Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
70. PTWY 70 # Sangat Menyakitkan



Qila duduk di samping Aidan, dan mereka saling memandang dengan kecanggungan yang terasa begitu kuat. Namun, dalam tatapan mereka, ada kehangatan dan keinginan yang saling terasa. Mereka ingin mengenal satu sama lain lagi, membangun kembali ikatan yang telah terputus akibat Qila kehilangan ingatannya.


"Aku ingin tahu lebih banyak tentang hubungan kita sebelum kehilangan ingatan," ucap Qila dengan suara lembut. "Bagaimana perasaanmu terhadapku? Bagaimana kisah cinta kita terjalin?"


Aidan menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengungkapkan perasaannya yang begitu rumit dalam kata-kata. "Qila, cintaku padamu tidak pernah berubah, meskipun kau kehilangan ingatanmu. Aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama waktu kecil dan jatuh cinta pada sosokmu yang penuh kekuatan dan kebaikan. Kita telah melewati banyak hal bersama sebelum kehilangan ingatan, dan meski terjadi perubahan besar dalam kehidupan kita, cintaku untukmu tetap abadi."


Qila merasakan hatinya tersentuh oleh kata-kata Aidan. Dia merasa lebih dekat dengan Aidan sekarang, meskipun ingatannya belum sepenuhnya pulih. Dia merasa bahwa mereka berdua memiliki ikatan yang kuat, dan dia ingin mengeksplorasi lebih lanjut tentang hubungan mereka.


"Apa kita bisa memulai kembali?" tanya Qila dengan harap dalam suaranya. "Dapatkah kita mencoba membangun kembali apa yang telah kita miliki sebelumnya, meskipun aku masih belum mengingat semuanya?"


Aidan menggenggam tangan Qila dengan lembut. "Tentu, Qila. Aku bersedia melangkah bersamamu, mendukungmu dalam proses pemulihan ingatanmu, dan mencoba membangun kembali apa yang kita miliki. Kita bisa mengenal satu sama lain lagi, membuat kenangan baru, dan menjalin hubungan yang lebih kuat dari sebelumnya."


Qila tersenyum, merasa lega dan bahagia mendengar kata-kata itu. Dia merasakan kehangatan dalam genggaman tangan Aidan dan merasa yakin bahwa mereka akan melewati semua rintangan bersama.


Malam itu, mereka berdua saling berbagi cerita tentang masa lalu mereka, mengingat momen-momen bahagia dan kenangan indah yang telah mereka bagi bersama. Mereka tertawa dan terkadang mengalami sedikit kekakuan, tetapi semakin lama, kecanggungan itu mulai memudar.


Ketika malam semakin larut, mereka memutuskan untuk tidur. Aidan berbaring di samping Qila, memeluknya dengan lembut. Qila merasa aman dan nyaman dalam pelukan itu. Meskipun masih banyak yang harus diperjuangkan dan dilewati, dia yakin bahwa bersama Aidan, mereka akan mengatasi segala hal.


Mereka saling bertatap mata sejenak sebelum mata mereka tertutup oleh kantuk dan Qila merasakan detak jantungnya semakin cepat saat Aidan menggenggam tangannya dengan lembut. Namun, ada perasaan yang tak bisa mereka tolak. Perasaan yang telah terpendam selama ini.


"Aku mencintaimu, Qila," ucap Aidan dengan suara lembut. Qila terkejut dan tidak menyangka mendengar kalimat itu malam ini.


"Aku juga mencintaimu," balas Qila dengan suara gemetar. Perasaannya sangat campur aduk sekarang. Ia bahagia karena ia pikir sudah tak ada pria yang mencintainya, tapi ternyata lima tahun ini ada satu pria yang sangat tulus mencintainya, namun di sisi lain ia juga merasa sedih karena ingatannya yang hilang.


Mereka berdua saling memeluk erat, menikmati kehangatan tubuh satu sama lain. Dan tanpa mereka sadari, malam ini menjadi malam yang indah untuk mereka berdua.


Dua jam kemudian, mereka tiba dengan selamat. Angin di siang ini terasa sejuk dan cuaca yang lumayan cerah. "Ayo, Momi. Kita pulang ke rumah." Aila merangkul lengan Ibunya dan berjalan di sampingnya. Mereka mngikuti langkah Rayden untuk menuju ke tempat mobil mereka terparkir. Di belakang, terlihat Aidan dan Aiko yang menenteng tas Qila. Tampak jarak diantara mereka berdua sedikit jauh, namun perlahan Aiko mendekat dan tiba-tiba bicara.


"Maaf," ucapnya sedikit gugup. Aidan menoleh dan melihat putra sulungnya menunduk di sampingnya.


