Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
75. PTWY 75 # Tak Usah Mencarinya



"Hais, matanya mirip sekali Evan. Menjengkelkan." Celetuk Raiqa merasa kesal ditolak langsung. Kinan sedikit menahan tawa melihat Vincent bisa marah seperti itu bukan cuman menangis saja. Sementara Wira, ingin rasanya tertawa melihat Rayden di sana cemberut.


Tiba-tiba, Qila menunjuk. "Aidan, lihat itu, tangan Keyra barusan gerak."


"Deg"


Semua orang mengalihkan perhatiannya ke Keyra dan benar saja gara-gara keributan itu, Keyra perlahan membuka mata.


"Mami!!" panggil Vincent naik ke kursi di samping Ibunya dan memeluknya cepat. Ia takut, Rayden akan memisahkannya dari Keyra.


"Auhh, Auhh, jangan pegang di situ, Vincent," lirih Keyra sedikit kesakitan karena bahunya yang masih sakit setelah terhantam aspal malam itu. Rasanya seperti ingin patah.


"Keyra, syukurlah, kau baik-baik saja, Nak." Arum ikut memeluk Keyra membuatnya semakin menjerit kesakitan. Namun mendengar tangis Arum dan Vincent, rasa sakit itu tak seberapa dengan rasa syukurnya karena masih hidup.


Raiqa tersenyum lega dan begitupun yang lainnya. Namun ketiga Keyra bicara, senyum Raiqa seketika lenyap dan berubah kecewa.


"Oh iya, di mana Evan, Ma?" tanya Keyra tak melihat Evan di antara semua orang yang ada di depannya.


"Tak usah mencarinya, gara-gara dia kau kecelakaan," kata Rayden.


"Pa, justru, Evan malam itu yang menyelamatkan aku. Mobil itu hanya datang ke arah ku, tetapi Evan malah maju untuk menarikku, tetapi karena kecepatan mobil yang kencang, kamu berdua tetap tertabrak. Dan, sebelum aku pingsan, aku mendengar ada yang retak dari Evan. Pa, di mana dia sekarang?" Genangan air mata Keyra berlinang perlahan.


"Dia belum mati kan, Pa?"


"Iya kan, Pa?" Keyra menarik lengan jas Rayden.


"Keyra, tenanglah, kau baru sadar," ucap Raiqa.


"Tidak Raiqa, sekarang ini aku lebih mencemaskan Evan. Dia rela ditabrak demi menyelamatkan aku! Aku gak bisa diam saja di sini!" kata Keyra dengan suara serak.


"Mami, Papi ada di sebelah sini. Papi belum meninggal," ucap Vincent menunjuk tembok.


"Baiklah, ayo kita lihat Papi mu dulu." Keyra turun dari brankar. Ia mengambil kantong infusnya dan menarik tangan mungil Vincent.


"Jangan ke sana, Keyra!" cegah Rayden menahan lengannya.


"Tidak Papa! Jangan hentikan aku," hempas Keyra.


"Keyra, kau istirahatlah dulu," ucap Arum.


"Aku tidak mau, dia mati sebelum meminta maaf padaku," lanjutnya ingin Evan mengatakan itu padanya.


"Keyra, dengarkan ucapan mereka, tak usah ke sana dulu," tahan Raiqa.


"Cukup, berhenti Raiqa. Kau tak ada hak melarang ku. Evan adalah suamiku, sedangkan kau hanya sahabatku," kata Keyra menepisnya dan membuat Raiqa semakin merasa kecewa.


"Keyra, di sana ada orang tua Evan, jika kau ke sana membawa Vincent, mereka bisa merebutnya darimu," sahut Aidan ikut menahannya.


"Selagi aku masih diberi nafas, tak akan aku biarkan Vincent diambil oleh siapapun, terutama mereka dan kalian. Dan lagi, aku sangat kecewa padamu, Papa!" Tunjuk Keyra geram kepada Rayden.


"Keyra!" pekik Arum ingin mengejarnya, namun Aidan menahan Ibunya. "Tidak Ma, biarkan saja dia." Aidan paham bagaimana sifat Keyra yang keras kepala. Sedangkan Rayden menunduk dan merenung setelah dibentak oleh Keyra.


"Argh." Raiqa yang kesal keluar dan pergi.


"Raiqa!" Kinan pun mengejarnya.


"Huft, sebaiknya kalian pikirkan lagi perasaan Keyra di sini, Rayden," ucap Wira menepuk bahu besannya kemudian keluar menyusul anak dan istrinya.


"Aidan, apa semua akan baik-baik saja?" tanya Qila sedikit cemas. "Hm, tak perlu takut. Kita tunggu keputusan Papa setelah Evan sadar." Aidan menggenggam tangan Qila dan melihat tiga anaknya yang sedih melihat mereka bertengkar.


"Hm, semoga saja ada jalan terbaik." Qila tersenyum dan balas menggenggam tangan Aidan. Kini Keyra tiba di sana dan tampak tak ada yang menjaga Evan karena orang tuanya dan Kakak Evan sedang berada di ruangan Dokter.


Melihat Evan di sana sangat menyedihkan. Keyra melangkah masuk bersama Vincent. Ia memandangi Evan dengan ekspresi kecewa. "Bodoh, bodoh! Jika kau mau mati, minta maaflah padaku dulu, bodoh! Jangan buat aku menderita seperti ini! Bangun kau, Evan!" kesal Keyra memukul-mukul lengannya.


"Mami, jangan. Nanti Papi sakit." Vincent menegur Ibunya, seperti tau saja bagaimana rasanya dipukul di bagian itu.


"Maaf, Vincent. Mami sangat benci pada orang ini." Tunjuk Keyra ke wajah Evan.


"Mami, jangan benci Papi. Papi 'kan lagi sakit." Tegur Vincent lagi. Keyra jatuh bersimpuh di depan putranya, ia menunduk dan mengepal tangan. Rasanya ingin memukul perut Evan yang tak mau sadar. Vincent maju, dan memeluk lembut Ibunya agar Keyra dapat mengontrol emosinya.


"Mami, jangan nangis. Nanti Papi sedih." Ucapnya dan membelai rambut Keyra. Seketika, ia menoleh saat orang tua Evan masuk ke dalam ruangan dan mereka terkejut melihat Keyra di sana bersama Vincent. Sontak, Keyra berdiri dan menarik Vincent ke belakangnya.


"Mau apa kau di sini?" tanya Ibu mertuanya dengan sinis dan dibalas sinis juga oleh Keyra dan Vincent.


.


Pilih mana nih Vincent😹