
"Selamat datang, Tuan," sapa Bik Ida setelah membuka pintu dan menyambut kepulangan Rayden dan Aidan, lalu asisten itu kembali ke dapur membantu Keyra yang menyiapkan makan malam sesuai menu istri Evan itu.
"Dadiiiiiii! Yeah, Dadi dah pulang!" seru Aila, berlari ke arah sang kakek dan ayahnya. Memeluk kaki ayahnya, mendongak ke atas dan melihat tinggi Aidan yang hanya beda 2 cm dari Rayden.
"Aila, sudah tidur siang tadi?" tanya Aidan membelai rambut hitam Aila yang tebal dan panjang.
"Sudah, tadi tidull sama Aiko," jawab Aila, kemudian melihat Rayden berjalan pergi, mencari sang istri.
"Terus, Aila barusan dari mana?" tanya Aidan duduk di kursi dan beristirahat sejenak.
"Dalli bantu Aunty Keylla! Aila ballusan masak telull mata sapi, Dadi!" Jawabnya dengan ceria.
"Syukurlah, Aila sudah semakin besar dan sudah pintar bantu-bantu di dapur," puji Aidan mencium kepala putrinya.
"Hhi, hallus pintall dong! Aila hallus pintall masak sepellti Momi, biall Dadi sama Aiko bisa makan masakan dalli Aila," ucap gadis itu tersenyum riang.
"Hm, bagus. Dadi senang dan tidak sabar menunggu bagaimana rasa masakan Aila." Aidan balas tersenyum, kemudian menoleh.
"Oh ya, Momi dan Aiko di mana? Mereka ada di dapur?" Aidan berdiri.
"Sini, Dadi! Momi ada di kamall! Momi bikin sesuatu buwat Dadi." Tariknya memegang tangan Aidan, membawa ayah tampannya itu menaiki anak tangga.
Di kamar, Qila tampak merajut syal dan juga agar ia tidak memikirkan keanehan suaminya. Ia duduk di sebelah Aiko yang sedang belajar melalui tablet di tangan kecilnya. Saat Qila tengah fokus merajut, tiba-tiba Aiko meletakkan tabletnya dan memandang wajah Ibunya.
"Hm, kenapa berhenti, sayang?" tanya Qila.
Aiko maju, kemudian memeluk tangan Ibunya dengan manja.
"Kenapa, sayang? Aiko lagi bosan?" tanya Qila lagi.
Aiko menggeleng. "Momi, kata Dadi kemalin, Dadi sulluh Aiko jaga Momi," ucapnya dengan lirih. Qila mengusap lembut kepala Aiko dan tersenyum senang mendengarnya.
"Tellus,"
"Terus, apa?" tanya Qila.
"Tellus, Dadi bilang, Momi ndak boleh naik mobil hitam punya Kakek,"
"Hm, kenapa tidak boleh?" tanya Qila kembali dan sedikit terkejut.
"Aiko ndak tawu, Dadi cuma bilang itu saja," jawab Aiko.
"Ya udah, nanti Momi coba tanya ke Dadi kalian." Kecup Qila ke pipi Aiko. Belum ada satu menit, pintu kamar terbuka dari luar. Anak dan Ibu itu mengok cepat ke Aidan dan Aila yang masuk ke kamar.
"Aiko, ayok na keluall! Kita tulun bantu Aunty Keylla. Belajallnya udah dulu!" rengek Aila menarik tangan kakaknya.
"Yah, bentall dulu, Aiko halus simpan tabeletnya Momi!" Aiko berdiri, menaruh tabletnya ke atas meja kemudian mendekati Qila. "Momi, Aiko pelgi main di bawah." Mencium pipi Ibunya dan disusul Aila juga.
"Hati-hati turun tangga! Jangan saling dorong!" nasehat Qila sedikit teriak.
"Ya, Momi! Ndak pellu kawatill, hihi!" balas kedua anak kembar itu menutup pintu kemudian pergi. Membiarkan kedua orang tua mereka di dalam kamar hanya berdua saja. Mereka tahu, Ayah dan Ibunya butuh lebih banyak waktu bersama, serta mereka kurang nyaman kalau melihat orang tuanya bermesraan. Daripada jadi obat nyamuk, lebih baik pergi membantu Tante cantik mereka.
"Sayang..." lirih Aidan duduk di dekat istrinya.
