Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
64. PTWY 64 # Jasad Qila dan Aiko



Berita kecelakaan itu telah sampai ke telinga Rayden. Bos Rayzard itu bergegas ke rumah sakit untuk melihat dan mendengar secara langsung apa yang terjadi. Setelah mengetahui dari sekretarisnya, Rayden mencari istrinya.


Melihat Rayden datang, Arum berdiri, "Sayang...." Mendekati Rayden dan menunduk di pelukan suaminya. "Hiks, cucu dan menantu kita, Ray." Tak bisa mengontrol emosinya dan perasaannya setelah kehilangan kedua orang yang Arum sayang.


"Kita kehilangan cucu kita, Ray." Lirihnya sangat sedih. Rayden mengelus punggung Arum, menenangkan istrinya meskipun ia juga merasa terpukul.


"Bagaimana dengan Aidan? Di mana dia?" tanya Rayden.


"Aidan belum sadar, hiks." Arum menjawab dengan terisak.


Rayden semakin erat memeluk tubuh Arum yang bergetar. Merasa tersiksa dengan kematian Qila dan cucu pertama mereka. Wira, Kinan, dan Raiqa pun juga sama merasakan itu, tapi apa boleh buat, mereka harus menerimanya meski sangat menyakitkan.


"Padahal dia baru saja merasakan kebahagiaan, tapi kenapa kalian harus pergi secepat itu," kacau Raiqa di sebelah Keyra yang menggendong Aila, gadis kecil Qila yang sudah tak bisa menangis lagi. Air matanya sudah habis malam ini.


Keyra mengelus pundak Raiqa, dan melihat Aidan di dalam sana yang dirawat. Ia merasa, yang terjadi pada Aidan kini lebih parah dari dirinya. Walau ini berat, mereka harus menyiapkan pemakaman untuk mereka berdua setelah polisi mengkonfirmasi jasad Qila dan Aiko terbakar sampai habis bersama bangkai mobil.


"Tidakk! Istri dan anakku masih hidup, hentikan pemakaman ini!" pekik Aidan mengusir orang dari rumahnya yang sedang melakukan pengajian.


"Aidan, tenanglah." Rayden menghentikannya.


"Lepaskan! Kalian hentikan semua ini! Qila dan Aiko belum mati, Papa!" ucap Aidan menjerit. Aila yang melihat ayahnya mengamuk, ia berlari ke kamarnya, takut dan juga tak tahan.


Pada akhirnya, Aidan kembali pingsan. Orang-orang yang hadir merasa kasihan melihat Aidan belum terima kematian istri dan anaknya. Tak hanya dia, penggemar Qila pun juga merasakan kesedihan yang cukup dalam. Hari kedua, karangan bunga terus berdatangan di rumah. Aidan yang muak, mengambil dan membuang itu.


"Berhenti! Pergi kalian! Istri dan anak saya masih belum mati!" ujar Aidan marah. Membuat mereka mundur dan pergi sebelum dipukul oleh Aidan yang menakutkan. Arum yang melihat kejiwaan putranya, dengan terpaksa menyuruh beberapa orang membawanya untuk dikarantina. Oleh karena itu, Aidan dan Raiqa tak bisa lagi mengurus mesin waktu mereka. Tiga bulan berlalu, Aidan sudah tak mengamuk lagi, tapi melainkan diam seperti boneka. Ada raga, namun seakan tak ada jiwa.


"Dadi," pinta Aila yang juga diabaikan dan merasa sedih melihat ayahnya. Jangankan dirinya, Aidan saja tak pernah bicara pada Rafka. Ia menganggap dirinya, benar-benar payah dan lemah melindungi mereka.


—----——


Di sisi lain, tampak dua time traveller masih belum kembali ke masa mereka. Karena Black, ia sedang menunggu Bram yang tak pernah pulang setelah pergi pada malam itu. Ia pun mencoba mencari dalang dari kemacetan dan dengan alat pelacak buatan Bram, rupanya kemacetan itu sudah diatur oleh gangster yang bersekongkol dengan Hana.


"Heh, ternyata mereka dari perusahaan sialan itu," decak Black tambah kesal, sebab mereka di masa depan juga berurusan dengan perusahaan ayahnya. Mengetahui dalangnya adalah Hana dan gangster itu, Black tak sabar untuk kembali dan menyelesaikan semua.


Ia pun, mengambil daftar kontak Bram, menghubungi satu persatu nomor di sana dan akhirnya dapat satu kontak yang menghubungkan ke Bram.


"Halo, Aidan! Kau di mana sekarang?" tanya Black.


Bram terdengar diam, kemudian membuang nafas sedikit lelah. "Hei, jangan-jangan, kau gagal?" tebak Black.


"Yah, kalau gagal sih, berarti memang udah takdir—"


"Diam! Qila dan Aiko masih hidup," jawab Bram membentak.


