Precious'S TiMe With You, Baby!

Precious'S TiMe With You, Baby!
72. PTWY 72 # Papinya Vicen



Karena hari Minggu, Aila dan Rafka tidak pergi ke sekolah. Mereka berdua menghabiskan waktu mereka bersama Qila. Namun Aidan yang tak pergi bekerja, ia dengan setia berada di sisi istrinya yang sedang berusaha berjalan, sehingga Qila tak bisa meluangkan waktu banyak kepada tiga anaknya.


"Oma, kenapa ada di sini?" tanya Aila melihat Arum mondar mandir di depan aquarium.


"Oma juga kenapa cemas gitu?" tanya Aiko di sebelah Rafka yang sedikit bingung.


"Gini, Oma semalam coba telepon Kakek kalian, tapi selalu sibuk. Bahkan kontak Nenek dan Kakek Wira kalian juga sibuk. Oma jadi cemas pada Tante kalian yang gak ada kabarnya juga," ucap Arum.


"Kalau begitu, kita ke rumah Nenek Kinan, Oma. Sekalian juga kasih suprise untuk mereka," usul Aila.


Rafka mendekat dan menarik ujung syal Arum. "Oma, ayo pellgi ke lumah Kakek Willa," pintanya ingin ikut.


"Hm, Aiko juga setuju, ingin ke sana lihat mereka." Aiko pun juga ingin pergi karena cukup rindu pada keluarga Ibunya.


"Baiklah, kita pergi bersama-sama ke sana, tapi sebelum itu, di mana orang tua kalian?" tanya Arum mencari Aidan dan Qila.


"Itu, Oma. Dadi lagi ngajarin Momi jalan." Aila menunjuk ke arah Qila yang tampak masih belum bisa berjalan karena terkadang jatuh ke dada Aidan. Akan tetapi, Aidan terus memberinya semangat dan memegangnya dengan erat.


"Ya sudah, bilang kepada mereka, jam sembilan nanti kita ke rumah Kakek kalian,"


"Baik, Oma." Angguk mereka bertiga dan pergi memberitahukan kepada Aidan dan Qila. Padahal, sekarang rumah Wira sedang kosong, sebab Wira dan Kinan masih di rumah sakit bersama Raiqa. Sementara Rayden, Kakek si kembar dari Aidan itu tampak membantu Raiqa mencari tahu siapa penabrak putrinya yang sampai sekarang masih dalam kondisi koma. Sedangkan Evan, ayah Vincent itu tampak berada di ruang sebelah. Sama halnya belum sadarkan diri dengan kondisi yang amat memilukan. Ditambah lagi, Evan hanya dijenguk oleh kakak perempuannya dan tampak sekarang wanita itu sedang memarahi seseorang karena orang tersebut tak mau datang melihat Evan. Ia memutuskan panggilan itu dan menangisi adiknya yang selama ini masih tak dipedulikan oleh Ibunya. "Ibu, bahkan Evan sekarat pun saja kau masih tak mau melihatnya."


"Papi, Mami." Tangis Vincent di atas pangkuan Kinan. Dari kemarin bocah itu masih ketakutan akibat trauma pada kecelakaan orang tuanya. Melihat cucu ketiga Arum itu, Kinan seperti melihat dirinya di masa lalu. Mengingatkannya pada kecelakaan Aiko dan Qila.


Sontak, Wira datang menghampirinya.


"Kau kenapa, sayang?" tanya Kinan melihat wajah suaminya tegang.


"Apakah kau dan Rayden sudah tau siapa penabrak Keyra?" tanyanya lagi.


"Kinan, Rayden dan Raiqa sudah berhasil. Orang itu adalah mata-mata dari perusahaan yang mencelakai putri kita lima tahun lalu," jawab Wira.


"Kinan, Hana dan Bos dari perusahaan itu bersekongkol, dan sekarang polisi telah melakukan penangkapan kepada mereka. Dan lagi, Qi-qila dan Aiko ternyata masih hidup," jelas Wira dengan nada suara bergetar.


"Masih hidup? Dari mana kau dapat berita itu?" tanya Kinan setengah syok.


"Dari Rayden, kemarin mereka telah menjemputnya dan sekarang Qila ada di rumah, sayang." Tunjuk Wira ke layar handphonenya yang baru saja diaktifkan dan kini ia memperlihatkan kiriman foto dari Aila.


"Ya Allah, apakah ini benar?" Kinan semakin syok melihat Aiko telah besar dan Qila yang masih hidup. Air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya.


Kinan pun membawa Vincent ke ruang Evan.


"Ini siapa?" tanya Kakak Evan terkejut didatangi oleh orang tua Raiqa dan satu bocah mirip adiknya. Wira pun menjelaskan kalau Vincent adalah anak dari Keyra dan Evan.


"Tolong jaga dia sebentar," ucap Kinan tak tahu mau menitipkan Vincent ke siapa karena Rayden dan Raiqa masih di luar mengurus penangkapan pelaku kecelakaan Keyra.


"Baiklah, terima kasih." Vincent pindah di atas pangkuannya.


"Hei, Nak. Siapa nama mu?" tanyanya kepada Vincent.


"Vicen," jawab Vincent gugup dan takut.


"Hei, lihatlah, kau mirip dengannya. Apa kau tau, dia siapa?" Tunjuknya ke Evan dan bertanya ke Vincent.


"Papinya Vicen," jawab Vincent polos. Wanita itu tersenyum dan memeluk Vincent agar tak takut padanya. Vincent menunduk dan sekali-kali melirik sedih kepada ayahnya yang kini hanya bergantung pada alat pernapasan. Begitu banyak alat medis yang lain ada di tubuhnya.


"Tante, kapan Mami sama Papi Vicen bangun?" tanya Vincent mendongak dan terisak. Wanita itu menggelengkan kepala tak tahu kapan Evan sadar. Bahkan detak jantungnya pun sangat lemah.


.