
Bram sedikit mundur karena senjatanya ada di markas Aidan. Maka dari itu, Bram hanya bisa diam ketika Black menyeringai tipis dan menodongkan ujung senjatanya ke arah lehernya.
"Heh, sekarang kau pasti menyesal telah menyembuhkan lukaku, kan, Aidan?" Menggertak dengan sombong. Bram memutar bola mata malas. Sudah kenyang disuguhi sifat arogan adik iparnya itu.
"Yah, walau kau telah menyesal. Kau tenang saja, aku tak ada niat mau membunuh mu kok," ucap Black menurunkan senjatanya.
"Apa maksud mu?" tanya Bram, mengerutkan dahi melihat Black terbahak-bahak.
"Kau tahu, aku sangat prihatin dengan mu,"
"Kau sangat menyedihkan,"
"Lebih buruk dari lintah."
Bram semakin heran, mendengar hinaan Black yang menjengkelkan itu.
"Aidan," ucapnya duduk santai di kursi.
"Walau kau ini menyedihkan, tapi aku sedikit berterima kasih, berkat kebaikan dan bodoh mu itu, aku masih hidup."
"Mungkin dari ini, aku tak akan lagi mengganggu tujuan mulia mu, dan sepertinya tujuan ku akan berubah, yaitu merebut mesin waktu dan kembali ke masa depan,"
"Setelah itu, merebut hak asuh anak ku dari si mertua biadaab."
Black meminum jus buatannya, kemudian tersenyum smirk. Tidak seperti Bram yang masih kebingungan.
"Hak asuh? Anak mu? Mertua biadaab? Apa yang sedang kau bicarakan itu?" tanya Bram.
Bram terbelalak, melihat video singkat dari hasil cctv pengawasan di ruangan bayi itu yang diputar melalui laptop Bram.
"Itu artinya ...."
"Benar, anak ku masih hidup, tidak seperti putra sulung mu yang akan segera mati bersama Ibunya," kata Black dengan tampang mengejek.
Bram menguatkan tinjunya, kemudian maju mencengkeram kerah leher Black dan menghajarnya. "Sialan, jaga ucapan mu, Evan! Aiko dan Qila tetap akan hidup bersama ku di masa depan."
"Heh, santai dong, jangan langsung emosi, aku cuman mengatakan apa yang aku tahu di masa depan, harusnya kau jangan marah dong," kata Black menghempaskan tangan Bram. Kemudian berdiri.
"Sekarang, aku mau pergi bersenang-senang dulu, kau lanjut mengawasi saja anak dan istri kesayangan mu itu. Dan, meskipun ini sulit diterima, tapi sebaiknya kau persiapkan diri menerima takdir kematian mereka,"
"Toh, kematian mereka di masa depan memang murni kecelakaan, bukan ulah manusia, ataupun ulah ku. Ini adalah takdir dari TUHAN."
"Dan oh ya, kalau kau mau kembali ke masa depan, jangan sampai lupakan aku, Tuan muda yang malang." Black menepuk bahu Bram dan mengambil satu wajah palsu di atas meja. Memasang topeng itu dan terbahak-bahak, meskipun juga kadang terbatuk-batuk, tapi dia tetap berjalan keluar dengan santai.
"Hufff, kalau saja kau bisa dikubur di masa sekarang, aku juga ogah menyelamatkan nyawa mu. Tapi, setelah semua selesai dan kita kembali ke masa depan, aku akan langsung mengirim mu lagi ke penjara." Bram masuk ke dalam kamar dan membuka sebuah alat, menampilkan kordinat lokasi Black yang sedang menuju ke sebuah club malam.
"Dasar bodoh, dia belum sembuh total, tapi memaksakan diri datang ke sana. Kalau terjadi sesuatu pada mu di sana, aku tak mau lagi membantu mu." Bram menyimpan alat itu, kemudian membiarkan Black.
Black yang duduk sendirian, langsung ditawari anggur merah oleh seorang wanita penghibur, tetapi Black menolak dan menakutinya. Wanita itu pergi, takut melihat mata Black yang buta sebelah. Ia tertawa jahat, kemudian diam terkejut melihat Hana berada di club itu. Jelas sekali, karena perut wanita seksi itu tidaklah buncit.
"Kenapa dia ada di sini?" Black berdiri. Karena penasaran, ia diam-diam mengikuti Hana yang pergi dengan sekelompok preman bertubuh besar.