Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
54. PTWY 54 # Membawa Pergi



Di rumah baru sang manager, terlihat wanita tersebut mondar-mandir di depan Aidan. Ia diselimuti kekhawatiran karena Aidan sempat siuman tapi seketika pingsan lagi dan sampai sekarang belum juga sadar-sadar.


"Duh, bagaimana ini? Sudah berjam-jam berlalu, dia belum bangun, apa aku bawa ke rumah sakit saja? Ta-tapi aku juga tidak yakin." Wanita itu mendongak, melihat jam dinding menunjukkan pukul 12 siang.


"Aihh, gara-gara ini, aku tidak bisa masuk kerja! Lama-lama, aku pindah pekerjaan lagi!" gerutunya duduk di sofa, dan membuka kotak masuk di ponselnya. Ia pun kaget, karena semua orang di kantor sedang mencarinya, terutama Wira.


"Ya Tuhan, apa Pak Wira sudah sadar menantunya hilang?" Akibat dari itu, ia berdiri, mendekati jendela dan semakin cemas akan dianggap penjahat, sudah menyembunyikan menantu orang.


"Persetan dengan orang itu, lebih baik aku pergi membawa Tuan muda ke rumah sakit." Ia mengambil tas dan tak peduli lagi dengan perintah Bram. Namun, saat mau mendorong kursi roda Aidan, tiba-tiba ada yang menekan bel.


Siapa?


Dengan waspada, ia mendekati pintu dan membuka sedikit. Alis kanannya pun terangkat melihat pengantar paket datang ke rumahnya. Wanita itu pun berdiri di depan pria bertopi merah tersebut.


"Mohon maaf, seingatnya, saya tak pernah memesan bunga lewat online, Pak," ucap Wanita itu disodori seikat bunga.


"Memang bukan anda, tapi ada seseorang yang mengirim ini kemari, mohon diterima dan tanda tangan di sini," kata pengantar paket itu dengan sopan dan sedikit menunduk agar wanita itu tidak melihat wajahnya.


Manager itu menerimanya, dan maju ingin melihat rupanya, tetapi sang pengantar paket itu mundur ke belakang.


"Tolong, segera tanda tangan di sini, Mbak," ucapnya lagi.


Manager itu diam sejenak, mengamati buang di tangannya. "Hm, apa ini dari orang yang menyukai ku?"


"Kalau benar, berarti si pembohong itu tidak berbohong?"


Wajah sang manager tersipu malu memikirkannya.


"Kira-kira, siapa ya pengirimannya?"


Wanita itu mengambil secarik surat, dan isinya nama seseorang yang tidak lain milik sekretaris Rayden.


"Loh, ini kan namanya si—"


Akhhh!


Ia memekik kesakitan setelah pengantar paket itu memukul cukup keras bagian tengkuknya hingga jatuh pingsan. Pengantar paket itu membuka alat pita suaranya, dan juga topinya.


"Hufff, sekarang waktunya aku membawanya pergi sebelum suruhan Papa datang kemari." Bram masuk. Sebelum pergi, ia memeriksa kondisi Aidan dan benar saja, pukulannya itu terlalu keras sampai Aidan mengalami luka di kepalanya.


"Padahal aku kemarin sedikit pelan memukulnya, tapi tetap saja membuatnya terluka. Sepertinya, apa yang terjadi tetap akan sama seperti yang aku rasakan dulu." Bram mengeluh, segera memapah Aidan dan membawanya pergi.


"I-ini, apa maksudnya? Kenapa aku disekap di sini?" tanya wanita itu ketakutan. Sekretaris itu menggebrak meja kemudian menghempaskan foto-fotonya bersama si mantan Dosen.


"Tak usah memasang wajah bingung seperti itu, katakan saja, di mana kau sembunyikan dia?" tanya sekretaris.


'Dia? Maksudnya siapa? Tuan Aidan, atau si pembohong itu?' pikir manager tambah bingung.


"Hei, jawablah!" desak sekretaris membentak.


"Hei!" balas manager juga membentak, membuat sekretaris itu kaget, terutama Wira dan Rayden di balik kaca pengawasan, mereka berdua terkejut melihat sikap sang manager.


"Kenapa kau marah?" tanya sekretaris heran.


"Ya, iyalah, aku marah! Jujur saja, aku takut sama penjahat seperti kalian, tapi aku paling benci sama pria yang suka mempermainkan seperti mu!" kata manager menunjuk kesal.


"Ha? Mempermainkan? Kau sedang bicara apa, bodoh?" tanya sekretaris semakin terheran-heran. Apalagi Wira dan Rayden pun juga heran apa yang terjadi diantara bawahan mereka.


"Ishh, tak usah seperti orang amnesia! Jelas-jelas kau tadi mengirim ku buket bunga, dan sekarang kau malah mengirim ku ke ruangan ini," cerocosnya marah.


"Ini namanya, kau sedang mempermainkan perasaan ku!" ujarnya mengamuk dan maju ingin mencakarnya.


Sekretaris mundur sampai terpojok ke tembok.


"Hei, Pak! Aku tahu, aku ini emang cantik dan seksi, tapi gak usah pakai kirim bunga kalau mau bawa aku ke sini!" cerocosnya lagi.


"Sebentar, kau salah paham!" kata sekretaris, namun seketika ...


DUAK!


Menerima satu bogem dari wanita itu. Membuatnya kesabarannya habis.


"Hei! Wanita gila! Aku membawa mu ke sini ingin bertanya soal Dosen yang bersama mu, bukan ingin bertengkar!" balas sekretaris marah.


"Oh, kenapa sama dia? Kau cemburu?" tanya wanita itu mendengkus. Anak buah yang berjaga-jaga di pintu, merasa kebingungan mendengar obrolan mereka berdua. Seperti pasangan kekasih yang sedang cek-cok.


.


Selain, Ilmuwan, Dokter, Dosen, Pengantar Paket, Bram juga jadi Mak Comblang wkwk