Mendengar panggilan sayang dari suaminya, Qila menoleh cepat dan bertanya dengan canggung, "Hm, ada apa?"
Aidan memainkan kedua jarinya lalu dengan terbata-bata, ia berkata, "Kemarin, kau tidur sama siapa?" tanyanya ingin tahu. Qila berhenti merajut dan diam sejenak.
'Duh, kalau Aidan tanya begitu, artinya bukan dia yang tidur sama aku kemarin?' pikir Qila deg-degan, ragu dan bingung mau menjawab apa.
"Hm, marah? Maksudnya?" Qila mengangkat sebelah alisnya.
Aidan juga mengernyitkan dahi melihat Qila balas bertanya. Seolah-olah, Qila tidak mempermasalahkan dirinya tidak tidur bersamanya.
"Ah, lupakan saja! Sekarang aku merasa lega kamu dan anak-anak kita baik-baik saja di rumah," ucap Aidan meraih tangan Qila dan mengecupnya dengan manis, sedangkan Qila pun hanya tersipu malu.
"Oh ya, aku punya pertanyaan untuk mu,"
"Hm, apa?" tanya Aidan sambil mengganti pakaiannya.
"Itu, tadi Aiko bilang, katanya kamu larang aku pakai mobil hitam Papa, maksudnya itu apa?" tanya Qila selesai merajut.
"Huh, larang pakai mobil Papa?"
"Nggak deh, aku tidak pernah bilang begitu," ucap Aidan duduk kembali di samping Qila.
"Tapi, Aiko sendiri yang bilang, loh,"
"Hais, mungkin itu cuma mimpi darinya," kata Aidan.
"Kenapa diam, sayang?" Lanjutnya melihat Qila diam.
"Aidan, apa mungkin yang dikatakan Keyra itu benar, kalau roh kamu mulai bergetayangan?"
"Di mall, Aiko bilang kalau melihatmu di sana," kata Qila mengelus lengannya yang dingin dan sedikit merinding.
"Ihh, jangan ngawur deh! Jelas-jelas aku ini masih hidup!" cetus Aidan cemberut.
"Kalau begitu, Aiko kenapa bisa ngomong gitu?" tanya Qila semakin takut.
"Mungkin Aiko terlalu banyak menonton kartun dan mulai suka berimajinasi liar. Sebaiknya kita larang anak-anak menonton bersama Keyra. Kamu tidak usah takut, ini sering terjadi pada mereka." Aidan menenangkan Qila.
'Huft, mungkin kemarin, aku juga berhalusinasi!' batin Qila menghela nafas, kemudian tersenyum.
"Ya udah, kita pergi makan malam sekarang." Aidan berdiri, memakai syal buatan istrinya. Ia pun mengulurkan tangan dan dengan senang hati, Qila menerimanya. Keduanya keluar, pergi makan malam bersama anak-anak mereka dan yang lainnya dengan suasana harmonis.
"Keyra, apa kau tidak ada niat mengurus surat cerai, Nak?" Arum tiba-tiba bertanya di tengah makan malam mereka.
"Maaf, Ma. Untuk itu, aku masih bingung."
"Kenapa harus bingung? Sudah jelas Evan itu tidak beres! Sebaiknya kalian bercerai saja," kata Rayden serius.
"Dan menikah dengan pria lain, yang lebih mapan di luar sana," lanjutnya begitu enteng.
Keyra menunduk dan menghembus nafas kasar. "Maaf, Pa. Meskipun suatu saat aku cerai dengan Evan, aku sudah yakin tidak mau menikah lagi."
"Keyra, kalau kamu bilang begitu, kamu tidak bisa punya—"
"Mah, tolong, tidak usah bahas soal anak, aku tidak masalah kok dengan itu lagi. Sekarang di rumah ini sudah cukup dengan adanya kehadiran Aiko, Aila dan juga Rafka," ucap Keyra tersenyum getir, kemudian selesai duluan. Ia keluar, pergi ke kamarnya.
Aidan dan Qila hanya bisa diam. Mereka sadar, tidak bisa memaksa Keyra terus menerus. Tapi Arum, dia merasa sedih melihat putrinya belum mendapat kebahagiaannya. Namun hari demi hari berlalu, waktu bahagia mereka akan segera tiba dengan kelahiran baby Rafka yang tinggal menghitung jari.
.
🥺❤️