
"Siapa yang kalian cari?" tanya wanita itu yang datang bersama Bram. Kemudian wanita tersebut langsung menundukkan kepala, tanda hormat kepada Rayden dan Wira. "Pak Bos, terima kasih sudah mengundang saya hadir ke acara putri anda, semoga Nona Qila dan bayinya sehat dan terus berbahagia," katanya kepada Wira, atasannya di perusahaan. Ia bekerja sebagai manager di salah satu cabang perusahaan Wira.
"Oh, terima kasih ucapannya," balas Wira, kemudian melihat Raiqa dan Keyra.
"Ngomong-ngomong, apa yang kalian tanyakan kepada dia?" tanya Wira.
"Apa mungkin kalian juga memperhatikan seseorang yang mencurigakan di sini?" tanya Rayden.
"Ah itu, kami berdua sedang mencari pria yang bersamanya, Pa," jawab Raiqa tak sengaja kompak dengan Keyra. Membuat Raiqa salah tingkah. Apa ini kebetulan atau memang jodoh?
"Pria? Siapa?" tanya Wira dan Rayden.
"Oh pria itu? Dia adalah kekasih saya, Pak," jawab wanita tersebut mengagetkan Keyra dan Raiqa.
"Saya dengar, dia adalah Dosen Nona Keyra dan Tuan muda Raiqa di kampus," sambung wanita tersebut tersenyum pada Raiqa dan Keyra. Kecuali pada Rayden, karena agak takut pada tatapan tajamnya.
"Dan sepertinya, barusan dia keluar sebentar, maklum dia tidak begitu mudah bergaul. Orangnya pemalu dan juga agak pendiam. Saya ke sana dulu, permisi, Pak." Wanita itu pergi untuk mencicipi hidangan yang disediakan Bik Ida dan sebenarnya agak kesal pada kekasih sewaannya itu. Meski tidak diundang oleh Raiqa dan Aidan, Bram punya cara lain untuk menghadiri acara istrinya.
"Kenapa kalian mencari pria itu?" tanya Wira dan Rayden kepada anak-anak mereka.
"Itu, Pa, Pak Brian itu-" putus Keyra ditarik oleh Raiqa dan membelakangi ayah mereka.
"Oi, jangan bocorkan kerjasama kita! Ini harus dirahasiakan!" Bisik Raiqa. "Lah, aku tak setuju!" balas Keyra.
"Aduh, Keyra! Tolong, please, kali ini saja dengarkan permintaan ku," mohon Raiqa.
"Okeh, tapi syaratnya, kalian harus izinkan aku melihat mesin waktu itu juga."
"Okeh, tenang saja! Kau boleh bergabung!" kata Raiqa terpaksa. Keyra dengan senyum yang lebar, langsung menggoyangkan tangan Raiqa, membuat laki-laki itu tersipu melihat Keyra bahagia.
"Ekhem! Keyra, apa yang mau kau katakan tadi?!" Deham Wira dan Rayden tak suka diabaikan.
"Eh, Papa. Itu, Pak Brian-"
"Pak Brian suaranya mirip dengan Bram," kata Raiqa terus terang dan sudah bingung mencari alasan yang masuk akal.
"Bram? Dokternya Qila dulu?" sahut Arum dan Kinan datang dan berdiri di sebelah suami mereka.
"Ya, Ma. Awalnya aku pikir dia itu si Dokter, tapi rupanya orang yang beda," ucap Raiqa gugup. 'Ya Tuhan, apa ini alasan yang sudah tepat?' batin Raiqa takut salah bicara.
"Berarti, suara yang kita dengar itu adalah Dosen kalian?" tanya Wira dan Rayden mulai curiga.
"Ya, sepertinya begitu. Tapi Papa nggak usah dipikirkan, orangnya beda kok dari Dokter yang sudah meninggal itu."
"Ya udah deh, Raiqa benar, kita tak usah memikirkannya lagi, yuk kita ke Qila dan Aidan, Ma, Pa!" Keyra merangkul tangan Ibu dan ayahnya. Tak lupa, Raiqa juga sama. Namun, tetap saja, Wira dan Rayden mulai diam-diam menelpon anak buahnya untuk mengintrogasi wanita yang bersama Bram, beserta mantan Dosen putri mereka.
