGGGG!" Hana berteriak.


"Ck, apa sih?" Raiqa pun tersadar dan meringis.


"Ayo pulang, sudah sore nih, nanti Mama pergi duluan ke rumah Tante Arum," kata Hana yang diajak oleh Ibunya untuk mengunjungi dua ponakannya yang tinggal di kawasan elit yang jauh dari rumahnya.


"Bang Rai, lagi mikir siapa sih? Dari kemarin murung terus? Apa jangan-jangan lamarannya ditolak sama janda sebelah yang cantik itu?" tebak Hana dan tidak lupa meledek.


"Kamu benar, aku kemarin ditolak, tapi bukan janda yang itu," ucap Raiqa sedih.


"Terus, ditolak oleh siapa?" tanya Hana.


"Adiknya Aidan," jawab Raiqa menunduk lesu. Sementara Hana terkejut setelah mengetahui bahwa cewek yang akan dilamar oleh Raiqa adalah Keyra.


"Ya ampun, memang pantas ditolak! Keyra itu belum bercerai resmi dengan suaminya, Bang! Hadeh, selera kamu aneh, Bang Raiqa," gumam Hana menggelengkan kepalanya.


"Ya aku tahu, tapi Keyra dan Evan sudah tidak tinggal bersama. Jadi tidak ada yang salah jika aku melamarnya sebelum dia dilamar oleh orang lain," ucap Raiqa mencoba membela diri.


"Udah deh, nggak usah mikirin istri orang, Bang! Cari cewek lain saja, move on," usul Hana, sejujurnya tidak ingin Keyra menikah dengan Raiqa.


Raiqa menghembuskan nafas berat kemudian menatap Hana. Dia ingin juga mengungkapkan tentang kehamilan Keyra, tetapi dia khawatir karena Hana tidak dapat dipercaya dalam menjaga rahasia.


"Oke, kita pulang saja sekarang." Raiqa memutuskan untuk menghidupkan mesin motor. Hana pun melompat dan duduk di belakang, sambil memegang erat jaket kakaknya itu. Kemudian, mereka meninggalkan kampus.


Sementara Qila, wanita muda, cantik, dan hamil itu, masih mencari keberadaan Bram sebelum Aidan menemukannya.


"Hm, di sini cuma ada dosen lain dari tadi, dimana pak Brian? Apa dia tidak masuk hari ini?" Qila bergumam sambil berdiri di depan ruang Dosen.


Orang yang dicarinya akhirnya menjawab dari belakang Qila, membuat istri Aidan itu langsung menoleh.


“Aduh Pak Brian, maaf kalau kedatangan saya sedikit mengganggu,” kata Qila gugup.


"Hm, tidak apa-apa. Masuklah dan beri tahu saya mengapa kamu datang kemari," kata Bram duduk di kursinya dan meletakkan buku siswanya di atas meja.


Qila perlahan masuk, lalu berdiri di depan meja. "Em, saya mau minta tolong Pak Brian untuk jadi mentor Aidan,"


Pas sekali, inilah kesempatan Bram untuk menjadikan Aidan asistennya.


"Hm, seorang mentor? Mengapa suamimu itu tiba-tiba membutuhkan bantuan saya?" tanya Bram dengan ramah.


"Ehhh, Pak Brian tahu darimana Aidan itu suami saya?" tanya Qila sedikit kaget, karena Dosennya baru beberapa hari mengajar, tapi dia sudah cepat tahu identitasnya.


"Tentu saja saya tahu dari berbagai berita. Selain itu, Aidan sudah lama dikenal dari keluarga Rayzard, dan saya juga tahu kalau kamu menantu di sana," kata Bram sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.


"Oh iya, selamat atas kehamilanmu, saya juga senang mendengar kabar baik kalian."


Jantung Qila tiba-tiba berdegup aneh, merasa senang menerima ucapan selamat dari dosen tampan itu. 'Huff, andai saja Paman Bram masih bisa dihubungi, dia pasti akan mengucapkan selamat juga padaku!' Qila memikirkan pria itu.


Saat Qila hendak menjabat tangan dosennya, tiba-tiba seseorang datang mendorong tangan Bram.


"A-Aidan?" Qila terkejut melihat suaminya masuk. Ditambah lagi ekspresi Aidan yang tak karuan melihat tangan istrinya yang nyaris disentuh oleh orang lain, dan pria itu tidak disukainya di kampus ini.


"Qila, kenapa kamu datang ke sini? Aku sudah lama menunggumu di tempat parkir! Kamu seharusnya pergi ke sana, bukan ke sini," ketus Aidan sambil melotot ke arah Bram.


"I—itu, maaf, aku ke sini mau meminta Pak Brian untuk membantu mu. Dia dosen yang ahli dalam bidang ini, dan aku yakin kamu bisa mewujudkan keinginanmu dengan bantuan Pak Brian, hehe," ucap Qila sedikit mundur.


Aidan yang gemas, ia pun menarik tangan Qila kemudian melotot kembali pada Bram, memberi tatapan isyarat untuk jauh-jauh dari Qila atau abaikan permintaan istrinya itu. "Tanpa bantuan dia, aku bisa melakukannya sendiri. Lagipula, aku bisa cari orang lain menjadi mentor ku. Sekarang, ayo kita pulang." Aidan menggandeng tangan Qila untuk keluar dari ruangan itu, tetapi Qila melepaskan tangan Aidan kemudian lari mendekati meja Bram.


"Pak, saya ambil kartu ini ya, nanti saya jelaskan lebih lanjut permintaan saya di telepon," ucap Qila mengambil kartu pengenal berisi nomor kontak dosennya itu.


Bram menahan tawa melihat kelucuan Qila, tidak seperti ekspresi Aidan di sana yang semakin sesal dan jengkel pada dosennya.


"Ihh, ngapain kartu jelek itu diambil? Buang sana," ucap Aidan.


"Wleek, nggak mau! Ini kontak penting buat masa depan bisnis perusahaan mu," tolak Qila meledek di depan pintu.


"Qilaaaa!" Aidan mendengkus dan segera menyusul istrinya. Sedangkan Bram, ia menunduk lesu. Perasaannya sedih dan merindukan istri beserta anaknya. Melihat dirinya di masa kini, membuatnya ingin cepat-cepat pulang ke masa depan dan hidup bahagia bersama mereka kembali. Tapi ia harus menunggu sampai hari kematian Qila dan Aiko tiba.


"Pak Brian, apa yang terjadi? Mengapa anda terlihat sedih?" sahut dosen di sebelahnya yang baru datang dan terkejut karena Bram tiba-tiba meneteskan air mata.


"Oh, ini, saya barusan teringat pada orang-orang yang saya sayangi, Pak. Mohon maaf, kalau saya tadi membuat anda kurang nyaman." Bram meminta maaf pada dosen itu dan berdiri untuk segera pulang agar bisa cepat melanjutkan pencariannya.