Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
18. PTWY 18 # Mengandung Anak



Arum yang sedang bersantai di tepi kolam renang bersama si kembar dan Rayden, mereka terkejut saat mengetahui bahwa menantunya, Qila, sedang hamil lagi. Tanpa bisa menahan gembira, Arum langsung mengeluarkan suara kejutan, "Ehh, serius, menantu Mama hamil lagi?"


"Iya, Ma," ucap Aidan, singkat, padat, dan mantap.


"Sudah berapa minggu?" tanya Arum, sementara Rayden keluar dari kolam bersama cucu twinsnya dan menuju ke arah mereka.


"Kami belum tahu pastinya sih, Ma. Tanda-tandanya masih mual-mual saja dan kita belum melakukan testpack," jawab Aidan.


"Kalau begitu, hari ini juga kita periksa Qila ke rumah sakit supaya bisa tahu lebih jelas berapa usia calon cucu ketiga Mama." Arum, dengan perasaan campur aduk antara senang dan penasaran, mendekati Rayden dan mendesak suaminya untuk segera bersiap-siap.


"Momi, ntuh tadi Omah kenapa?" tanya Aila dan Aiko yang mengenakan pakaian renang. Aidan pun menjawab, "Tahun depan Aiko dan Aila punya adik baru, yeayyy!"


"Haa? Kenapa adik balunya datang tayung depang? Kenapa ndak kilim sekalang aja?" tanya Aila dan Aiko mengejutkan Aidan setelah mendengar dua anaknya itu menganggap adik mereka seperti pesanan COD.


"Dadi, ayoh na jawab dulu!" Aiko si polos yang selalu ingin tahu, merengek pada ayahnya.


"Haha, kalian berdua lucu sekali. Adik bayi masih dalam tahap proses jadi belum bisa muncul sekarang." Qila tertawa geli melihat kepolosan dan kelucuan mereka.


"Nah, yuk, kalian ganti baju dulu terus ikut ke rumah sakit. Kalian juga harus disuntik vitamin di sana."


Tiba-tiba, Aiko dan Aila mundur ketakutan setelah ayah mereka mengatakan itu. "Akhhh, ndak mawu, ndak mawu na syuntik." Mereka kabur ke kamar kakek-neneknya. "Mengapa mereka takut disuntik? Dari mana asal fobia mereka?" Qila bertanya-tanya karena dia tidak takut dengan jarum. Ia pun melihat ke arah Aidan yang tampak gelisah di sampingnya.


"Apa yang salah denganmu?" Qila bertanya.


"Tidak apa-apa, ayo pergi ke mobil, tunggu mereka di sana." Aidan malu untuk menceritakan tentang fobia jarum masa kecilnya, tetapi untuk mencapai mimpinya, dia sudah berhasil melawan rasa takutnya.


"Hm, baiklah kalau begitu." Qila dan Aidan menuju pintu, saat hendak melewati taplak kaki, tiba-tiba mereka dihentikan oleh Keyra.


Orang tua si kembar sedikit kaget karena sejak Evan diusir, wanita cantik itu tidak pernah berbicara dengannya lagi, apalagi sikap Keyra terhadap Qila berubah, dari perhatian menjadi dingin.


"Hm, ada apa?" tanya Aidan.


"Aku... aku ingin minta maaf, aku salah, seharusnya aku tidak membenci kalian. Evan adalah orang jahat dan pembohong. Aku sadar sekarang dia hanya memanfaatkan ku. Maafkan aku," jawab Keyra dengan nada suara gemetar. Untuk mendapatkan perhatian Aidan, Keyra harus mendekatinya terlebih dahulu.


Aidan mendekati dan memeluknya, memberi Qila sedikit ruang untuknya menangis. Qila yang berada di belakang mereka tersenyum sedikit lega melihat Keyra berbaikan dengan Aidan dan juga meminta maaf padanya.


"Sekarang aku harap kamu berhenti memikirkan Evan. Masih banyak pria di luar sana yang lebih baik dari dia. Contohnya..." Aidan hendak merekomendasikan Raiqa, tapi Keyra cepat menggelengkan kepalanya dan menolak.


"Tidak, aku tidak ingin menikah lagi." Bagi Keyra, bayi dalam perutnya sudah cukup untuk menyembuhkan lubang besar di hatinya, dan kini ia hanya perlu mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan Aidan agar ia bisa menerima anak Evan.


"Oh ya, kalian mau kemana?" tanya Keyra, sudah tenang. Aidan menjawab bahwa mereka akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan Qila.


"Wow, selamat, Qi!" Keyra yang cukup terkejut, menjabat tangan Qila dan tersenyum. Qila mengangguk dan membalas senyuman di bibirnya. Mereka pergi ke rumah sakit, kecuali Keyra dan Bik Ida yang tinggal di rumah.


"Huh, apa yang harus aku lakukan sekarang? Jika aku terus bersembunyi seperti ini, pada akhirnya akan terungkap dengan sendirinya." Keluh Keyra merasa gelisah karena cepat atau lambat perutnya akan membesar dan terlihat oleh Rayden dan saudara kembarnya.


Sibuk memikirkan kehamilannya, Keyra tidak menyadari bahwa Bik Ida ada di dekat pintu dan terkejut melihat putri majikannya minum air secara teratur. Saat mendekatinya, Keyra tiba-tiba berjalan ke toilet dan segera masuk ke dalam. Bik Ida diam-diam mendekat dan terkejut mendengar suara mual-mual di dalam.


"Ya Tuhan, mungkinkah Nona Keyra hamil?" Bik Ida merasa baru pertama kali mendengar kondisi Keyra seperti gejala awal ibu yang sedang mengandung anak.


.