Sampai di tempat Aidan dan Qila, mereka langsung terkejut.
"Aidan, Qila, siapa yang kalian cari?" tanya mereka.
"Ma, Pa! Aiko lagi-lagi hilang!" kata Aidan dan Qila panik.
"Maaf, nyonya, saya juga sudah bantu mencari, tapi tidak menemukan keberadaan Tuan muda kecil." Fotografer membungkuk setengah badan dan ketakutan.
Gara-gara Aiko, Wira dan Rayden menggerakkan seluruh anak buahnya yang berjaga di gerbang, masuk mencari Aiko di seluruh dan sekitar rumah.
"Qila, kau tenanglah, Aiko mungkin sedang main di suatu tempat. Sebaiknya kau kembali ke kamar bersama Aila, dan tunggu kabar dari kita," ucap Keyra menenangkan Qila.
"Oii, Aidan! Antar istrimu dulu!" pinta Raiqa.
"Tanpa kau suruh, aku juga akan melakukannya," kata Aidan mengangguk paham dan membawa istri dan putrinya ke kamar. Sedangkan yang lain mencari kembali Aiko.
"Pa, Hana dari tadi tidak kelihatan, Papa lihat nggak?" tanya Kinan juga mengkhawatirkan Hana.
"Tidak, tapi sebaiknya kau telepon dia dan suruh ikut mencari Aiko," kata Wira.
"Baik, Pa." Kinan mengerti dan mengirim pesan ke kontak Hana. Putrinya itu yang sekarang sedang membuntuti langkah Aiko yang berjalan ke suatu tempat yang lumayan jauh dari rumah. Ia pun bersembunyi di belakang pohon besar, saat Aiko berdiri di samping seseorang yang secara kebetulan diikuti oleh anak kecil itu juga. Dan sontak, Hana menutup mulut setelah mendengar suara Bram.
"Pak Brian? Kenapa dia ada di sini bersama Aiko?" Lirih Hana bergumam kecil, ia ingin diam-diam merekam pembicaraan mereka, tetapi Hana lupa mengambil handphonenya. Ia pun hanya bisa menguping, karena terlalu bahaya untuk mengintip.
Padahal, seandainya saja Hana memberanikan dirinya menghampiri Aiko dan Bram, dia bisa melihat wajah asli dibalik wajah palsu mantan Dosennya itu. Seketika, Hana kembali terlonjat kaget mendengar Aiko bicara lagi.
"Dadi? Om juga Dadi Aiko?" tanya Aiko dengan polos.
"Ya, Aiko. Ini Dadi, yang membuat kalian berdua." Bram berlutut dan memeluk Aiko dengan hangat. "Aiko, Dadi sangat sayang dan rindu padamu, Nak."
'Apa ini? Pak Brian mengaku adalah ayah Aiko? Berarti, Qila hamil dengan pria lain? Ta-tapi dari hasil tes DNA yang dulu, Aidan adalah ayah biologisnya! Lalu, apa maksud dari perkataan Pak Brian itu?' Hana berpikir keras, karena gagal memahami situasinya.
Ia pun akhirnya mengintip namun, Bram dan Aiko sudah tidak ada di sana. "Loh, kemana mereka?"
Tentu saja, dari suara Hana yang tidak sengaja menyenggol dedaunan di dekatnya, membuat Bram tersadar ada seseorang yang telah memperhatikannya. Hana pun keluar dari tempat persembunyiannya dan berdiri di bekas Bram berdiri. Saat itulah, Bram yang bersembunyi di balik bebatuan telah sadar sepenuhnya bahwa Hana telah mendengar sesuatu yang tidak seharusnya dia dengar.
"Dadi, kenapa kita belsembunyi?" tanya Aiko mendongak pada Bram yang tengah memperhatikan kemana Hana pergi. Dengan modal cahaya dari rembulan, Hana masih mencari-cari keberadaan Bram dan Aiko, hingga pada akhirnya, Wira, Raiqa, Kinan, Arum dan Rayden menemukannya.