Black tersenyum kecut, dan kemudian tertawa. "Haha, aku tak sangka kau sungguh datang ke sana," tawanya kesal.


"Ya, meskipun begitu, tapi kondisi mereka berdua masih sangat lemah," jawab Bram yang berada di sebuah rumah sakit kecil. Ia sedih melihat keduanya koma sampai sekarang. Terutama Qila yang sangat memprihatikan dan putra kecilnya yang mengalami luka yang cukup parah. Selain itu, Bram sedang bersiap membawa mereka ke rumah sakit lain untuk mendapat penanganan serius dan sekalian Bram ingin melaporkannya kepada Rayden posisi Qila dan Aiko berada.


Mengetahui niat Bram, Black mengepal tangan, ia kemudian tiba-tiba mengatakan untuk kembali ke masa depan dengan menggunakan mesin waktu hasil curiannya.


"Ya, sekarang aku mau kembali, tak hanya itu juga, aku harus memenjarakan komplotan sialan itu, aku juga tahu siapa dalang sesungguhnya dari kecelakaan ini," kata Black.


"Jangan, Evan! Tahan! Kita kembali bersama!" ujar Bram berdiri.


"Sayang sekali, aku tak suka menunggu, Aidan."


"EVAN!!" bentak Bram, namun Black menutup panggilannya.


"Akhh, bajingaan!" umpat Bram melirik Qila dan Aiko di dalam. Dia sekarang bimbang harus memilih apa. Jika ia biarkan Black memakai alat itu, tak ada lagi mesin yang bisa membawanya ke masa depan.


"Halo, Pak, anda baik-baik saja?" dokter datang untuk mengatur pemindahan Qila dan Aiko.


Bram menatapnya, memohon kepada Dokter untuk benar-benar menyelamatkan dan memastikan anak dan istrinya hidup sampai lima tahun ke depan. Dokter sedikit heran mendengarnya, tak paham, tapi Bram tetap mendesak Dokter untuk memastikan keduanya selamat sampai ia datang menjemput mereka.


"Dokter, saya titip mereka." Setelah itu, Bram ke tempat Black. Ia tak bisa sempat memberitahukan keberadaan Qila dan Aiko kepada Rayden.


"EVANNN! DASAR GILA, JANGAN KAU GUNAKAN MESIN INI!" Bram tiba malam ini dan mencegah Black untuk mengaktifkannya.


"Hei, tenang saja, ini sudah siap dipakai! Aku telah memastikannya!" ucap Black tersenyum smirk, berhasil memancing Bram kembali padanya. Bram mengepal tangan, memukul Black yang seenaknya. Sambil menunggu data penuh, mereka berdua bertengkar lagi seperti biasanya, tapi dengan menggunakan tangan kosong.


"Hahaha, jika kau tak mau ikut, tetaplah terjebak di sini, bangsaaat!" seloroh Black masuk ke dalam kaca pemindah.


"Sialan, kau yang bangsaat!" terjang Bram masuk ke sana dan mengayunkan tangan untuk memukul namun seketika kaca itu tertutup, membuat Bram terkejut melihat dirinya dikurung bersama Black. Hingga akhirnya, mereka berdua lenyap dari kaca itu. Ledakan dan getaran dari pemindahan mereka telah berhasil membawa ke masa depan. Tepat di mana mereka awalnya berpindah ke masa lalu.


Seketika Rayden yang datang mengecek tempat itu, terkejut diam melihat ada dua orang tiba-tiba muncul di depannya.


"Aidan? Evan? Mengapa kalian ada di sini?" tanya Rayden dan perlahan menyadari tindakan mereka yang telah memakai mesin waktu. Seketika wajah terkejutnya berubah masam dan kecewa.


Evan alias Black, bergegas kabur sebelum ditangkap oleh ayah mertuanya. Sedangkan Aidan alias Bram, berjalan cepat ke arah Rayden. Memohon kepadanya untuk menghentikan pernikahannya dengan Hana dan membantunya mencari Qila dan Aiko.


"Apa? Masih hidup? Kau yakin?" Mendengar cucunya masih hidup, Rayden tak jadi memarahinya.


"Ya, Pah. Ku mohon, ku mohon! Kali ini saja dengarkan ucapan ku. Aku tak gila, aku sungguh melihatnya sendiri mereka masih hidup!!" jelas Aidan tak menyadari suaranya yang kembali normal dan kepergiannya yang hanya memakai lima jam.


"Dan harus Papa tahu, Hana salah satu akibat terjadinya kecelakaan itu." Aidan sampai menangis-nangis agar Rayden mempercayainya dan menghentikan pernikahan dirinya dengan Hana yang akan berlangsung besok.


"Papa, ku mohon!"


"Ku mohon, dengarkan aku!"


Aidan berharap, Qila dan Aiko masih hidup. Lantas, bagaimana kalau mereka berdua telah meninggal?


.


🥺❤️Ayo buruan pastikan Aidan, sebelum Hana menjadi istrimu