Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
42. PTWY 42 # Dadi Aiko Ada Dua!



"Ya udah deh, sebagai gantinya, aku cium ya,"


Chup!


Tapi Aidan masih menekuk wajahnya dengan jelek.


"Cuma sekali doang?" ucap Aidan kurang puas.


"Ya, emang, maunya berapa?" tanya Qila sedikit malu dan salah tingkah.


"Aku pikir dicium 10 kali," keluh Aidan cemberut. Qila tertawa geli, permintaan Aidan sungguh di luar galaksi.


"Sudah deh, jangan manja dulu, ntar ciumnya nanti malam saja, kalau di sini, ada anak-anak," tolak Qila malu memperlihatkan tingkahnya di depan Aiko dan Aila.


"Serius nih?" Lirik Aidan nakal dan mencolek ketiak Qila.


"Dihh, jangan colek sembarangan deh! Geli tau," cetus Qila mundur.


"Hm, oke, aku tunggu nanti malam. Awas, kalau pura-pura lupa, aku bakalan mogok makan setahun,"


"Lah, jangan! Kalau mogok makan, mati dong," kata Qila memukul pundak Aidan.


"Duh, cuma bercanda kok, jangan diseriusin, haha," tawa Aidan melihat ekspresi Qila yang jengkel.


"Gak lucu, sangat tak lucu!" seloroh Qila mendengkus.


"Iya, iya, maaf deh. Jangan marah atuh, ntar cantiknya pudar. Yah walaupun, di mataku, gak akan bisa pudar sih," goda Aidan tersenyum genit.


"Hm, seterah kamu!" Qila berdiri, berpaling muka. Terlihat imut sekali wanita hamil itu kalau sedang marah.


Aidan pun membangunkan Aila dan Aiko. Menyuruh dua anak kembarnya itu berdiri dan berjalan sendiri ke kamar mereka tetapi Aila menolak dan dengan polosnya, merengek ingin digendong. Masih takut akibat insiden di mall, hingga ia tak mau jauh-jauh dari Aidan.


"Aiko, sini, Momi, bantu." Qila menarik Aiko berdiri. Bocah itu mengucek matanya kemudian melihat Aidan.


"Hm, kenapa lihat Dadi? Mau minta pajak mingguan?" tanya Aidan. Aiko menggelengkan kepala, "Tanpa dikasih uang dali Dadi, Aiko sudah punya banyak di dalam lekening Atok," ucapnya menolak lalu melihat Qila.


"Hm, mimpi tentang apa?" tanya Aidan, Qila dan Aila kompak.


"Aiko punya dua Dadi,"


"Hah? Dua Dadi? Maksudnya? Di mimpi, Momi kalian nikah lagi sama orang lain?" tanya Aidan memegang dadanya karena syok.


"Bukan ntuh!" timpal Aiko kemudian menarik baju Aidan ke tas kemudian menunjuk perut Aidan yang baik-baik saja.


"Dadi yang satunya ada luka di pelut sini," tutur Aiko, bukan mimpi, tapi ingatannya saat pertama kali bertemu Bram.


"Kemalin juga Aiko lihat Dadi yang itu di mall," sambung Aiko membingungkan Qila dan Aidan.


"Aiko, sudah ya, berhenti bahas itu, yang kamu lihat kemarin di sana orang yang salah. Dadi jelas-jelas bersama kita. Yuk, sini kita ke kamar. Kalian sepertinya perlu istirahat dengan cukup." Qila menggandeng Aiko, berjalan di sebelah Aidan.


Melihat orang tuanya pergi dari kamarnya, Aiko cemberut, dan merasa sedih tak ada yang percaya dari kata-katanya. Mau cerita kepada Aila, adiknya itu juga sulit diajak bicara.


Kini, akibat ucapan Aiko, kepala Aidan penuh dengan tanda tanya dan sekarang ia sedang memandangi tiga cincin di dalam kotak yang masih ada.


"Sudahlah, aku tak perlu cemas. Mungkin yang dilihat Aiko, memang orang yang salah." Aidan sebenarnya ingin percaya, karena cincin itu bisa menjadi bukti, tetapi—


"Apa benar, aku bisa ke masa lalu?" Aidan merasa dilema dan gelisah. Antara mau percaya bahwa time traveller itu nyata, tapi juga takut pada resikonya.


"Hm, kalau memang aku bisa ke masa lalu, mungkin tujuan ku pertama adalah menemui diriku, dan sampai sekarang tak ada satupun orang yang datang kepadaku atas nama diriku. Jadi, siapa milik cincin ini?" Aidan menggaruk kepalanya, karena dilihat melalui teleskop, jenisnya sama persis cincin pernikahan miliknya.


"Cih, lupakan saja deh, kalau dipikir lagi, bikin kepalaku sakit." Aidan menyimpan kotak itu ke dalam laci, kemudian keluar mencari Qila yang barusan pergi saat Arum datang memanggil menantunya itu. Ingin memperlihatkan pakaian yang cocok untuk dikenakan besok. Sedangkan Bram, tanpa diberitahu oleh Aidan, ia sudah siap datang ke acara istrinya. Ia berdiri di depan cermin sambil memakai setelan warna hitam elegan dan dengan perasaan deg-degan. Besok adalah pertemuan Bram dengan keluarganya yang mendebarkan. 'Ku harap, besok Mama dan Papa tak mengenaliku.'


.


Author senyum Pepsodent aja deh hihi...


Like ya❤️biar author semangat nulisnya😇


-terima kasih-