Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
47. PTWY 47 # Tidak Seharusnya Diciptakan!



Tak perlu mencari di mana sumber suara itu, mereka berlima dari kejauhan langsung menemukan Bram yang sedang berdiri di samping seorang wanita. Tampaknya Bram datang bersama wanita itu dan sekarang mengobrol, serta berbasi-basi seputar kabar tentang time traveller yang ternyata lawan bicara mereka juga tertarik membahas hal itu.


"Hei, siapa yang undang dia?" tanya Keyra di antara Aidan dan Raiqa.


"Kau yang undang dia, Rai?" Tunjuk Aidan.


"Nggak, lah! Semenjak kebakaran di mall, dia tidak pernah datang di lab kita," kata Raiqa.


"Lab kita? Apa yang kalian bicarakan?" tanya Keyra melihat dua laki-laki itu berbisik-bisik. Sementara Wira dan Rayden, masih mencari sosok Dokter psikolog itu, alias Bram yang dulu pernah berprofesi sebagai Dokter sebelum terlempar ke masa kini. Kalau saja Bram tidak memakai wajah palsu, Rayden dan Wira sudah pasti menangkapnya dan melakukan interogasi secara rahasia. Memaksa Bram mengatakan apa tujuan Black mengincar mesin waktunya.


"Hei, jawab aku! Apa yang kalian lakukan bersama mantan Dosen itu?" desak Keyra. Pada akhirnya, Raiqa dan Aidan menjawab kalau mereka bertiga sedang melakukan kerjasama menciptakan mesin waktu.


"What's, kalian udah gila ya? Mesin seperti itu tidak seharusnya diciptakan, bodoh!" kata Keyra ikut berbisik-bisik, membuat Qila merasa penasaran apa yang tengah mereka bicarakan.


"Aidan, kalian kenapa?" tanya Qila ingin tahu. Aidan pun menyenggol Raiqa dan Keyra. "Hei, kalian ke sana duluan, jangan sampai Qila melihat tuh orang."


"Baik!" Raiqa paham, dan menarik tangan Keyra begitu saja.


"Ehhhh.... kenapa tarik aku juga?!" Karena tingkah Keyra dan Raiqa, membuat Wira dan Rayden menyusul dari belakang.


"Ishh, kenapa sih mereka?" tanya Arum dan Kinan merasa lesu, diabaikan oleh suami mereka. Sedangkan Aidan, malah tersenyum grogi pada Qila.


"Aidan, Qila, Mama ke sana dulu ya, kalian di sini jagain Aiko dan Aila dulu," ucap Arum dan Kinan ingin ke suami mereka, karena khawatir suami mereka dirayu oleh wanita lain.


"Baik, Mama. Serahkan saja pada Aidan." Hormat ayah si kembar di samping Qila.


"Aidan, kita keluar juga yuk," ajak Qila, sebenarnya ingin ikut dan melihat di luar siapa saja tamu yang baru datang.


"Nanti saja, sayang. Kita ke sana dulu, ajak anak-anak foto bareng. Lihat sendiri, Aiko dan Aila masih ingin buat potret kenang-kenangan kita," kata Aidan dengan halusnya, menolak permintaan Qila.


"Hm, ya udah deh." Qila dengan lesu, menurut saja. 'Katanya setiap permintaan ku bakal dituruti, dasar nyebelin!' gerutu Qila cuman dalam hati. Namun sejenak, Qila merasakan kembali perasaan aneh itu tatkala Aidan meminta kamera fotografer dan ingin memotretnya sendiri.


"Momi! Ayo foto lagi!" Aila sama halnya, naik ke punggung Aidan dan ingin menjadi fotografer dadakan. Sedangkan Aiko, berdiri di samping fotografer sambil menarik-narik tangannya. "Om, Aiko boleh pinjam ntuh?" Menunjuk kamera kecil yang bergantung di leher sang fotografer dan memasang wajah yang menggemaskan.


"Boleh, silahkan Tuan muda kecil ambil ini, tapi tolong pakainya harus hati-hati," ucapnya memberikan kamera itu.


"Yeah, telima kasih! Om sangat baik!"


"Ehhh, sebentar! Tuan muda! Jangan keluar ke sana! Kembali kemari!" Fotografer terkejut melihat Aiko lari, ia pun meninggalkan ruangan itu dan mengejar Aiko yang tampak ingin memotret langit di luar sana yang terlihat indah.


"Woi, Rai, mana tuh orang?" tanya Keyra tak melihat mantan Dosennya.