Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
13. PTWY 13 # Karena Cemburu




...💗 Happy Reading 💗...


*BRAK!!


“Upss, sorry, Pak. Saya tidak sengaja.” Seorang mahasiswa tampak berlari dan menabrak Bram yang baru saja selesai mengajar di kelas Qila.


“Hm, tidak apa—” putus Bram karena mahasiswa itu berlalu pergi tanpa membantunya memungut semua buku yang berserakan di lantai. Melihat mahasiswa itu yang berpakaian mahal, tampaknya memang sengaja menabrak Bram.


“Astaga, hari pertama mengajar sudah disenggol mereka, tapi memang ini yang akan terjadi.” Bram lalu menghembus nafas panjang. Tiba-tiba ada tangan terulur dan mengambil buku-bukunya. Bram mengangkat dagu dan tertegun orang itu adalah Qila.


“Sini biar saya bawa sebagian, Pak,” ucap Qila menawarkan bantuan.


“Oh, terima kasih,” balas Bram dan tersenyum. Sedangkan Qila, cepat-cepat berdiri dan menunduk. 'Benar, suaranya mirip banget! Tapi wajahnya beda sekali,' batin Qila diam-diam melirik Bram yang berjalan di sebelahnya. Rasanya canggung berada di samping Dosen barunya.


“Hm, kau terlihat gugup, apa ada yang mau kau ucapkan? Atau yang mau kau tanyakan?” tanya Bram dan menoleh pada Qila. Ingin tahu apa yang ada di dalam hati istrinya itu.


“Tidak ada apa-apa, Pak. Saya cuma tidak sangka Dosen lama sudah diganti oleh anda,” ucap Qila menatap ke bawah.


“Yah, begitulah, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya, tapi maaf kalau cara pengajaran saya tadi agak kurang nyaman atau sulit ditangkap,” kata Bram tahu Qila kadang lambat memahami. Tapi sekarang, Qila sudah tidak terlalu bodoh seperti dulu. Nilainya makin membaik setelah masuk kuliah.


“Tidak kok, Pak. Saya masih bisa paham, yah tapi sedikit susah sih kalau membahas tentang teknologi modern. Ta—tapi saya tertarik dengan pembahasan soal ruang waktu dan konsep worm hole yang berhubungan dengan perjalanan waktu yang tadi anda jelaskan di kelas,” tutur Qila panjang lebar dan menunduk canggung.


Bram tersenyum tipis. Senang dapat melihat begitu manisnya sang istri tercinta. Sesuai prediksinya, seseorang tiba-tiba merebut buku di tangan Qila dan menariknya menjauh.


“Hm, Aidan, kenapa diambil? Aku 'kan lagi bantu Pak Dosen kita,” ujar Qila sedikit kaget suaminya datang tiba-tiba.


“Pak, saya orangnya menjunjung tinggi kedamaian dan rasa hormat kepada yang tua. Tapi kalau melihat istri saya dekat sama orang lain, itu sudah beda lagi. Jadi, lain kali, kalau mau caper, cari wanita lain saja.” Aidan menaruh bukunya di atas buku Bram kemudian menarik Qila pergi.


“Dihh, padahal Qila sendiri yang tawarkan dirinya, tapi yang disalahkan malah aku. Ck, rasa hormat dari mananya? Dulu kau kurang ajar sama ayah sendiri. Dasar sombong!” Gerutu Bram setelah mendapat ucapan pedas itu. Padahal Aidan adalah dirinya sendiri, tapi mendengar itu, membuat gendang telinganya panas.


“Aidan, berhenti!” Qila memekik. Aidan pun berhenti dan menatap Qila yang kecewa.


“Ada apa? Kau mau marah?”


“Iya, aku marah. Tidak seharusnya kau bilang begitu kepada Dosen kita. Aku memang yang ingin membantunya, bukan dia yang mau caper ke aku. Kau jangan langsung main tuduh dia, Aidan,” omel Qila.


“Jangan-jangan orang yang nabrak dia tadi, ulah anak buah mu, 'kan?” tambah Qila sempat melihatnya.


“Ya, emang, itu suruhan dari aku. Kenapa? Mau protes? Belain dia lagi? Lapor ke pihak kampus?” Tatap Aidan tajam.


“Ke—kenapa sih kau marah?” tanya Qila sedikit takut.


“Qila, aku marah itu karena cem—”


“Cemburu?” tebak Qila lagi.


Aidan berpaling, menyembunyikan rona pipinya. “Tidak, aku tidak cemburu kok, siapa juga yang cemburu sama pria tua itu,” elak Aidan karena gengsi mengakuinya.


Qila melirik Aidan tapi suaminya yang posesif itu terus berpaling. Terlihat lucu sekali kalau sedang cemburu.


“Kalau tidak cemburu, terus apa?” tanya Qila dan tertawa dalam hati. Aidan menghirup udara segar banyak-banyak kemudian menatapnya.


“Aku cuman ingin melindungi istriku, apa itu salah?”


Kali ini Qila yang merona dan menunduk cepat. “Kau tidak usah berlebihan, Pak Brian orangnya baik kok.” Berbicara lirih dengan nada kecil.


