
Arum tersenyum dan terharu melihat Aiko di sana bersama Qila yang baik-baik saja. Hanya saja, Qila harus memakai kursi roda untuk menuju ke arah mereka. Tampak Aiko semakin canggung karena merasa sangat bersalah. Apalagi melihat raut wajah Rafka di sana yang mau menangis, rasa bersalahnya dua kali lipat sekarang.
Kini Qila berhadapan dengan Rafka. Bocah yang sesenggukan itu pun maju dan memeluk Qila. Sangat lama sampai Arum merasa tersentuh melihat cucu kecilnya itu sekarang bisa memeluk orang yang amat dirindukannya.
"Momi, hik." Saking rindunya, Rafka naik ke pangkuan Qila. Memeluknya sangat erat dan tak mau melepaskannya. Qila pun balas memeluknya dan mengecup pipi tembemnya.
"Maaf, Momi baru pulang," ucap Qila dengan nada lembut.
"Huwa ... Momi, jangan pellgi lagi."
Qila mengangguk dan mengelus punggung Rafka. Sedangkan Arum, berdiri di samping suaminya dan merasa sangat lega melihat Aidan benar-benar membawa cucunya kembali. Kini ia melihat Aiko yang meminta maaf kepada Rafka. Adik kecilnya itupun memukul-mukul dada Aiko, namun pada akhirnya memeluknya juga.
"Oma," lirih Aiko kini menghampiri Arum. Tak perlu bicara lagi, Arum memberikan pelukan kerinduan pada cucunya. Aiko maju menerimanya dan meminta maaf. Selain itu, Aiko juga mengatakan pada Arum bahwa Ibunya sekarang amnesia.
"Amnesia? Kalau begitu, apakan Ibumu tidak ingat siapa yang mengendalikan mobilnya waktu itu?" tanya Arum.
"Tidak, tapi Oma tak usah khawatir, Aiko tau dan masih ingat yang mengendalikan mobil adalah robot aneh. Robot itu hampir membunuh Momi. Gara-gara robot laba-laba itu juga, mobilnya terjun ke laut, tapi Momi berhasil keluar bersama Aiko. Hanya saja, waktu robot itu sedang meledakkan dirinya, pintu mobil langsung terlempar dan mengenai kaki Momi sampai patah tulang. Untung kepala Momi juga tidak ikut retak juga."
"Kalau saja Momi tidak peluk Aiko, Aiko mungkin sudah meninggal menerima hantamannya juga."
Qila diam memucat setelah membayangi peristiwa yang diceritakan Aiko. "Momi, kenapa?" tanya Rafka melihat hidung Qila berdarah. Membuat Aiko dan Aila seketika panik.
"Ro-robot laba-laba? Tadi katamu ada robot?" ucap Qila merasa tak asing dan mencoba mengingat sesuatu. "Ya, Momi, robot itu muncul setelah mengubah dirinya dari bentuk Bom." Jelas Aiko sangat ingat pada robot aneh dan berbahaya itu.
Sontak saja, Qila mundur dan merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Ia memegang rambutnya dan meramasnya.
"Sebentar, aku pikir ini adalah mimpi buruk, ternyata itu adalah separuh ingatan ku!" kata Qila menjelaskan soal dirinya kadang bermimpi buruk tentang dirinya berurusan dengan robot aneh.
"Momi, kalau Momi tidak sanggup ingat, jangan dipaksakan," ucap Aiko dan Aila cemas.
"Aidan, bawa mereka ke dalam."
"Baik, Pa." Aidan mengangkat cepat Qila dan menyuruh tiga anaknya itu masuk. Ia paham, Qila sedang terguncang setelah mendapat separuh ingatannya.
"Belum, aku bingung dan takut, jadi menunggu kau sendiri yang jelaskan pada mereka," jawab Arum menggelengkan kepala.
"Baiklah, mungkin sekarang mereka berdua sedang di kantor polisi mengurus kasus Hana," ucap Rayden merasa mereka sudah tau kebusukan Hana.
"Oh ya, apa kau sudah mendapat kabar soal keberadaan Keyra dan Vincent, sayang?" tanya Arum yang juga khawatir pada putri dan cucunya yang satu itu.
"Belum, tapi kau tak perlu cemas dan sekarang masuklah istirahat." Kecup Rayden pada rambut istrinya dan bersiap mencari mereka berdua sekarang juga.
"Tunggu, apa kau tidak mau istirahat dulu?" tahan Arum juga mengkhawatirkan kondisi suaminya.
"Nanti saja, kau masuklah dulu." Rayden menolak dan memilih pergi daripada beristirahat. Arum menyentuh dadanya. Ia merasa sedih dan cemas pada Rayden yang begitu memaksakan dirinya sejak kemarin.
Rayden yang kini sedang menyetir mobilnya, tiba-tiba mendapat panggilan dari Wira. "Kebetulan, sekalian saja aku katakan soal Qila dan Aiko." Namun, setelah menerima panggilan itu. Rayden langsung menepikan mobilnya, sebab sangat terkejut mendengar kabar putrinya yang mengalami kecelakaan dua hari yang lalu. Setelah menenangkan dirinya yang syok, Rayden langsung mengebut ke rumah sakit.
"Hm, Aidan? Kenapa keluar?" tanya Arum tak sengaja berpapasan dengan putranya itu di depan kamarnya.
"Mau ambil air di bawah, Ma. Siapa tau Qila bangun dan haus," jawab Aidan yang sudah memakai piyama.
"Oh ya, kenapa Mama keluar juga?" tanya Aidan.
"Hm, itu, Mama gak bisa tidur sendirian, jadi mau ajak cucu Mama tidur bareng, tapi di kamarnya, mereka gak ada. Tiga cucu Mama pada kemana?" balas Arum bertanya dan tampak belum mendapat pesan dari Rayden soal Keyra.
"Oh mereka ada di kamar, tuh mereka bucin banget sama Qila, Ma." Aidan menunjuk ke dalam kamarnya. Arum menengok dan melihat tiga cucunya tidur di samping kanan dan kiri Qila, hingga Aidan yang mau ikutan bucin tak punya tempat sedikit pun.
Arum tersenyum lega, merasa tenang melihat mereka memeluk Qila. "Hm, ya udah, Mama lanjut tidur saja deh." Arum pergi, tak mau menganggu mereka. Aidan pun memandangi jam dinding dan mulai memikirkan adiknya, terutama Evan yang entah kemana iparnya itu berada. Kalau soal Hana, Aidan sudah tidak peduli sama sekali. Dalam hatinya, ia senang tak jadi menikahi wanita itu.
.
Trio Aidan gak mau Dede baru dulu jadi waktunya ngebucin sama emaknya🥰ðŸ¤hehe…