Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
50. PTWY 50 # Memang Ada Dua



"Oma!"


"Aiko, syukurlah kamu ada di sini, tapi tadi Aiko pergi kemana, sayang?" Arum melebarkan kedua tangannya dan menerima pelukan cucu kecilnya.


"Tadi Aiko main di situ," tunjuknya ke arah bebatuan.


"Kenapa harus jauh-jauh, sayang? Kan bisa main di dalam," kata Kinan sambil mengelus dada, merasa lega tidak terjadi apa-apa pada cucunya.


"Ntuh, langit di sana cantik, telus Aiko ambil photo, Nenek," ucap Aiko menunjuk gugusan bintang di atas langit.


"Karena sudah aman, mari kita masuk, Ma," ajak Keyra sedikit kedinginan. Melihatnya menggigil, Raiqa pun melepaskan jasnya kemudian mengenakannya ke tubuh Keyra.


"Nih, kau pakai saja, tidak usah berterima kasih," kata Raiqa, membuat Keyra tertegun dan berpaling muka, agak tersipu. Mereka pun bersama-sama masuk ke dalam, kecuali Hana masih berdiri sambil matanya menelusuri area bebatuan.


"Hei, Hana! Buruan, jangan bengong di sana! Ntar kau diculik genderuwo!" teriak Raiqa.


"Iya! Tunggu!" balas Hana segera menyusul. 'Aneh, kemana Pak Brian? Apa mungkin sudah pergi?' gumam Hana. "Tidak, meskipun orang itu tidak muncul lagi, aku harus bicarakan ini pada Aidan!" Hana bergegas masuk ke dalam rumah dan mencari Aidan. Sedangkan yang lainnya melayani para tamu yang hendak bersiap pulang setelah mereka menyuruh Aiko naik ke kamarnya.


"Momi, Dadi sama Aiko kemana?" tanya Aila yang kini duduk bersila di tepi ranjang.


"Kita tunggu sebentar ya," kata Qila sambil mengikat rambut putrinya dan masih merasa gelisah.


Tiba-tiba, seseorang membuka pintu.


"Momi!" panggil Aiko datang sendirian dan berlari ke arah adiknya, serta memeluk Ibunya dengan erat.


"Aiko, dari mana saja, sayang?" tanya Qila.


"Nih, ambil Poto di lual tadi, Momi," jawabnya menunjukkan foto hasil tangkapannya.


"Kalau begitu, Aiko bareng siapa tadi?" tanya Qila.


"Sama Dadi," jawab Aiko jujur, mengejutkan mereka berdua.


"Dadi? Tapi Dadi balusan sama Aila," ucap Aila bingung.


"Dadi Aiko 'kan ada dua," kata Aiko lagi-lagi mengatakan kalimat aneh.


"Aiko, dengar sayang, Papa Aiko dan Aila cuma ada satu. Aiko berhenti bicara seperti itu, nanti Papa kalian bisa salah paham." Qila menasehati Aiko pelan-pelan.


"Tapi, Dadi memang ada dua, Momi," ucap Aiko bersikeras.


"Baiklah, mungkin Aiko terlalu capek hari ini, sekarang kalian sini ikut Momi cuci tangan dan kaki dulu, setelah itu, kalian harus istirahat."


"Mengelti, Momi." Angguk Aiko dan Aila berjalan ke kamar mandi bersama Qila. Setelah menidurkan dua anak kembarnya, Qila keluar dari kamar. Saat menutup pintu, tiba-tiba Hana sudah ada di sebelahnya.


"Heh, Qila, kebetulan kita bertemu di sini, ada yang mau aku bicarakan pada mu," ucap Hana melipat kedua tangannya di dada.


"Apa yang mau kau bicarakan?" tanya Qila tersenyum.


"Aku mulai curiga, apa benar kau hamil karena Aidan, atau dari pria lain?"


"Hana, aku tahu kau iri pada keberhasilan ku, tapi tidak usah menjatuhkan aku dengan fitnah mu itu!" kata Qila merasa sedih dituduh sembarangan.


"Pria lain? Siapa yang kau maksud?" tanya Qila sambil mengepal tangan dan menahan emosinya.


"Ck, kalau saja aku tadi membawa hape, aku sudah membuktikannya kepada mu, tapi aku yakin, pria yang bicara pada putramu di luar tadi adalah Pak Brian. Pria itu mengatakan sendiri, kalau dialah laki-laki yang telah menghamili mu," tutur Hana tersenyum smirk.


"Tidak, Hana! Kau salah besar! Aku tidak pernah mengenal Pak Brian sebelumnya, dan kau sendiri tahu, Pak Brian baru mengajar di kampus kita tahun lalu. Cukup hentikan, fitnah mu itu!" geram Qila marah.


