
"Dengar Evan, jika kau berani sentuh istri dan anak-anak ku, hidup keluargamu akan ku hancurkan semua," ancam Aidan tak main-main.
Plak!
Black menampar tangan Aidan, mundur dan tersenyum miring. "Oh tidak usah repot-repot, aku memang tidak akan menyentuhnya, tapi Keyra sendiri yang akan melakukannya untuk ku. Mungkin, malam ini akan ada kematian dari orang yang amat kau cintai," seringai Black jahat.
Jantung Aidan sontak berdegup lebih cepat dari biasanya. "Keyra? Ada kematian? Apa maksudmu, sialan!" Aidan maju ingin menghajar Black dengan tangan kosong, tetapi tiba-tiba Black melempar segumpal pasir ke wajah Aidan, membuat pandangannya terganggu.
"Hahaha, kita lihat saja, apa yang akan terjadi pada istri kesayangan mu itu."
"EVAAAAN!" Aidan memekik dalam ruangan itu. Kesal dan marah bercampur jadi satu setelah Black berhasil kabur.
"Arghh, gara-gara aku tak berlatih selama ini, dia berhasil lolos! Tidak, aku tidak akan biarkan sesuatu terjadi pada Qila. Saat ini, aku harus kembali ke sana." Aidan menyimpan senjatanya ke dalam saku setelah mengubah bentuknya menjadi dadu. Dengan kecemasan tinggi, Aidan menancap gas menuju ke tempat Qila berada. Sedangkan Bram, pria itu berhasil meringkus Evan di bar. Daya serangan Evan masih kalah jauh dari tenaga Bram.
"Hei, berengsek! Lepaskan gue!" ronta Evan diikat di tempat tertutup. Kini, Bram tinggal menyerahkan cowok itu kepada Rayden, untuk dipenjara dengan tuduhan pelecehan dan Bram berharap setelah Evan ditahan, keselamatan Qila aman. Bram yang berdiri di dekat jendela, ia menangadah ke atas langit dan memikirkan Qila. Ia tahu, malam ini, istrinya itu sedang dalam bahaya, tapi dalam ingatannya, Keyra tak mungkin bisa membunuhnya.
Yakin?
Benar! Saat ini, Keyra menangis di bahu Qila.
"Maafkan aku, Qi. Maafkan aku," tangisnya Keyra setelah Qila membujuknya. Tentu, sesama Ibu hamil, Qila tahu apa yang dirasakan Keyra saat ini.
"Qila! Keyra!" panggil Raiqa berhasil menemukan mereka. Begitupun Rayden dan Wira. "Papa," ucap Qila memeluk ayahnya. Sedangkan Keyra, tampak enggan, namun Rayden dengan cepat memberinya pelukan hangat.
"Syukurlah kau masih aman di sini," kata Rayden begitu takut terjadi sesuatu pada putri satu-satunya itu.
"Huwaa, Papa, maafkan aku." Keyra terisak-isak begitu lama dan perlahan semua hening.
"Om, cepat kita kembali ke Vila, Keyra saat ini sedang hamil dan dia pasti sedang kedinginan," ucap Qila tak sadar keceplosan.
"Apa? Hamil?" Rayden langsung mematung di tempat.
"Siapa yang menghamili dia?" tanya Rayden berusaha tenang. Namun mendadak syok lagi setelah mendengar jawaban Raiqa.
"Aku, Om! Aku akan bertanggung jawab!" sahut Raiqa. Membuat Qila tercengang melihat Raiqa mengambil kesempatan itu.
"Rayden! Lihat di kaki anak mu!" Wira berteriak dan menunjuk darah segar mengalir di kaki kanan Keyra.
Raiqa, Qila dan Rayden diam membisu.
"Hei, jangan cuma diam! Cepat kita berikan dia penanganan dulu!" Wira menuntun mereka keluar dari hutan segera mungkin sebelum hal buruk yang tak diinginkan terjadi pada Keyra. 'Ya Allah, mudah-mudah bayi Kak Keyra baik-baik saja.' Qila berharap Keyra tidak keguguran.
.
Oh my God! Selamatkan cucu mu Ray, cepat!🤧
Jangan lupa Like ya❤️
Terima kasih hehe
Maaf kalau akhir-akhir kadang telat update😅🙏