
"Ma, menurut Mama, rumah sakit yang aman untuk Qila kira-kira di mana?" Aidan yang duduk di sebelah Arum, menunjukkan daftar beberapa rumah sakit besar.
"Fasilitasnya harus yang lengkap dan menjamin keselamatan Qila ya, Ma," katanya, merasa deg-degan.
"Hm, sebentar, Mama ngomong dulu sama Ibu mertua mu, dia mungkin sudah memilih rumah sakit untuk istrimu itu."
"Hm, baik, Ma." Aidan menunggu, sambil melihat si kembar bermain puzzle di depan tv. Sementara Keyra dan Qila, menyiapkan satu kamar untuk sang buah hatinya. Sedangkan Rayden, ia sibuk di markasnya. Memperhatikan perkembangan baby Vincent.
Sekarang, keputusan untuk Qila telah diputuskan bahwa Ibu dari si kembar akan melahirkan di rumah sakit yang terletak di luar kota, karena Dokter persalinan yang sering bekerja di rumah sakit di kota mereka sedang dipindah tugaskan ke luar kota.
Mereka pun membawa lebih awal Qila ke rumah sakit dengan penjagaan yang ketat dari Rayden dan Wira.
"Hana, kamu mau ikut Mama ke sana atau besok saja?" tanya Kinan berdiri di dekat pintu kamar Hana.
"Tidak, Mama pergi saja duluan. Hana masih punya tugas kuliah," tolak Hana berbohong sambil membelakangi Ibunya.
"Baiklah, Mama dan Raiqa pergi sama Papa kamu. Kalau kamu mau ke sana, jangan lupa bilang ke Mama dulu ya, biar Mama bisa suruh Papa-"
"Ma, pergi saja deh. Hana bisa kok pergi sendirian di sana," bentak Hana memotong perkataan Kinan yang sedang cemas dan takut putrinya itu hanya sendirian di rumah, tetapi sikap Hana malah membuat perasaan Kinan sakit. Seolah-olah diusir dan kesal mendengar Kinan bicara.
Kinan pun menutup kamar Hana. Mengelus dadanya dan menunduk sedih.
"Hm, Mama kenapa?" sahut Raiqa datang.
"Ah, tidak apa-apa, yuk kita buruan ke mobil Papa mu,"
"Hm, Hana tidak ikut kita, Ma?" tanya Raiqa mengambil tas di tangan Ibunya.
"Tidak, kata dia, perginya belakangan,"
"Sudah, jangan marah." Kinan mengelus lengan putranya, kemudian mereka berdua menuju ke mobil Wira.
Tiba di rumah sakit dengan selamat, Aidan mengantar Qila ke ruang rawatnya. "Aidan, kenapa kita secepat ini ke rumah sakit? Aku kan belum waktunya lahiran,"
"Sayang, memang hari ini bukan waktunya kamu lahiran, tapi sebagai suami siap siaga, aku tidak mau nanti kita terlambat mengurus persalinan mu. Lagipula, aku benar-benar takut terjadi sesuatu padamu. Apalagi kemarin-kemarin itu, kamu sering meringis kesakitan," kata Aidan, menyuapi istrinya dengan makanan saji yang dibelinya tadi siang. Aidan ingin memastikan keselamatan dan kesehatan Qila terjamin. Serta Qila punya lebih banyak tenaga untuk persalinanya nanti.
"Oh ya, anak-anak kita di mana?" tanya Qila hanya bersama Aidan saja.
"Mama bawa mereka ke hotel, sekalian menyambut orang tua mu," jawab Aidan, tidak lupa mencicipi sisa makanan istrinya. Tiba-tiba Aidan terkejut dan meletakkan segera piringnya ke atas meja, kemudian meraih tangan Qila dan mengusap air mata istrinya yang berlinang.
"Kamu kenapa, sayang? Kenapa mendadak menangis??"
Qila menggenggam tangannya, kemudian tersenyum bahagia. "Aku senang, kalian semua ada di sini menjaga ku dan menunggu ku," jawab Qila lirih dan mengingat di kehamilan pertamanya, tidak ada satupun dari keluarganya yang melihatnya melahirkan si kembar.
"Sekarang kalian semua sudah ada di sini, tapi-"
"Hm, tapi kenapa?" tanya Aidan mencium tangan istrinya yang bergetar.
"Tapi, aku sedikit sedih karena Om Bram tidak ada di sini. Dulu dia yang sering menguatkan aku saat mau melahirkan si kembar. Maaf... Aidan, aku malah teringat pria lain di depan mu," ucap Qila.
Aidan tersenyum dan duduk di dekat Qila, mendekap tubuh istrinya yang lemah. "Tidak apa-apa, aku tidak marah kok, justru aku merasa lega ada pria berbaik hati yang mau menjagamu saat aku tidak ada di sisi kalian," kata Aidan, mengerti.
"Terima kasih, Aidan."
"Sama-sama, sayang." Aidan mengecup sudut bibir istrinya kemudian menghapus sisa air mata Qila. Mengusap perut Qila dengan lembut dan merasa berdebar-debar, antara cemas dan tidak sabar mendengar tangis baby Rafka.
...