"Ya aku tahu itu, tapi bisa saja kau telah dihamili olehnya setelah Papa membuang mu ke luar negeri," cibir Hana.


"Hana! Berhenti! Kata-kata mu itu terlalu menyakitkan! Papa tidak pernah membuang ku dan aku telah hamil sebelum pindah sekolah di luar negeri. Kau sudah keterlaluan, Hana! Aku benar-benar kecewa padamu! Hati mu selalu saja busuk!" ujar Qila ingin rasanya menampar mulut tajam Hana, tapi Qila sadar, dia sedang hamil dan tak boleh terpancing oleh kata-kata provokasi dari Hana. Tetapi seketika...


*Plak!


Qila memalingkan wajah setelah menerima satu tamparan dari Hana. Membuat saudara kembarnya itu terdiam membisu. "Busuk? Kau bilang aku busuk? Kau yang busuk, Qila! Aku muak, benar-benar muak melihat setiap saat kau dapat pujian dari orang-orang. Dari kecil, kau selalu caper, cengeng, sok polos, lugu, dan menjengkelkan. Padahal kau itu bodoh! Lebih bodoh dari belalang! Harusnya kau mati saja waktu jatuh dari wahana!"


*Plak!


Satu tamparan terdengar lagi, tapi bukan dari tangan Hana, melainkan dari Qila sendiri yang menamparnya.


"Hana, aku dulu juga cemburu padamu, tapi aku tak pernah membenci dan dendam padamu, aku justru senang memiliki saudara sepertimu dan tak pernah sekali pun aku berniat untuk mengalahkan mu. Dan kau tahu, aku lebih sayang dirimu daripada diriku sendiri. Buktinya, aku selalu patuh apa yang kau suruh dan menjagamu ketika sakit, sedangkan kau hanya mengabaikan aku saat berada kesulitan. Apa kau tak bisa memahami sedikit perasaan ku?" lirih Qila menepuk dadanya yang sakit. Lebih sakit dari tamparan Hana.


"Oh, sayang? Kalau memang kau sayang aku, ceraikan Aidan demi aku." Tatap Hana sambil memegang pipinya yang juga terasa sakit dan perih.


Qila menggelengkan kepala, tak habis pikir Hana meminta itu padanya. "Tidak, aku tak bisa memberikan kebahagian ini. Aku tak bisa menghancurkan kebahagian anak-anak ku demi saudara egois sepertimu," tolak Qila tegas. Kedua tangan Hana terkepal kuat-kuat, kemudian mendorong Qila ke tembok. Membuatnya meringis kesakitan.


"Qila! Jujur saja, kau sebenarnya dari awal telah hamil oleh pria lain, kan?"


"HANA, SUDAH AKU BILANG, HENTIKAN TUDUHAN MU ITU!" pekik Qila, mendorong Hana dan menjauh darinya saat melihat sorot mata Hana yang mengerikan.


Hana mendecak lidah, perlahan mendekati Qila yang ketakutan dan kemudian maju ingin balas mendorong Qila tetapi seketika....


*Plak!


Seseorang menampar tangan Hana sebelum menyentuh Qila. Kedua wanita kembar itu pun menoleh ke pria yang berdiri di samping mereka.


"Aidan?" ucap Qila dan Hana sedikit terkejut. Tapi sesungguhnya pria itu adalah Bram yang telah menyamar sebagai Aidan, alias telah menunjukkan wajah aslinya dan juga diam-diam memakai alat untuk mengubah suaranya.


"A—aidan, sebentar, kau jangan marah dulu, aku bisa jelaskan ini," ucap Hana terbata-bata kemudian menunjuk Qila. "Ka-kau harus tahu, Qila itu telah berselingkuh dengan pria lain! Dan orang itu adalah mantan Dosen kita, Pak Brian!"


"Dan aku tahu alasan kenapa dia pensiun, supaya hubungannya dengan Qila tidak dicurigai oleh orang lain!" Ujar Hana dan tersenyum smirk. Berpikir Aidan akan terkejut dan percaya, namun sebaliknya, Aidan menatapnya tajam dan sinis.


"Hana, kau tampaknya sudah mabuk parah. Pergilah dari sini, istriku tak baik berurusan dengan wanita liar seperti mu," usir Bram dengan lantang.


"Ta-tapi Aidan, percayalah! Aku mendengar sendiri Pak Brian mengaku sebagai ayah si kembar," ucap Hana lagi.


"Aku lebih percaya istriku daripada ucapanmu yang gila itu." Bram membawa Qila, meninggalkan Hana yang menunduk, ia merasa kecewa dan kesal dianggap bagai orang asing.


"Arghhh, kau memang bodoh, tunggu saja, kau akan menyesal telah menghinaku, Aidan!" Hana menendang tembok, kemudian pergi menghentak-hentakkan kakinya.


.