Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
66. PTWY 66 # Tertabrak Mobil



Tiba di alamat rumah sakit, tempat Qila dan Aiko pernah dirawat, Rayden meminta kepada kepala rumah sakit langsung untuk mengecek dua nama anggota keluarganya yang berada di dalam daftar pasien kecelakaan pada lima tahun lalu.


Kalau saja mereka tak mengenal Rayden, tentu informasi itu tak akan diberikan oleh mereka. Namun, karena reputasi Rayden yang dikenal oleh banyak orang, dan memiliki koneksi besar, mereka segera melakukan pengecekan malam ini juga.


Aidan yang berdiri di samping Rayden, ia tak bisa diam menunggu saja. Ayah si twins itu membantu para Dokter. Melihat kegigihan putranya, Rayden tersenyum kecil, dan berubah cemberut karena Aidan melakukan time traveler tanpa sepengetahuannya. Dalam benaknya, jika Aidan kembali ke masa lalu, lantas kenapa putranya itu tak menemuinya langsung?


Tiga jam berlalu, pukul 02.21 dini hari. Semua pencarian telah berlangsung lama dan tetap tak menemukan apapun. Mereka merasa berkas lima tahun lalu telah dipindahkan atau disisihkan ke tempat lain, namun Aidan terus mengais dokumen di dalam kardus. Tak peduli pada kantuk dan keringatnya yang menyerang, ia akan tetap mengobrak-abrik 10 kardus di depannya.


"Aidan, cukup." Rayden maju ingin menghentikannya, namun putranya itu berteriak dan menolak.


"Jangan halangi aku!" bentaknya menunduk di sana dan meramas dokumen pesien lain.


"Sudah Aidan, mungkin memang Qila dan Aiko tak pernah ada di sini," ucap Rayden.


"Akhhh, sudah berapa kali aku bilang, aku serius melihat dengan mata kepala ku sendiri, Papa. Dengan kedua tangan ini aku sendiri yang membawa mereka!" balas Aidan marah dan menitikkan air matanya. Bawahan kepala rumah sakit yang melihat perdebatan anak dan ayah itu, mereka saling bertatapan kebingungan.


"Aku serius!" kata Aidan lagi mengusap matanya dengan kerah lengannya.


"Sekarang, kalau Papa mau pulang, okeh, Papa pulang saja," suruh Aidan berbalik acuh. Rayden maju lagi, ingin menarik putranya berdiri dari sana. "Jangan, hentikan aku!" pekik Aidan melirik benci. Namun Rayden terus maju dengan ekspresi datar dan sulit diartikan.


Aidan semakin menangis dalam hatinya, karena jika ia tak menemukan Qila dan Aiko malam ini, maka Hana tak bisa ditangkap karena belum ada buktinya.


"Papa, pergi," lirih Aidan, akan tetapi Rayden berhenti dan memungut sesuatu di dekat kaki Aidan.


Dahinya mengerut dan kemudian membola sempurna.


"Ada apa, Tuan Rayden? Apa yang anda lihat?" tanya mereka penasaran. Rayden membalikkan berkas di tangannya ke depan mata putranya. Aidan spontan berdiri dan merebutnya setelah dua nama yang ia cari telah ditemukan oleh Rayden.


Tangis Aidan pecah seketika dan air matanya bercucuran deras. Aidan merasa selama ini usahanya tak sia-sia. "Qila, Aiko...." Semua yang melihatnya merasa lega dan terharu karena status dalam dua berkas itu mengatakan mereka berdua berada di rumah sakit yang berada di Singapura dan dari pencarian sekretaris Rayden selama tiga jam, mereka tinggal di sebuah keluarga yang mengadopsi mereka berdua.


"Akhirnya, kita bisa bersama lagi, sayang." Saking senangnya, Aidan membawa dua berkas itu pulang dan akan berencana menjemput mereka pagi ini.


"Rayden, Aidan, darimana saja kalian berdua?" tanya Arum dan melihat jam sudah pukul lima subuh.


"Mama..." Aidan memeluk Ibunya, sangat rindu dan bahagia.


"Ada apa ini, kenapa kau menangis?" tanya Arum bingung.


Rayden mendekatinya dan memegang tangan istrinya. Tersenyum lembut dan mencium kepalanya, berbisik bahwa menantu dan cucunya selama ini masih hidup.


"Sungguh?"


Deg"


Mereka bertiga menoleh ke sumber suara. Terlihat di anak tangga sana ada Aila, gadis cantik itu terkejut mendengar ucapan kakeknya. "Grandpa, tidak bohong, kan?" Lari bertanya kepada Rayden dan Aidan. "Dadi, ini sungguh? Momi dan Kak Aiko masih hidup?"


"Jawab, Dadi." Desak Aila sudah hampir meneteskan air mata. Aidan memeluk putrinya, merindukan gadis kecilnya yang terus memaksanya untuk jangan menikah dengan Hana dan ia sudah tahu alasannya karena Hana adalah wanita yang mencelakai saudara kembarnya sendiri.


"Huwa.... Aila mau ikut, Dadi." Aila memohon, ikut ke Singapura. Aidan mengangguk dan menghapus embun di pipi putrinya. "Ya, kita sama-sama jemput Ibu dan Kakak kalian." Ciumnya ke kepala Aila. "Oma, Momi masih hidup." Ia pindah memeluk Arum yang merasa senang. Mereka pun segera mengatur jadwal penerbangan.


"Oh ya, di mana Keyra?" tanya Rayden.


"Tenang saja, dia bersama Raiqa." Jawab Arum kemudian mengernyitkan dahi. "Kenapa, Ray?" tanya Arum melihat suaminya sedang ingin mengatakan sesuatu namun ragu.