"Tidak, kau salah, dari wajahnya saja, dia orangnya ca—bul."


Qila tersentak kaget mendengar ucapan suaminya itu. Untung tidak ada orang di sekitar mereka jadi semua aman. “Auw... awu... kenapa kau cubit aku?” ringis Aidan menerima cubitan dadakan di lengannya meski rasanya cuma digigit semut.


“Ihh, yang muka ca—bul itu kau, Aidan.” Seloroh Qila menunjuk dan sedikit gemas. “Ya... kalau aku sih tidak masalah, toh, ca—bul ke istri tidak merugikan orang lain, yah ... itupun kalau di tempat tertutup, hehehe.” Senyum Aidan dengan gombalannya.


“Diih, apa sih, tidak jelas amat!” kata Qila mengejek Aidan.


“Tidak jelas begini, tapi kau cinta, 'kan?” Colek Aidan ke pinggang istrinya.


"Nggak!" sentak Qila kemudian berjalan pergi.


“Ohh, Qila, sungguh kejam ucapan mu itu. Sini aku beri kau pelajaran agar mata batin mu dapat melihat bagaimana dalamnya cintaku ini yang hanya untuk mu.”


“Hahahaha, ngomong apa sih dia,” tawa Qila berlari karena Aidan yang mengejarnya.


“Ihhh, jangan kabur kau kelinci kecil!” pekik Aidan dan dalam hatinya senang melihat Qila tertawa geli di sana. Itulah yang membuat Bram sedikit malu dan pergi, karena tidak tahan oleh kebucinan dirinya dulu. Tapi berkat kehadirannya, ada alasan Aidan dan Qila membangun hubungan dekat mereka kembali. Kini tinggal mengawasi perkembangan hubungan mereka dan juga mengamati kelakuan Evan. Masih ada waktu lama menuju ke hari kematian istrinya. Oleh karena itu, Bram akan sibuk kembali menciptakan mesin waktu, tapi kali ini akan memanfaatkan Aidan sebagai asistennya, dan itulah awal dia belajar menciptakan alat berbahaya itu di masa depan dengan jenis berbeda dari mesin waktu buatan Rayden.


Jam pulang ...


“Hei, Keyra, mana Evan?” tanya Aidan yang berdiri di dekat mobil bersama Qila.


“Dia pulang duluan,” jawab Keyra lesu sambil memandangi buket bunga di tangannya.


“Lah, katanya mau pulang bersama dengan mu, kenapa tiba-tiba dia tidak mengajak mu pulang?” tanya Aidan lagi.


‘Apa mungkin dia menghindar karena aku?’ pikir Qila sedikit was-was dan gelisah.


“Aku tidak tahu kemana dia pergi, sekarang kita pulang saja,” jawab Keyra lalu masuk ke mobil. Aidan dan Qila pun ikut masuk. Pulang bersama ke rumah. Tentu Evan sekarang berada di tempat terciptanya teknologi canggih yang dibuat oleh perusahaan Rayden. Suami Keyra itu tampak takjub memandangi tiga pedang di dalam kaca yang bisa berubah menjadi dadu kecil yang dikelilingi aliran data. Layaknya pedang aluminium yang keras dan bisa menebas apa saja.


“Woah luar biasa, siapa yang sudah menciptakan alat ini?” tanya Evan kepada ilmuwan perempuan di dekatnya. Yang bertugas menjaga dan membantu perkembangan alat-alat canggih di sana.


“Ini adalah temuan baru dari Pak Bos Rayden, Tuan Evan.” Ilmuwan itu menjawab berdasarkan informasi dari sang sekertaris.


Evan mendekati tabung di depannya. Menyipitkan matanya dan segera mundur menjauhinya.


"Anda kenapa, Tuan Evan?" tanya Ilmuwan itu.


"Itu, a—aku mau pulang dulu, kalau ayah mertua ku datang ke sini, tolong jangan bilang padanya." Evan mengambil tasnya, keluar dari tempat itu. Ilmuwan yang ditinggal, menggaruk kepalanya karena bingung melihat Evan ketakutan. Benar, Evan takut karena mengingat Black yang mau membunuhnya dan benda di dalam tabung kaca itu adalah senjata Black dan juga Bram.


Saat mau menaiki motornya. Tiba-tiba hapenya bergetar. Evan menerima pesan dari Aidan, menyuruhnya pulang ke rumah karena ada yang harus dibicarakan sekarang.


Evan yang masih disulut rasa ketakutan dan trauma tinggi, bergegas membawa motornya meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumah istrinya. Padahal niatnya mau menanyakan tentang mesin waktu, tetapi gara-gara ini, Evan melupakannya.


Di waktu yang sama, di ruang keluarga, semua berkumpul sambil menunggu Evan pulang. Tampak Qila di tengah-tengah mereka, terlihat gugup dan gelisah. Bimbang akan keputusan ayah dan ibu mertuanya.


.


Jujur saja Qila😆biar diurus sama Rayden tuh si ipar genit🤗