Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
40. PTWY 40 # Black Mati?



"Kenapa? Kau takut mati?" Tatap Bram benci, dan kini lebih unggul di pertarungan mereka.


"Aku tak takut mati, hanya saja coba pikirkan baik-baik!" kata Black dengan nafas ngos-ngosan.


"Apa yang perlu dipikirkan? Apa, ha?!!"


"Kau mau aku memikirkan persahabatan kita yang telah hancur itu? Dan mengharapkan aku melepaskan mu lagi?"


"Tidak, Evan. Aku tak bisa lagi memaafkan mu."


Bram mengepal tinju kuat-kuat dan kemudian...


*Bugh


Menghajar wajah Black sampai pria itu mimisan dan lagi-lagi ingin menghajar kembali, namun Black menahan tinju Bram dan menatapnya dengan tajam.


"Ka—kau pikir, hanya kau yang sakit hati? Aku! Aku juga sakit hati, Aidan!" ujar Black marah dengan lantang dan menghempaskan tangan Bram.


"Coba pikirkan baik-baik! Aku yang dulu adalah korban dari tuduhan mu! Korban dari kemarahan ayah mu! Aku dipenjara selama tiga tahun, tanpa ada yang mengunjungiku! Semua orang membenci ku dan mengutuk ku! Bahkan, kau tahu, aku anak yang tak diinginkan oleh keluarga ku."


"Karena kau terlahir sepertiku dulu, aku pikir kita ini sama, tapi ternyata tidak. Kau lahir karena cinta, sedangkan aku lahir tanpa adanya cinta." Black menunduk, menceritakan dirinya dilahirkan dari benih pria lain, bukan dari ayahnya sekarang. Alias Ibunya pernah diperkosa oleh seseorang yang tak lain adalah mantan Ibunya yang sudah meninggal akibat kemarahan suami Ibunya.


Walau kematian ayah Evan mati ditangan ayahnya sekarang, pria itu dengan berbalas kasihan merawat Evan karena alasan kecerdasan dan keunggulannya. Meskipun begitu, Ibunya tak pernah memberinya cinta. Itulah mengapa, Evan lebih memilih tinggal bersama kakaknya daripada orang tuanya di California.


"Aku turut prihatin mendengarnya, dan salut kau tak balas dendam kepada ayahmu, tapi semua yang terjadi padamu di sini adalah ulah mu sendiri!!" Tunjuk Bram geram.


"Ulah ku? Kau yakin ini semua ulah ku? Hei, Aidan! Sadar diri! Ini juga ulah mu yang membuat mesin waktu itu! Bukan cuma salah ku! Salahkan juga perbuatan mu itu!" balas Black juga, geram. Mereka berdua saling bertengkar dan menuduh satu sama lain.


"Tapi percuma saja kau menyalahkan aku, ini yang memang akan terjadi. Sebelumnya, aku dan dirimu yang dulu tak menyadari sosok kita dari masa depan dan sekarang kita tak tahu apa yang terjadi pada mereka," jelas Bram menurunkan senjatanya.


"Aku sangat iri padamu, Aidan. Tahun ini istrimu akan melahirkan anak ketiga kalian, sedangkan aku, anak yang dikandung Keyra, telah lenyap selamanya,"


"Dan, sekarang aku mulai merenungkan sesuatu. Mungkin saja kau berhasil menyelamatkan Qila dan putramu, tidak sepertiku yang menyebabkan Keyra kehilangan harapannya," kata Black dengan sorot mata menyesal.


"A—apa yang sebenarnya kau katakan?" tanya Bram melepaskan cengkeramannya.


"Kau tak usah repot-repot membunuh ku, sepertinya, hidup ku juga tampaknya telah habis," kata Black lagi.


"Apa maksudmu, Evan? Katakan dengan jelas!" Bram mengepal kedua tangannya. Ingin memukul Black, namun seketika mundur saat Black memuntahkan darah hitam begitu banyak. Terlihat menjijikan dan menyedihkan.


"Ck, tubuhku sepertinya terkena paparan radiasi dari mesin waktu ayah mu dan se—sekarang efeknya baru bereaksi di tubuh ku,"


"Huekkk!" Black jatuh terduduk, kembali muntah darah dengan pandangan yang mulai berkunang-kunang.


"E—evan, hei, kau tak bercanda, 'kan?" Bram bertanya, dan bergidik ngeri melihat Evan pucat. Black tergeletak, perlahan menoleh, dan tersenyum. "Kenapa kau panik, Aidan? Harusnya kau senang melihat ajalku telah tiba." Berbicara terbata-bata, meskipun ada banyak sisa darah di mulutnya. Sungguh efek yang sangat menakutkan dan membuat Bram seperti ikut merasakan kesakitan Black, persis orang yang sedang keracunan.


.


Nah loh, gimana tuh endingnya nanti?😶


Ceritanya udah mau ending nih. Kira-kira semuanya bahagia di akhir gak ya?🥺like ya❤️biar author semangat nulisnya😇


—Terima kasih—


Dan maaf kalau ceritanya gak terlalu seru🙏😅