"Pah, aku mau tanya sesuatu, apa benar, anak Keyra masih hidup?" tanya Aidan langsung, membuat Arum terkejut dan melihat Rayden mengangguk pelan.


"Benar, anak itu masih hidup. Aku pindahkan dari rahim Keyra agar Evan tak ada alasan untuk kembali padanya dan Keyra melepaskan laki-laki itu," jelas Rayden.


"Sayang, ini demi kebaikannya," ucap Rayden.


"Dan lagipula, bulan ini aku telah yakin untuk mempertemukannya dengan Vincent." Lanjutnya tersenyum.


"Itu artinya, Rafka sama Vincent seumuran?" tanya Aila.


"Benar, mereka berdua terlahir di hari yang sama," jawab Rayden. Arum menarik jas suaminya kemudian meminta untuk segera mempertemukan mereka. Ketika Rayden ingin mengangguk, tiba-tiba ada panggilan dari sekretarisnya.


"Ada apa?" tanyanya dingin.


"Tuan Rayden, celaka! Saya mendapat kabar dari lab bahwa Nona Keyra datang membawa kabur Vincent."


"Apa? Keyra ada di sana? Bagaimana bisa?" Kaget Rayden.


"Evan! Dia, ini pasti ulahnya!" sahut Aidan.


"Evan? Dia? Bagaimana bisa dia tahu?" Rayden tambah kaget lagi. "Papa, sebenarnya, aku tak hanya sendiri melakukan time travel, ada Evan yang melompati waktu bersama ku," ucap Aidan sedikit terus terang.


"Dan, Black yang kau incar itu adalah dia juga!"


"APA?!" Emosi Rayden mendidih mengetahuinya.


"Papa, tidak usah ke sana! Aku yakin, Evan sedang membawa Keyra dan Vincent bersamanya. Ia tak akan mencelakai mereka karena tujuan Evan hanya satu, ialah merebut hak asuh Vincent dari kita, jadi lebih baik, untuk sekarang kita jemput Aiko dan Istriku, Pa." Aidan menahan Rayden. Tak mau membuang waktu untuk meladeni Evan.


"Baiklah. Setelah kita dari sana, Papa akan langsung menyelesaikan ini kepada pihak keluarga menantu sialan itu." Rayden mengepal tangan, tambah benci pada Evan.


Aidan pun masuk ke dalam kamar putra kecilnya. Melihat Rafka tidur di sana, hati kecilnya menangis, bahagia. Begitupun Keyra, yang berdiri di depan Vincent, anak laki-laki lima tahun dengan mata biru dan bibir tipis sepertinya serta wajah tampan seperti Evan. Perpaduan mereka yang sempurna.


"Hm, kenapa kalian membawa Vin ke sini?" tanya Vincent sedikit takut karena belum pernah melihat mereka berdua sebelumnya. Apalagi Evan di samping Keyra, terlihat mirip dengannya. Keyra jatuh berlutut di depannya, memegang wajah Vincent yang nyata. Ia memeluk anak laki-laki itu dan menangis di pundaknya.


"Apa Tante adalah Ibu Vincent?" tanya Vincent dengan polos. "Hiks, benar, ini Mami, sayang." Angguk Keyra mengecup keningnya dengan lembut. Vincent tersenyum dan memeluk Keyra. "Mami, Vincent rindu." Melihat Vincent menangis di sana, membuat Evan diam tak berkata-kata. Ia pun tersenyum karena Vincent lahir dari rahim wanita yang menyayanginya. "Dia beruntung daripada ayahnya." Itulah yang terbesit di dalam hati Evan.


"Mami, terus itu siapa?" Tunjuk Vincent kepada Evan yang membelakangi mereka dan tampak ingin pergi.


"Aku hanya orang asing, gak penting ditanya," ucap Evan acuh. Keyra berdiri, mengeratkan tinjunya. "Evan, apa lagi yang akan kau lakukan? Kau ingin aku dan Vincent terlentar di jalan ini?" kesal Keyra. Evan berhenti dan tersenyum kecut. Berbalik badan dengan raut wajah menyebalkan.


"Kau punya ayah, kan? Ya sudah, tinggal hubungi dia." Kata Evan menunjukkan hape di tangan istrinya.


"Evan!! Kau ini memang menjengkelkan." Keyra berteriak dan mengumpat. Sedangkan Vincent berjalan ke depan dan menarik jari tangan ayahnya. Mendongak dengan polos.


"Ayo, pulang, Papi." Namun, yang jawaban Evan hanya tepisan. "Pergilah, aku bukan ayah mu." Mendengar itu, hati kecil Keyra menjerit. Jelas-jelas hanya laki-laki itu yang pernah tidur bersamanya dan sekarang malah menganggap dirinya bukan ayah Vincent.


Tiba-tiba seseorang datang berteriak, "EVAN!" ujarnya adalah Raiqa yang berhasil melacak keberadaan Keyra melalui alat lacak di hapenya.


"Lihat, pria itu ayah kau di masa depan." Evan menunjuk Raiqa. Membuat amarah Keyra meluap-luap sekarang. Saat ingin menghampiri mereka, tiba-tiba ada mobil mencurigakan datang dari arah belakang Keyra.


"KEYRA, AWAS!!" pekik Raiqa, namun seketika suara tabrakan tak dapat terhindarkan di depan mereka. Vincent diam membisu melihat mobil itu menabrak kedua orang tuanya dan mobil truk juga berhasil kabur, namun Raiqa segera memanggil ambulance dan bantuan untuk mengejar mobil tersebut.


Baru juga bertemu, malam ini manjadi malam terburuk bagi anak laki-laki itu. "Papi, Mami... Bangun." Vincent menangis melihat orang tuanya tak bergerak di sana.


.


Baby Vincent🥺❤️