"Hm, kau bilang apa ke Dadi barusan?" tanya Aidan sedikit tidak jelas mendengarnya. Aiko semakin menunduk dan menarik nafas dalam-dalam kemudian menatap Aidan.


"Dadi, maafkan Aiko." Menundukkan matanya ke bawah karena sedikit malu, namun ia tetap meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Aila menengok ke belakang melihat saudara kembarnya di sana sedang mengutarakan permintaan maafnya.


Aidan diam sejenak, kemudian tersenyum senang. Ia mengangkat tangannya dan meletakkan ke atas kepala putranya. Bocah itu mendongak dan merasakan rambutnya yang dielus lembut oleh ayahnya yang bertubuh tinggi itu. Aiko berpaling cepat dan merasa canggung.


"Fufufu, udah baikan aja nih." Senggol Aila ke bahu Aiko dan melihat Aidan berjalan di samping Qila sambil bergandengan tangan. Aila sudah tak sabar, bagaimana reaksi adik kecil mereka melihat Ibunya masih hidup.


Kini mobil Rayden meninggalkan bandara dan menuju ke rumah mereka. Di dalam perjalanan, Qila membuka situs berita hari ini. Mencari perusahaan Wira setelah Aidan mengatakan itu adalah perusahaan ayahnya. Namun yang tertera di artikel paling atas adalah berita Hana yang dipenjara.


"Kau kenapa, Qila?" tanya Aidan yang melihatnya terkejut.


"Lihat, aku menemukan berita tentang seseorang. Dia mirip dengan ku, dan dikatakan dia telah melakukan kejahatan pada kecelakaan saudaranya sendiri." Qila menunjuk lalu membuka halaman berikutnya. Matanya pun melebar lagi.


"Qila? Tunggu, jangan bilang ini adalah aku?" Qila menunjuk dirinya. Aidan pun mengangguk dan menjelaskan semuanya tentang Hana. Qila menatap hapenya dan merasa sedikit gemetar. "Tenanglah. Kau tak perlu takut." Aidan memegang lengan Qila dan menariknya ke dalam pelukan.


"Dia adalah saudara kembar ku, tapi dia tega ingin membunuh ku. Apa yang sebenarnya aku lakukan dulu sampai dia berbuat seperti itu?" tanya Qila ingin tahu lebih banyak tentang masa lalunya. Meski terdengar menyakitkan, Qila tetap mendengarkan penjelasan Aidan bahwa Hana melakukan itu karena perasaannya yang iri terhadap keberhasilan Qila.


"Jadi, hanya itu saja?" Qila mulai menitikkan air mata. Sedih mengetahui sifat Hana yang jahat. Ia menepuk dadanya yang sakit dan sedikit sesak. Hanya mendengarkan sedikit saja, rasanya sangat menyakitkan. Apalagi kalau sudah mengingat semuanya, rasa sakitnya lebih besar. Aidan meraih kedua tangannya dan menenangkannya. Qila pun bersandar di dada Aidan dan mencoba mengatur emosinya.


Sedangkan Rayden, menyetir dengan santai di sebelah Aila yang tertidur, sementara Aiko, ia juga terlelap di sebelah Aidan. Tampak dua anak itu sangat lelah selama perjalanan hingga akhirnya tiba dengan selamat di rumah.


"Rafka, Rafka! Kemari," panggil Arum setelah mendengar suara klakson mobil suaminya di luar.


"Ada apa, Oma? Kenapa telliak panggil Lafka?" tanya Rafka datang dari kamarnya.


"Ayo, marilah, kita keluar dan melihat mereka,"


"Melleka? Dadi sama Kak Aila?" terka Rafka.


"Bukan cuma mereka saja, Ibu dan Kakak sulung mu juga ada bersama mereka." Arum menggandeng tangan mungil cucunya. Wajah Rafka berseri-seri dengan senyum yang merekah. "Ayo, Omah! Lafka mau lihat Momi!" Rafka menarik cepat Neneknya dan sudah tak sabar berjumpa dengan Qila dan Aiko.


Tiba di luar rumah, mereka berdua berdiri dan memandangi Rayden turun duluan. Kemudian disusul oleh Aila dan Aidan.


"Oma, ntuh cuma ada Dadi sama Kak Aila," lirih Rafka merasa kecewa dan sedih. Namun seketika matanya terpaku pada sosok wanita yang keluar melalui pintu bagian kiri mobil dan bocah laki-laki keluar dari sisi lain.


"Oma, ntuh-ntuh siapa?" tanya Rafka menunjuk dengan tangan gemetar dan mata yang berkaca-kaca.