Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
15. PTWY 15 # Kalian Harus Cerai!



“Pisah rumah? Kalian baru-baru ini menikah loh, masih belum saatnya keluar dari rumah ini,” tolak Arum karena tidak mau juga pisah dari putrinya secepat itu.


“Kalau begitu, bagaimana sekarang, Ma?” tanya Keyra.


“Sebaiknya ditunda dulu keinginan kalian ini, biarkan Papa lihat kawasan mana yang aman untuk kalian tempati,” ucap Rayden melihat isi pencarian area perumahan sehingga tidak menyadari tatapan Evan yang aneh pada menantunya.


“Baiklah, Keyra ikut Papa saja.” Keyra mengangguk lalu berdiri dan menarik Evan. “Keyra ke atas duluan, Ma, mau urus Evan dulu.” Pamit Keyra membawa suaminya untuk menyiapkan keperluan mandinya. Arum dan Rayden pun juga berdiri, meninggalkan Aidan yang masih kebingungan melihat istrinya diam dari tadi.


“Qila, hei, kau kenapa?” tanya Aidan.


“Tidak apa-apa, kok. Yuk, ki—kita ke kamar dulu.”


Setelah masuk ke dalam kamar, Qila duduk di dekat anak-anaknya.


“Qi, kau kenapa dari tadi begitu terus? Apa yang membuat mu ketakutan?” tanya Aidan, masih melihat istrinya resah.


“Hei, jawablah, jangan buat aku khawatir!” Lalu memegang dua lengan Qila yang tiba-tiba menangis.


“Loh, kau kenapa? Kenapa, Qila? Hei, jawablah! Lihat aku, katakan apa yang terjadi pada mu?” tanya Aidan yang dibuat panik melihat air mata istrinya mengalir turun.


“Hik, Aidan,” isak Qila sulit mengatakannya.


“Apa karena penolakan Mama dan Papa yang membuat mu sedih?” tanya Aidan. Qila berdiri dan memeluknya, kemudian sesenggukan di pelukan Aidan.


“Hik, sebenarnya a—alasan aku ingin pisah rumah karena—”


“Karena apa, hm?”


“E—evan,” lirih Qila, sudah tidak sanggup menahan rasa takutnya.


“Apa, Evan?” Aidan lalu menarik dagu istrinya agar dapat melihat kejelasan di dalam mata coklatnya.


“Hei, katakan sesungguhnya kenapa dengan Evan? Apa yang sudah dia perbuat hingga kau ketakutan begini? Kenapa dengan dia, Qila?!” tanya Aidan dengan nada tegas.


“Apa dia berani mengganggumu atau menggoda mu? Atau dia melakukan sesuatu yang jahat?” Aidan terus bertanya dan memaksa Qila jujur. Perasaannya tidak tenang melihat istrinya terisak ketakutan. Qila menunduk dan menjelaskan sedikit demi sedikit tingkah Evan yang keterlaluan padanya.


“AIDAN, KAU MAU KEMANA?!” Qila menahan ujung baju


Aidan yang mau keluar dari kamar. Tampak sekarang Aidan begitu emosional setelah tahu alasan yang sebenarnya. Ini yang dari awal mengapa Aidan ragu dengan pernikahan saudara kembarnya itu, karena Evan pasti punya niat lain.


Karena disulut amarah yang besar, Aidan menepis tangan Qila dan keluar mencari Evan. Qila ingin mengejar, tetapi Aiko tiba-tiba terbangun dan harus menidurkannya dulu sebelum anak kecil itu mendengar pertengkaran yang hebat.


“Hei, Aidan, kau kenapa, Nak?” tanya Arum, mau melihat cucunya, tapi terkejut melihat kedua tangan Aidan yang terkepal dan siap menghajar Evan.


“Jangan hentikan aku, Ma.” Aidan melewati Ibunya, menuju ke kamar Keyra dengan perasaan tidak karuan. Arum bergegas pergi ke kamar, memanggil suaminya karena kalau Aidan sudah marah, hanya Rayden yang bisa mengatasinya.


“EVAN, KELUAR LO, BERENGSEK!”


“Keluar lo sekarang!”


“Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja, sekarang Aiko pejamkan mata terus bobo lagi, yah.” Qila menepuk-nepuk pundak Aiko dan melihat Aila menggeliat di sebelahnya, tampak juga terganggu dengan suara itu. Qila pun tidur di tengah dan memeluk dua anaknya di setiap sisi.


“Aidan, berhenti! Kenapa kau marah seperti ini??” tanya Keyra di belakangnya.


“Mana, Evan? Di mana pria berengsek, itu?” Aidan memegang dua bahu Keyra.


“Apa, sih? Kenapa kau mengatai suamiku berengsek? Memang salah dia apa?”


“Ahkkk, jawab saja! Di mana suami kau itu, Key!” ujar Aidan memaksa.


*Plak!


Keyra menampar tangan Aidan. “Hei, Aidan! Evan itu tidak punya salah apa-apa, tapi kau malah mengatainya, apa sih yang sebenarnya terjadi?! Jawab aku dan tolong jelaskan!”


“Arghh, pokoknya, lebih baik kau dan Evan harus cerai! Dia orangnya sudah tidak beres dan tidak pantas berada di rumah ini.” Aidan membalas dengan membentak, membuat Keyra syok dan terguncang.


“What? Cerai? Kau nyuruh aku cerai semudah itu?” Keyra menunjuk dirinya sendiri.


Aidan ingin menjelaskan alasannya, tetapi tiba-tiba suara motor Evan terdengar menyala di luar rumah.


“Cih, aku tidak akan biarkan kau kabur, Evan!” Aidan cepat lari menuruni anak tangga.


“HEI, AIDAN!” pekik Keyra, segera masuk ke kamar untuk membersihkan wajah dari maskernya dulu.


“WOI, EVAN!! SINI LO, JING—AN!” teriak Aidan lantang kemudian menendang motor Evan, membuat iparnya itu jatuh bersama motornya ke tanah.


“Hei, Aidan! Apa-apaan sih loh?”


Bukannya dijawab, Aidan maju dan menarik kerah Evan, kemudian ...


DUAKKKK!!!


Satu pukulan menghantam tepat ke hidung Evan sampai mimisan.


“Akhh, Aidan! Berhenti!” pekik Keyra, syok melihat Aidan dan Evan berkelahi di area parkiran. Memukul, menendang dan melempar apa saja sampai semua mobil mahal Rayden rusak pecah dan bunyi klakson di mana-mana.


Sang pemilik mobil yang lagi mandi, terkejut mendengar keributan di luar rumah dan akhirnya —


“Rayden! Sayang! Cepat mandinya! Anak-anak kita berkelahi di luar sana! Cepat atasi mereka sebelum mempengaruhi cucu kita.” Arum mengetuk pintu kamar mandi terus-menerus. Rayden terpaksa tidak memakai shampo, ia cepat-cepat keluar tanpa busana.


“Akhhh, kau ini kenapa malah telan—jang!” pekik Arum menutup mata akibat pisang raja suaminya yang kelihatan. Rayden tertawa kecil, tapi saat ini bukan waktunya menggoda istrinya karena di luar sana ada yang perlu dibereskan dulu.


“Sini, kita ke sana sekarang dan lihat apa yang sebenarnya terjadi.” Rayden yang sudah lengkap, mengambil pistol untuk berjaga-jaga lalu menyuruh Arum ikut melihat ke parkiran sebelum rumahnya dibuat kacau balau.


“AIDAN, STOP!!”


“HENTIKAN, KAU BISA MEMBUNUH EVA